oleh

Masuk Musim Kemarau Tapi Masih Diguyur Hujan, Dosen IPB: Saat Ini Masih Masa Peralihan Musim

BOGOR – Prediksi kemarau panjang yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mulai menjadi perhatian publik.

Namun, kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia yang masih sering diguyur hujan memunculkan pertanyaan, terutama di tengah isu El Nino yang disebut-sebut berpotensi kuat.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika iklim, khususnya karena Indonesia saat ini masih berada dalam masa peralihan musim atau pancaroba.

Menurutnya, awal musim kemarau tidak terjadi secara seragam di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, hujan yang masih turun tidak serta-merta menunjukkan bahwa prediksi kemarau panjang keliru.

Ia menambahkan, indikasi menuju kemarau tetap terlihat dari tren kenaikan suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah dan timur kawasan tropis.

Kondisi ini menjadi salah satu penanda berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia.

Berdasarkan proyeksi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang, dengan durasi mencapai sekitar enam bulan.

Selain itu, awal musim kemarau juga diprediksi datang lebih cepat dari biasanya, khususnya di wilayah Pulau Jawa.

Sonni menjelaskan bahwa kenaikan suhu muka laut di Pasifik dapat mengurangi pembentukan awan di Indonesia, sehingga curah hujan cenderung menurun.

Hal ini berkaitan dengan perubahan pola sirkulasi atmosfer tropis, khususnya Sirkulasi Walker, yang mengatur pergerakan udara dari barat ke timur.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa fenomena El Nino dan La Nina merupakan hasil interaksi kompleks antara laut dan atmosfer yang terjadi secara periodik, umumnya setiap 4 hingga 5 tahun sekali.

Terkait istilah “El Nino Godzilla” yang ramai diperbincangkan, Sonni menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada kategori super El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Dalam kondisi ini, suhu muka laut di Pasifik dapat meningkat hingga lebih dari 2,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.

“Fenomena serupa pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015 yang berdampak besar secara global, seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan. Meski demikian, ia menilai kondisi saat ini masih berada pada kategori lemah hingga moderat,” katanya melalui rilis yang diterima wartawan media ini Kamis (10/4/2026).

Dalam kajiannya, Sonni juga mengaitkan potensi penguatan El Nino dengan aktivitas sunspot atau bintik matahari.

Berdasarkan analisis data jangka panjang, El Nino kuat berpotensi terjadi setelah puncak aktivitas sunspot, yang diperkirakan terjadi pada 2025 dan dapat berdampak pada 2026.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kajian tersebut masih memerlukan penguatan data dan analisis lebih luas.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi serta memahami bahwa kondisi cuaca saat ini merupakan bagian dari proses transisi musim yang dinamis dan kompleks. (yopy)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *