oleh

KSAD Maruli Simanjuntak “Si Jenderal Air Bersih”, Alirkan Kehidupan ke Seluruh Pelosok Negeri

JAKARTA – Bagi anak-anak kecil di pelosok Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), air bersih selama puluhan tahun adalah sebuah kemewahan yang setara dengan emas. Saban hari, dengan wajah legam terbakar matahari, tangan-tangan mungil mereka harus memanggul jeriken plastik kosong. Mereka wajib berjalan kaki melintasi perbukitan batu sejauh tiga kilometer hanya untuk mengambil air keruh di dasar lembah.

​Krisis air bersih yang menahun ini bukan sekadar urusan tenggorokan yang kering. Ia turut memicu kemiskinan ekstrem, kelaparan, hingga tingginya angka anak kurang gizi atau stunting (tengkes).

​Potret muram di beranda depan sekat perbatasan negeri inilah yang mengetuk hati Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat pertama kali bertugas sebagai Pangdam IX/Udayana pada periode 2020–2022 lalu. Insting militernya melihat musuh nyata masyarakat pedalaman bukanlah konflik senjata, melainkan sebuah dahaga panjang yang tak kunjung usai.

​”Selama perjalanan di tentara, kita banyak ke daerah. Kita lihat banyak punya masalah: miskin, stunting, lahan tidak bisa dikelola dengan baik. Saya melihat akar persoalannya adalah air. Begitu air ada, efek domino positifnya langsung berjalan. Kesehatan membaik, sanitasi bagus, dan warga bisa membuka ladang pertanian,” ujar Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc, mengenang awal mula gerakan kemanusiaan tersebut.

​Teknologi Tanpa Listrik Melawan Kekeringan

Aksi nyata Jenderal Maruli dimulai dari bumi Flobamora. Alih-alih meluncurkan proyek megah yang membebani anggaran daerah, ia memutar otak mencari solusi taktis yang murah dan berkelanjutan. Pilihan akhirnya jatuh pada teknologi Pompa Hidram (Hydraulic Ram).

Teknologi mekanis ini tergolong cerdas karena mampu bekerja 24 jam nonstop tanpa menggunakan aliran listrik maupun bahan bakar minyak (BBM). Pompa memanfaatkan hantaman tekanan air (water hammer) dari sumber air yang rendah untuk menaikkan air ke wilayah pemukiman yang berada di atas perbukitan.

​Prajurit TNI Angkatan Darat mulai bergerak membelah perbukitan batu NTT. Menggunakan pipa High-Density Polyethylene (HDPE) sepanjang ratusan meter, air bersih dari sumber-sumber alam yang tersembunyi ditarik masuk, lalu dialirkan langsung ke bak-bak penampungan di tengah perkampungan warga.

​Ketika Maruli dipromosikan menjadi Pangkostrad hingga kini mengemban amanah tertinggi matra darat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dengan pangkat Jenderal penuh, gerakan senyap ini tidak meredup. Sebaliknya, inisiasi lokal tersebut langsung diadopsi menjadi program strategis nasional berskala masif bertajuk “TNI Manunggal Air”. Bantuan pengeboran air untuk rakyat jelata di pelosok Nusantara pun makin masif digelar.

​Hasilnya luar biasa. Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan Jenderal Maruli dalam Apel Komandan Satuan (Dansat) TNI Angkatan Darat Tahun Anggaran 2026 di Universitas Pertahanan (Unhan) Sentul, Bogor, pertengahan Mei ini, TNI AD telah berhasil membangun dan meresmikan akumulasi 7.217 titik sumber air di berbagai penjuru Nusantara.

​Bantuan sumur bor dan pompa air ini tersebar secara merata. Mulai dari kawasan gersang Gunung Kidul di Yogyakarta, pelosok Jambi, Pulau Nias, hingga wilayah rawan konflik di Intan Jaya, Papua. Atas kepedulian dan konsistensinya yang tanpa batas inilah, masyarakat di berbagai daerah pelosok sepakat menyematkan julukan terhormat bagi dirinya: “Jenderal Air” atau “Bapak Air”.

​Urat Nadi Pertanian

Kini, program TNI Manunggal Air tidak lagi sekadar untuk pemenuhan kebutuhan air minum dan sanitasi warga. Jenderal Maruli menggeser arah program ini untuk menopang sektor ketahanan pangan nasional. Pasalnya, lebih dari 50 persen lahan pertanian di Indonesia saat ini masih berstatus sawah tadah hujan yang rawan puso saat kemarau tiba.

​Pembuktian perluasan fungsi ini salah satunya terwujud di tanah kelahiran leluhurnya, wilayah Toba dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Bekerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga filantropi, Jenderal Maruli belum lama ini meresmikan 50 titik sumber air bersih serentak di Desa Tarabunga, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba.

Proyek ini didesain khusus menggunakan sistem sumur bor dalam (deep well) untuk mengairi ratusan hektare sawah kering milik petani lokal agar mereka bisa panen sepanjang tahun.

​”Keberadaan 50 titik sumber air bersih ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam hal sanitasi dan produktivitas pertanian. Di wilayah Toba ini baru langkah awal, kita akan lakukan terus,” tegas Maruli di hadapan ratusan warga Toba yang tampak berkaca-kaca menyaksikan air jernih menyembur dari perut bumi.

​Tidak hanya urusan sumur bor, visi lingkungan hidup sang Jenderal juga menyasar penyelamatan Danau Toba yang mulai dikepung gulma eceng gondok dan sampah domestik. Di bawah instruksinya, para prajurit TNI AD berhasil menciptakan Perahu Ponton Pengangkut Sampah secara mandiri. Tiga unit perahu inovatif berbiaya murah ini langsung dihibahkan kepada Pemkab Toba, Samosir, dan Simalungun demi menjaga kelestarian ekosistem danau vulkanik tersebut.

Banyak pihak bertanya-tanya, bagaimana mungkin TNI Angkatan Darat mampu membangun hingga ribuan titik sumber air bersih di tengah ketatnya alokasi anggaran negara? Di hadapan ribuan perwira TNI saat Apel Dansat 2026, Jenderal Maruli blak-blakan membuka rahasia dapurnya. Kuncinya terletak pada penerapan manajemen logistik tempur dan pemangkasan biaya operasional (overhead cost) melalui kekuatan jaringan teritorial tentara.

​”Kita harus jujur, TNI AD memiliki power dalam arti positif. Kita punya jalur komunikasi yang baik dengan banyak elemen: BUMN, perusahaan swasta melalui dana CSR, lembaga zakat, hingga yayasan kemanusiaan. Itulah yang membuat seluruh proyek ini berbiaya sangat rendah (low cost),” ungkap Maruli.

​Ia mencontohkan taktik pengiriman material pompa dan pipa HDPE ke wilayah pedalaman Timika, Papua. Jika menggunakan jalur kargo komersial konvensional, ongkos kirim satu kontainer bisa membengkak hingga puluhan juta rupiah. Namun, TNI AD memilih jalur diplomasi sektoral dengan mengetuk pintu perusahaan pelayaran nasional untuk menumpangkan kontainer material air di kapal logistik mereka secara cuma-cuma.

Dengan ongkos kirim yang berhasil ditekan hingga nol rupiah, anggaran dari para donatur dan yayasan pun bisa dialokasikan murni seratus persen untuk membeli material teknis berkualitas tinggi, bukan habis untuk biaya transportasi di jalan.

​Di lapangan, para Bintara Pembina Desa (Babinsa) bertindak sebagai ujung tombak sekaligus manajer lapangan. Tanpa pamrih, para prajurit ini bahu-membahu bersama warga desa menembus lebatnya hutan, melakukan survei titik air secara swadaya, hingga menggotong pipa-pipa besi berat menaiki tebing curam.

​Lewat program TNI Manunggal Air, Jenderal Maruli Simanjuntak telah mengirimkan pesan kuat kepada publik: esensi tertinggi dari kedaulatan pertahanan negara adalah ketika tentara hadir di tengah kesulitan rakyat dan menjadi solusi konkret bagi mereka yang lemah. Air yang mengalir dari sumur-sumur bor TNI bukan sekadar penghilang dahaga, melainkan simbol hadirnya negara demi masa depan generasi bangsa yang lebih sehat dan sejahtera. (aga/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *