POSKOTA.CO– Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengungkapkan, penggunaan kontrasepsi mengalami penurunan yang cukup drastis selama masa pandemi Covid-19.
Hal ini berdampak pada meningkatnya jumlah ibu hamil secara signifikan.
“Jumlahnya tidak sedikit, di tingkat nasional, persentase kehamilan tidak dikehendaki mencapai 17,5 persen. Artinya, setiap 100 orang hamil, yang tidak disengaja hamilnya adalah 17. Salah satu akibatnya adalah kurangnya akses Pasangan Usia Subur terhadap pelayanan kontrasepsi,” kata Hasto dalam launching aplikasi “klikkb” dalam rangkaian kegiatan “Hari Kontrasepsi Sedunia” di Jakarta.
Menurut dia, penyebab berkurangnya penggunaan alat kontrasepsi antara lain seperti kekhawatiran akseptor KB untuk menggunakan fasilitas kesehatan, adanya provider yang tidak membuka layanan serta terhambatnya menuju tempat pelayanan karena PSBB.
Untuk itu, pelayanan kontrasepsi kepada Pasangan Usia Subur harus terus dilakukan untuk memenuhi tujuan perencanaan keluarga yaitu menunda kehamilan, menjaga jarak antar kelahiran dan mengakhiri kesuburan.
“BKKBN dengan inovasi-inovasi yang baru kita mempunyai prinsip dengan cara baru di era yang baru untuk generasi baru karena BKKBN menyadari bahwa mayoritas yang menjadi target penting untuk menciptakan generasi yang unggul untuk Indonesia maju adalah generasi yang lahir dan berusia 40 tahun kebawah”, ujar Hasto.
Sebagai salah satu upaya untuk menjangkau PUS agar terakses informasi, kemudian mendapatkan pelayanan kontrasepsi dan menjaga kesertaannya, BKKBN mengembangkan sebuah aplikasi yang dinamakan “klikkb”.
Aplikasi ini akan menghubungkan secara langsung antara akseptor KB dengan bidan dan memungkinkan akseptor mendapatkan informasi secara interaktif atau konseling dalam aplikasi ini.
Menurut Hasto, komitmen bidan sungguh luar biasa, “Kami ucapkan terima kasih kepada bidan seluruh Indonesia karena kita sering ber slogan ada bidan ada KB, ada KB ada Bidan. Pelayanan KB, 70% dikerjakan oleh para bidan yang tersebar dieluruh Indonesia.”
Pada kesempatan yang sama, ketua IBI Pusat Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes mempraktikkan sambal memandu penggunaan aplikasi klikkb kepada 2.000 bidan yang hadir secara virtual. Emi menghimbau kepada seluruh bidan agar memanfaatkan aplikasi ini agar dapat berinteraksi dan berkomunikasi kepada pasien-pasiennya.
Dalam aplikasi ini tersedia layanan live chat dengan provider, informasi tempat pelayanan KB, alarm pengingat baik bagi provider maupun akseptor untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi ulangan.
Sebelum mendapatkan pelayanan, peserta KB dapat membuat janji terlebih dahulu sehingga meminimalisir waktu tunggu.
Upaya ini juga diharapkan membantu akseptor dalam mendapatkan alarm pengingat saat meminum pil KB setiap harinya.
Hal ini dilakukan untuk menghindari Drop Out atau putus pakai kontrasepsi yang persentasenya masih cukup tinggi khususnya pada kontrasepsi jangka pendek. Selama 3 bulan terakhir saja, angkanya mencapai 10% dari 36 juta pasangan usia subur yang putus kontrasepsi. (fs/sir).







Komentar