oleh

Kecepatan Berita Berbuah Petaka

MEDIA sekarang ternyata lebih mengagungkan kecepatan berita. Demi kecepatan penayangan sebuah kejadian atau peristiwa di media sampai melupakan hakikat dari jurnalisme yakni verifikasi fakta serta lupa menjalankan rumus dasar pembuatan sebuah berita: check and recheck! Pegangan sangat jurnalisme itu dilupakan bahkan hanya jadi panjangan belaka di etalase ruang redaksi.

Wartawan sekarang malah untuk terjun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP). Mereka lebih suka asyik bertukar informasi melalui
smartphone. Ketika sepi berita atau sudah mencapai target perolehan berita maka mereka mulai meluncur di media sosial ya Twitter, Facebook atau Instagram atau janjian dengan sang pacar atau siapa pun untuk cek film baru dan nongkrong di Twenty One. Atau paling apes-apesnya di kafe atau warung mi pinggir jalan!

Wartawan kerap terkadang malas untuk mendapatkan berita dari sumber lingkaran pertama. Saya bersyukur teman-teman di Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) ketika menerima calon anggotanya selalu menekan pentingnya wartawan mencari sumber lingkaran pertama. Dengan mendapatkan sumber lingkaran pertama maka banyak fakta yang diperoleh dan lebih akurat. Wartawan sekarang lebih suka mencari sumber-sumber di luar sumber lingkaran pertama. Lebih suka mengutip pakar anu atau pengamat anu dan seterusnya. Akhirnya berita wartawan hanya berisi dari satu pendapat atau komentar satu ke komentar atau pendapat lainnya.

Malas mencari sumber lingkaran pertama ini bisa berbuah petaka. Masih ingat skandal penemuan pesawat Adam Air KI 574. Pesawat tersebut yang dilaporkan hilang pada 1 Januari 2007 di atas Kawasan bagian selatan dan barat Pulau Sulawesi. Pesawat yang memuat 96 penumpang dan enam awak itu hilang dalam perjalanan Surabaya-Manado.

Sehari setelah dikabarkan hilang, tiba-tiba saja seluruh media melaporkan kabar baik. Informasi itu menyebutkan bahwa reruntuhan
pesawat Adam Air KI 574 telah ditemukan dan jatuh di daerah pegunungan di Desa Rangoan, Kecamatan Matanga, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Menurut informasi itu, bangkai pesawat yang hancur ditemukan warga sekitar dan aparat gabungan pukul 09.00 waktu Indonesia bagian tengah.

Kabar itu menjadi headline di hampir semua media di Indonesia. Malah, diberitakan juga bahwa sebanyak 90 penumpang dan awak dinyatakan tewas. Sedangkan 12 orang lainnya masih belum jelas nasibnya. Kabar soal 12 orang yang belum jelas ini memunculkan kegembiraan terutama bagi keluarga korban. Masih ada harapan. Sebab, bisa jadi di antara 12 orang itu adalah keluarga mereka. Optimisme pun merebak. Karena bukan sesuatu yang mustahil sebab dalam setiap musibah bukankah intervensi “campur tangan Tuhan” kerap terjadi. Mujizat itu nyata!

Parahnya lagi penemuan lokasi pesawat Adam Air KI 574 itu pun dibenarkan aparat kepolisian Polda Sulawesi Selatan dan Kodam VII/Wirabuana. Kepala Penerangan Polwil Parepare Komisaris Besar Genot Haryanto mengatakan, pesawat itu ditemukan warga Bersama aparat gabungan pada Selasa, 2 Januari 2007 pagi.

Keesokan harinya pada 3 Januari 2007, rombongan SAR TNI, Polda, pemerintah daerah setempat serta para wartawan berbondong-bondong melakukan pencarian ke lokasi tersebut. Apa yang terjadi kemudian. Ternyata berita penemuan reruntuhan pesawat Adam Air KI 547 itu hanyalah kabar bohong! Belakangan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Makassar Pertama Eddy Suyanto membantah informasi penemuan reruntuhan pesawat Adam Air KI 547 itu. Kedua pejabat itu pun lalu menyampaikan permohonan minta maaf.

Kasus Adam Air itu terjadi akibat mengejar aktualitas dan ‘kegenitan’ pengelola media untuk menjadi yang paling duluan menyampaikan breaking news; merasa media gue yang paling hebat karena lebih dulu dapat berita ini atau itu. Media lain –maaf– kalah aktual lho! Media berlomba-lomba menyajikan berita paling baru. Parahnya lagi, demi keterbaruan itu pengelola media mengabaikan keakuratan data sekaligus melabrak rumus dasar pembuatan berita: lupa menjalakan check and recheck. Akhirnya berita yang memberi harapan soal pesawat Adam Air yang hilang itu belakangan tidak lebih dari pepesan kosong belaka alias berita bohong atau hoaks. Pembaca kenal kibul dan hanya bisa gigit jari! Tragisnya lagi tak ada sepatah kata maaf dari media kecuali RCTI yang tanpa malu-malu meminta maaf karena telah ikut menyebarkan berita bohong tersebut.

Di balik kejadian Adam Air itu setidaknya menjadi catatan bagi pengelola media bahwa media di Tanah Air belum bekerja secara
profesional karena itu tadi tidak melakukan check and recheck. Tidak ada alasan kendala waktu dan sumber yang mengabarkan penemuan pesawat tersebut itu cukup kredibel tidak otomatis mengurangi kehati-hatian media dalam menjalankan pengecekan data di lapangan.

Di tengah bejibunnya informasi ditambah kompetisi media yang semakin keras dan saling sikut itu seharusnya pengelola media terutama media arus utama tetap menjaga aktualitas tanpa harus mengabaikan proses klarifikasi secara terus-menerus. Inilah betapa pentingnya wartawan mengejar sumber pada lingkaran pertama tadi. Wartawan bukan dewa yang serba tahu. Wartawan juga manusia yang bisa tergelincir jatuh dan salah. Media tidak bisa sekadar mengatakan bahwa mereka hanya meneruskan apa yang ada di narasumber lho. Langkah klarifikasi menjadi sesuatu yang sangat penting karena esensi dari jurnalisme itu adalah verifikasi.

Ya jangan sampai terjadi berita bohong seperti dalam kasus Adam Air KL 574. Ingat keledai tidak jatuh dua kali pada lubang yang sama.
Wartawan bukan keledai kan? Wartawan seperti kata guru saya AM Hoetasoehoet mempunyai konsepsi kebahagiaan, hati nurani, peralatan jasmani dan rohani. Dengan semua itu, wartawan seharusnya bisa lebih bijak dan mawas diri dong. (norman meoko)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *