oleh

Dari Panggung SNF 2022, Kemenkominfo Edukasi Pengguna Medsos untuk Optimalkan Penggunaan Konten

POSKOTA.CO – Pesatnya perkembangan media sosial tidak bisa dilepaskan dari keberadaan konten. Konten yang menarik dapat membuat akun media sosial kita mendapat perhatian banyak orang. Melalui konten pula, seseorang dapat memberi pesan dengan bebas pada khalayak yang juga senang terhadap isi-isi pesan pada konten tersebut.

Namun, media sosial sebagai ruang berekspresi seringkali memunculkan konten-konten negatif yang tidak tersaring dengan baik.

Mengantisipasi hal tersebut, dibutuhkan konten-konten yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, sehingga para pengguna media sosial di Indonesia perlu belajar cara mengoptimalisasi konten yang tidak hanya berkualitas dan bermanfaat namun bahkan dapat memberikan keuntungan bisnis (cuan) bagi kreatornya.

Karena itulah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan Siberkreasi Netizen Fair (SNF) di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta pada Sabtu (10/12/2022). Kegiatan tersebut merupakan puncak selebrasi kegiatan literasi digital yang meliputi talkshow, workshop, dan hiburan untuk seluruh warganet Indonesia

Rangkaian kegiatan SNF 2022 meliputi 10 kelas workshop tematik di tiga ruang kelas terpisah, yaitu kelas A, B, dan C, serta talkshow Obral-Obrol liTerasi Digital (OOTD) yang terbagi menjadi 6 sesi di panggung utama. Berlangsung secara paralel dengan kegiatan di panggung utama, sesi workshop merupakan sesi pembelajaran hands on meliputi kelas kreasi konten, kelas gali ilmu, kelas UMKM Makin Cakap Digital, kelas cek fakta, dan kelas produksi podcast yang dibawakan oleh para praktisi teknologi digital.

Kelas workshop B terbagi dalam tiga sesi yang membahas tiga topik, yaitu Kelas Cek Fakta, Kelas Produksi Podcast, dan Kelas Kreasi Konten berjudul “Level Up Content Biar Cuan”.

Septiaji Eko sebagai Dewan Pengarah Siberkreasi dalam materinya menjelaskan bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan media sosial, percepatan informasi di internet juga menjadi sebuah persoalan yang perlu disikapi dengan serius. Tsunami informasi yang seolah tidak berhenti menjadi pisau bermata dua yang mampu menjadi jurang bagi khalayak sehingga terjerumus pada kekeliruan dalam menerima informasi.

Menurutnya, gangguan informasi terdiri dari tiga jenis yaitu misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Misinformasi terjadi ketika adanya informasi yang salah, disinformasi merupakan fenomena di mana seseorang menyebarkan informasi yang salah, dan  malinformasi adalah manipulasi informasi yang bisa berupa fakta atau tidak yang dilakukan seseorang dengan tujuan merugikan orang lain.

Lebih lanjut, Eko memaparkan langkah-langkah teknis serta teoritis untuk melakukan verifikasi terhadap kebenaran suatu informasi, salah satunya dengan mengakses situs cekfakta.com. Website milik Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) tersebut mampu menganalisis kebenaran informasi yang telah didukung oleh Google News Initiative.

Eko juga menjelaskan kepada para peserta mengenai dua langkah dalam menyeleksi informasi di internet. Langkah pertama dengan melakukan verifikasi konten editan dan foto, langkah kedua adalah verifikasi video dan lokasi.

Pada Kelas Produksi Podcast, Rizki Ardi Nugroho, seorang podcaster menyampaikan podcast merupakan media audio yang bisa didengarkan dengan streaming ataupun diunduh di platform podcast. Keunggulan podcast sehingga menjadi konten yang banyak digemari kalangan Gen-Z adalah bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja, konsep yang akrab dan personal, mudah diakses, dan mampu menciptakan imajinasi pendengar, dan tentunya dapat meraup profit.

“Hanya dengan modal bercerita, handphone sebagai alat utama, dan riset kecil-kecilan agar konten yang kita perdengarkan berbobot dan bermanfaat. Saya yakin semua orang bisa melakukannya,” ungkap Rizki.

Pembahasan lebih dalam terhadap pemanfaatan konten dengan tujuan profit, menjadi topik dalam sesi Kelas Kreasi Konten “Level Up Content Biar Cuan!”.  Ibob Tarigan yang juga adalah seorang Konten
Kreator menuturkan alasannya terjun ke dalam dunia konten kreator yang telah menjamur di media sosial yang salah satunya adalah cuan (profit).

“Jaman sekarang, hampir segalanya bisa dijadikan uang, hampir semua passion punya industri yang bisa dijadikan jalan untuk berbisnis,” terang Ibob.

Ibob meneruskan, konsentrasi para konten kreator saat ini cenderung fokus pada traffic dan algoritma. Hal itu tidaklah dilarang, akan tetapi seorang konten kreator tidak boleh luput memikirkan personal
branding dan kualitas konten yang dibuat. “Jika traffic dan algoritma akan memberikan adsense (Iklan), maka kualitas dan personal branding akan mengundang daya tarik bagi brand-brand untuk melakukan kontrak bisnis dengan kita, yang dapat menjadi opsi pemasukan selain adsense sehingga konten kita lebih dikenal oleh khalayak,” jelasnya. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *