oleh

Bakamla RI Gelar Rakernis Perumusan Strategi Kamla

-Nasional-33 views

POSKOTA.CO – Dalam menyamakan pola pikir, pola sikap dan pola tindak diantara seluruh pemangku kepentingan di laut terkait keamanan dan keselamatan laut perbatasan laut Andaman, Direktorat Strategi Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) yang dilaksanakan melalui video conference (vidcon) di Ruang Serba Guna Mabes Bakamla RI, Jl. Proklamasi No. 56, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/11/20).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Deputi Kebijakan dan Strategi (Jakstra) Bakamla Laksda Bakamla Tatit E. Witjaksono, S.E., M.Tr (Han) yang diwakili oleh Direktur Strategi Keamanan Laut Laksma Bakamla Joko Sutrisno, M.Si. (Han).
Adapun kegiatan Rakernis mengangkat tema, “Sinergitas Pengelolaan Keamanan dan Keselamatan pada Wilayah Perbatasan Indonesia di Laut Andaman”.

Dalam perhelatan ini, tampak hadir dalam Vidcon dua narasumber dari Fungsional Diplomat Ahli Muda Direktorat Hukum dan Perjanjian Kewilayahan Kementerian Luar Negeri Rama A. Kurniawan dan Asdep Koord Kekuatan Kemampuan dan Kerjasama Pertahanan Kemenko Polhukam Brigjen TNI Suparjo. Menunjang kelancaran jalannya Rakernis, kegiatan ini dipandu oleh Kepala Subdirektorat Kerjasama Dalam Negeri Kolonel Bakamla Eli Susiyanti, S.H., M.H., M.M.

Dalam sambutan Deputi Jakstra yang dibacakan oleh Laksma Bakamla Joko Sutrisno mengatakan bahwa salah satu wilayah laut Indonesia yang perlu menjadi perhatian adalah wilayah laut Andaman. Secara geografis, laut Andaman merupakan wilayah laut yang menjadi bagian dari Samudera Hindia yang berbatasan dengan beberapa negara asia seperti India dan Thailand. “Selain memiliki nilai strategi bagi Indonesia, laut Andaman juga memiliki pontensi ancaman yang dapat mengganggu stabilitas keamanan laut Indonesia,” jelas Laksma Bakamla Joko Sutrisno.

Lebih lanjut dikatakannya, beberapa potensi ancaman keamanan yang dapat membahayakan stabilitas keamanan nasional Indonesia dari dan atau melalui laut Andaman antara lain terkait dengan imigran ilegal etnis rohingya, peredaran narkotika dari kawasan segitiga emas (golden triangle), maupun penyelundupan komoditas tertentu dari negara – negara tetangga.(rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *