oleh

Ada Program Amnesti, PMIB di Oman Diminta untuk Mendaftarkan Diri

-Nasional-108 views

POSKOTA. CO – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Muscat mendorong Pekerja Migran Indonesia Bermasalah (PMIB) di Oman untuk mendaftarkan diri. Ini dilakukan sehubungan dengan program amnesti 2020 yang telah diumumkan Pemerintah Oman (periode 15 November – 31 Desember 2020).

Bahkan saat ini KBRI Muscat juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Oman, Kementerian Perburuhan Oman, dan Royal Oman Police (ROP). Untuk publikasi, KBRI Muscat juga membuat pengumuman resmi di berbagai kanal (media sosial, media setempat, dan kanal lainnya, termasuk komunikasi langsung melalui hotline+96896000210) untuk menjangkau PMI sebanyak-banyaknya.

Sekretaris Satu, Heri Yulianto SH.MH, yang juga sebagai Protokol Konsuler Sattul mengakui memang saat ini sejumlah PMIB bermasalah mendaftarkan diri. Bahkan pihaknya juga sudah mengumumkan melalui media sosial, media setempat, dan kanal lainnya, termasuk komunikasi langsung melalui hotline+96896000210).

“Untuk menjangkau semakin banyak pendaftar, KBRI Muscat juga melaksanakan sosialisasi ke berbagai daerah di Oman yang menjadi kantung-kantung keberadaan PMIB. KBRI Muscat menekankan bahwa PMIB yang akan ikut program amnesti akan dibebaskan dari denda,”kata Heri Yulianto, pada pres releasenya.

Menurutnya Kementerian Perburuhan Oman, saat ini diperkirakan terdapat 826 orang PMIB di seluruh Oman. Mereka tersebar di berbagai kota, seperti Muscat, Salalah, Sur, Nizwa, Ibri, dan Buraimi.

Makanya untuk menarik sebanyak-banyaknya pendaftar, KBRI Muscat bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri RI akan menyediakan tiket pesawat gratis bagi PMIB yang mendaftar selambat-lambatnya 4 Desember 2020.

“Hingga saat ini ada sebanyak 121 orang PMIB telah mendaftarkan diri, di mana 80 orang diantaranya telah diproses oleh Kementerian Perburuhan Oman. Diperkirakan angka pendaftar ini akan terus bertambah dalam beberapa hari ke depan hingga 4 Desember 2020,”tuturnya.

Heri Yulianto jug menambahkan, adapun pelaksanaan program amnesti ini merupakan yang kedua kalinya bagi KBRI Muscat. Sebelumnya, pada tahun 2015, KBRI Muscat telah melaksanakan program yang sama dan berhasil memulangkan 897 orang PMIB ke tanah air.

Saat ini kasus-kasus yang dialami PMIB umumnya berupa kasus kaburan, illegal entry dan overstayer. Berdasarkan wawancara dengan beberapa pendaftar amesti, PMIB kaburan disebabkan banyak faktor, antara lain gaji yang rendah, jam kerja yang panjang, atau perlakukan asusila terhadap PMIB yang umumnya perempuan.

“Mereka kemudian keluar dari majikan dan bekerja serabutan dengan penghasilan yang rendah dan tidak menentu. Sejumlah PMIB kaburan menyatakan gaji yang diterima antara 100 Rial Oman (sekitar Rp 3,8 juta) sampai 150 Rial Oman (sekitar Rp 5,7 juta), belum dipotong uang sewa rumah dan makan,”tandasnya.

Wabah covid-19 sepanjang tahun makin membuat mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan serabutan, sehingga banyak yang meminta perlindungan shelter KBRI untuk dapat sekedar hidup dan mendapat tempat tinggal.

Kasus-kasus illegal entry umumnya terjadi di wilayah perbatasan Oman dan Emirat, yaitu di daerah Al-Ain dan Buraimi. Diduga kuat terjadi kasus-kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berdasarkan keterangan yang didapatkan dari korban TPPO yang menyatakan bahwa mereka dibawa oleh majikannya ke agensi yang berada di Al Ain untuk kemudia “dipajang” dan ditawarkan kepada majikan WN Oman.

“Sebagian dari mereka bahkan tidak diberitahu akan dipekerjakan di Oman. Setelah bekerja pada majikan di Oman, banyak yang tidak betah bekerja, sehingga melarikan diri dari majikan,”ungkap Heri Yulianto.

Sementara kasus-kasus overstayer juga banyak terjadi disebabkan WNI/PMI tersebut masuk ke wilayah Oman dengan visa kunjungan. Dalam kenyataannya mereka kemudian bekerja di Oman, atau menikah dan memiliki keturunan, sehingga melebihi jangka waktu menjadi overstayer di Oman. (wandhy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *