oleh

Ramadhan Penuh Cahaya, Penerang Dunia yang Semakin Gelap

DUNIA sedang mengalami depresi. Kemanusiaan berada dalam mimpi buruk yang tiada henti-hentinya. Namun Ramadhan sekali lagi muncul di ufuk bagaikan bulan purnama yang terbit diam-diam.

Cahaya purnamanya mulai mengusir kegelapan langit, walaupun cahaya itu hanya cahaya sementara, sepertinya jiwa kita yang sakit mulai tersembuhkan.

Seberapa parah pun perasaan dan pikiran manusia keracunan, setiap bulan Ramadhan tiba, cahaya indahnya.

Akan membersihkan hati-hati manusia dari kekotoran dan karat, meningkatkan kapasitas mereka dan mewarnai mereka dengan warna-warnai surgawi.

Ia menghilangkan segala sesuatu yang membuat ufuk menjadi gelap dan memancarkan keharuman dan keindahan surgawi langsung ke hati-hati kita.

Ia adalah cahaya yang mengguyur kita bak mercusuar dari langit, ia menghilangkan kesulitan kita dan melunakkan kekerasan hati dan pikiran kita.

Dalam setiap kedatangannya, Ramadhan hadir bagaikan kedamaian yang turun dari langit.

Ia datang ke tengah-tengah kita dengan warna-warni surgawi, daya tarik, dan aroma surgawi yang semakin terasa keajaiban nya bagi jiwa kita.

Setiap tahun kita menjadi tuan rumah bagi bulan Ramadhan, dan bulan yang penuh berkah ini, sebagaimana kedatangannya yang pertama, tetap menarik.

Kepergiannya membuat kita sangat merindukannya… kita menunggu-nunggunya sepanjang tahun, kapan gerangan ia akan datang.

Dengan datangnya puasa dan makan sahur serta salat tarawih, perasaan keakraban akan selalu muncul.

Namun sebenarnya, kedatangannya tidaklah mengherankan dan kepergian nya tidak juga mengagetkan, namun nilai surgawi yang dibawanya akan selalu terasa dalam sanubari kita.

Bersyukurlah karena dengan nilai yang dibawanya ini Ramadhan akan membantu kita membersihkan diri sendiri.

Memurnikan hati kita serta membuat perasaan kita peka, dan memberi tahu kita hal-hal baru dengan bahasa yang segar.

Ramadhan tidak pernah pudar, tidak pernah kehilangan warnanya, atau akan menjemukan; ibarat tamu ia tidak akan pernah merepotkan tuan rumah.

Sebaliknya ia selalu datang bagaikan musim semi dan membasuhkan kita dengan lembut, kemudian ia akan pergi dan meninggalkan kita dengan perasaan bahwa musim gugur telah tiba.

Ramadhan selalu membawa pesona yang berbeda-beda dan memberikan perubahan yang luar biasa pada kehidupan kita.

Ia memberikan perubahan pada jadwal makan, minum, tidur, dan bangun kita.

Ia mengubah kita menjadi makhluk spiritual sesuai dengan kapasitas kita, dan dengan berbagai hal yang diusungnya.

Ia berbicara kepada hati kita tentang keimanan dari dunia yang transenden.

Pada bulan Ramadhan ini, dunia di atas langit berinteraksi dengan bumi dan penduduknya dalam suatu jalinan yang berbeda-beda, terutama dengan hati orang-orang yang beriman.

Kerajaan rohani yang suci, memancarkan cahaya rohaninya, jiwanya, mantera yang cahayanya jauh melampaui cahaya matahari.

Ibadah memancar dari yang fana ke dunia transendental, sementara kebajikan dan berkah memancar dari transendental ke dunia fana.

Kondisi ini memicu khayalan dan perasaan yang ada pada diri kita, membuat kita sadar tidak ada di dunia ini yang bisa menjadi begitu indah dan menakjubkan.

Wallahu a’lam bish shawab.
Semoga bermanfaat…Aamiin.

Aswan Nasution

* Aktifis Al Washliyah, tinggal di Lombok NTB.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.