oleh

Warga Korban IMB Pergunas Menolak Akses Jalan Pilihan Kemenkeu

-Megapolitan-179 views

POSKOTA.CO – “Saya menolak jalan yang ditawarkan oleh Kemenkeu, dan tetap ingin akses yang melalui depan rumah saya,” kata Wiwiek Dwiyati, warga RT 015/ RW 03, Cempaka Baru, Jakarta, Rabu (23/9/2020) sore.

Wiwiek adalah warga korban pembangunan sekolah Pergunas yang diduga IMB (Izin Mendirikan Bangunan)-nya bermasalah. Halaman depan rumahnya kini tertutup tembok. Dia mendapat kabar akan diberi akses jalan oleh Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan.

Direktorat Perbendaharaan Kementerian Keuangan, yang merekomendasikan terbitnya surat IMB Pergunas kini berupaya mencari solusi bagi kedua pihak. Kepada Poskota.co, Jumat pekan lalu, Aziz Muthohar selaku Kepala Sub Bagian Pengelolaan Aset Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu mengatakan akan memanggil perwakilan warga.

“Kami sudah bertemu dengan pengelola Yayasan Pergunas, dan meminta supaya mereka memberi akses jalan yang diminta warga. Setelah itu, kami akan juga mengundang perwakilan warga untuk diskusi dan mendengarkan permintaan mereka,” kata Aziz.

Warga yang diwakili Ronggo Astungkoro (anak Ibu Wiwiek) memenuhi undangan Kemenkeu pada Rabu siang. “Inti pertemuan itu, warga dijanjikan mendapat akses jalan baru, bukan jalan yang selama ini diminta oleh warga,” kata Ronggo.

Akses jalan yang ditawarkan oleh Kemenkeu kata dia, melalui sisi kanan rumah ibunya. Pada sisi itu, terdapat ruang perpustakaan dan bangunan lantai atas. “Saya menolak usulan jalan baru itu, karena artinya harus bongkar rumah. Saya tetap minta akses jalan lewat depan rumah,” kata Ronggo, yang menyampaikan hasil pertemuan dengan Kemenkeu kepada warga lainnya.

Usulan akses jalan tersebut masih akan dipelajari oleh Ditjen Perbendaharaan. “Mereka katanya mau datang ke rumah warga, kalau tidak Rabu sore hari ini, ya besok,” kata Ronggo wartawan sebuah media nasional ini.

Sementara, Joko Wibisono, warga yang juga terdampak bangunan sekolah mengatakan saluran air kotor rumahnya, melewati bawah tanah yang selama ini diklaim milik yayasan juga diputus secara sepihak.
“Pengelola yayasan memutus aliran pipa dan terpaksa kami bikin saluran baru supaya air kotor tidak menggenang di dapur,” katanya.

Banyak kejanggalan dalam proses penerbitan IMB Pergunas hingga merugikan warga setempat, tapi pembangunan sekolah itu tidak berhenti sampai hari ini. Bahkan, Sudin Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) Pusat dan Kecamatan Kemayoran saling lempar tanggungjawab tanpa memberi sanksi menghentikan proyek pembangunan sekolah tersebut.(tis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *