oleh

Wanita Separuh Baya Mengais Barang Bekas demi Menyekolahkan Tiga Anak

POSKOTA.CO – Di tengah melonjak harga sembilan bahan pokok (sembako) serta tingginya biaya pendidikan, membuat wanita sudah empat tahun menjanda karena suami meninggal dunia, hingga membuat wanita asal Silimbat, Tapanuli Utara (Taput), Sumateta Utara, harus bekerja ekstra keras buat hidup di Ibu Kota serta biaya tiga anak yang masih sekolah.

Aston, sang suami meninggal empat tahun yang lalu akibat sakit komplikasi. Suami pensiunan guru di salah satu SMK negeri di kawasan Jakarta Pusat, anak pada waktu itu masih SMA dan SD, saat suami sehat biaya hidup untuk keluarga masih bisa. “Sekarang hanya mengharapkan gaji pensiun guru dan biaya hidup semakin meningkat membuat wanita ini merangkap sebagai ibu dan juga kepala keluarga. Dulu kami pernah tinggal di Lubang Buaya,Jaktim,” ujar wanita asal Taput ini.

Ibu Tiurma (50), warga Jalan Cimanggu Raya, RT 001/02 Kelurahan Jatisampurna, Bekasi, yang mempunyai tiga anak dua di antaranya pria dan satu wanita kini menjadi tanggungan untuk membiayai anak yang masih sekolah. “Anak pertama masih kuliah di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) yang nomor dua sedang menunggu hasil penerimaan mahasiswa baru sedang yang bontot masih kelas dua SMP,” paparnya, saat dikomfirmasi, Selasa (2/5/2023) pagi.

Dampak dari kebutuhan terus meningkat dan biaya sekolah terkadang tersendat-sendat untuk membayar, namun tidak membuat wanita asal Taput ini putus asa ia malah bekerja keras demi tiga anak yang masih butuh biaya sekolah. Bahkan ibu berusia setengah abad ini tidak merasa malu-malu ia banting tulang mencari uang dengan mencari barang rongsokan.

Dari hasil mencari barang bekas sedikit demi sedikit ketiga anak yang masih sekolah bisa ditanggulangi, namun wanita ini juga mengakui terkadang sering mendapat bantuan dari keluarga suami bahkan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan Keluarga Besar Wilayah Lubang Buaya. “Bersyukur tiga anak bersekolah di negeri hingga biaya agak ringan,” tutur Ibu Tiurma.

Namun saat dikunjungi wartawan, wanita yang penuh perjuangan tanpa rasa malu-malu menuturkan mencari barang bekas di jalanan seperti kardus dan botol bekas air mineral. “Kalau sehari bisa dapat barang rongsokan tiga hingga lima kilogram dan bisa dijual pada penampungan Rp7.000/kilogram kalau gelas air mineral, sedang botol lebih murah hanya Rp3.000, kalau tutup botol beda lagi Rp2.500/kilogram,” bebernya.

“Kerja jadi pemulung itu pekerjaan yang mulia, kita tidak perlu malu. Daripada ngemis tentu lebih malu lagi, namun kalau ada warga yang mau membantu kita syukuri,” sambung Ibu Tiurma.

Namun semenjak wanita ini ditinggal suami, ibu beranak tiga ini mencari barang bekas juga mengaku dibantu oleh saudaranya untuk mencari sesuap nasi. Meski jadi pemulung, Ibu Tiurma tetap berterima kasih pada Tuhan karena tiga anaknya tergolong pintar dan penurut pada ibunya yang berjuang untuk menyekolahkan.

Sementara tetangga korban juga mengakui kalau Ibu Tiurma, semenjak ditinggal suami meninggal karena sakit ia semakin giat melakukan pekerjaan yang bisa membantu buat anaknya sekolah. “Memang ketiga anak Ibu Tiurma ini sangat menurut pada ibunya, dan benar-benar soleh pada orang tuanya jadi tidak mudah terpengaruh di luaran,” ujar Anwar, warga sekitar. (*/silaen)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *