JAKARTA – Wendri, warga Jakarta Selatan harus menjalani proses cuci darah atau hemodialisa. Gagal ginjal yang dideritanya, memaksa pria berusia 55 tahun itu harus rutin menjalani cuci darah sepekan dua kali.
Kaget tentu ketika dokter memvonisnya menderita gagal ginjal. Rasa pusing berkepanjangan dan mual-mual yang dideritanya pada 2020, mengantarnya harus dirawat di rumah sakit. “Sejak itulah saya harus menjalani cuci darah setelah dokter memastikan bahwa saya mengalami gagal ginjal,” katanya.
Wendri yang pada saat ditemui sedang menjalani tindakan hemodialisa di Klinik Utama Sehat Utama Senang ini menjelaskan bahwa pada mulanya ia melakukan hemodialisa di Rumah Sakit Budhi Asih. Namun karena dirasa terlalu jauh, ia dirujuk ke fasilitas kesehatan yang dekat dengan domisili rumahnya.
Wendri pun menjelaskan bahwa sejak awal menjalani tindakan tersebut ia menggunakan Program JKN. Baginya, program ini sangat meringankan dirinya dan keluarga dari segi ekonomi. Menurutnya, jika tidak menggunakan Program JKN, sekali melakukan tindakan tersebut ia harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah, yang mana akan sangat menguras keuangan keluarganya.
“Saya merasa terbantu sekali dengan menjadi peserta Program JKN. Selain karena tidak perlu pusing memikirkan biaya untuk berobat, saya juga mendapatkan pelayanan yang sangat baik. Pengalaman saya dulu saat di IGD juga merasakan layanan yang cepat dan baik dari pihak rumah sakit. Terlebih sekarang di Klinik Sehat Utama Senang ini, walau saya terdaftar di kelas 3 (tiga), tidak ada perbedaan layanan yang diberikan. Fasilitas yang disediakan sangat baik serta petugas yang ramah membuat saya nyaman menjalani hemodialisa, sudah seperti keluarga sendiri,” tambah Wendri.
Berkaca dari pengalamannya, Wendri mengajak masyarakat agar sadar tentang risiko penyakit sejak dini. Apalagi jika sudah menderitaa hipertensi seperti dirinya. “Lebih baik rajin periksa kesehatan, agar bisa menghindari kefatalaan,” tambahnya.
Sejak divonis menderita gagal ginjal, kini Wendri dselalu mengingatkan keluarga dan orang terdekatnya untuk secara berkala memeriksanakan kesehatan agar tidak berakhir dengan mengidap gagal ginjal seperti dirinya.
Menyambung ceritanya, Wendri menjelaskan alur pelayanan yang ia jalani saat melakukan tindakan hemodialisa di klinik tersebut. Ia mengaku saat proses administrasi pendaftaran di klinik, ia hanya diminta surat rujukan dari rumah sakit serta menunjukkan KTP. Dirinya pun kagum karena hal yang ia rasakan tidak seperti isu yang berkembang terkait sulitnya mengakses layanan. Baginya, kemudahan dalam administrasi pendaftaran tersebut menjadi salah satu nilai tambah Program JKN karena sangat mempermudah peserta saat mengakses layanan kesehatan.
“Saya sangat bersyukur dengan adanya Program JKN yang sangat membantu saya khususnya dalam menjalani tindakan hemodialisa. Selama ini saya juga tidak merasakan hal-hal negatif seperti isu yang diberitakan di media sosial. Justru sebaliknya, saya mendapatkan layanan yang cepat dan nyaman. Saya berharap semoga BPJS Kesehatan dapat terus memperluas layanan yang baik ini sehingga terjadi pemerataan akses terhadap layanan kesehatan yang memiliki mutu baik kepada seluruh masyarakat di Indonesia,” pungkas Wendri.
Hadirnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di tengah masyarakat Indonesia memberikan angin segar bagi terwujudnya pemerataan akses layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Dengan tingkat pemanfaatan yang mencapai angka satu juta`lebih kunjungan per hari, membuktikan bahwa Program JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan memberikan dampak positif terutama dalam hal pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Manfaat Program JKN telah banyak membantu masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan yang selama ini menjadi momok bagi kebanyakan masyarakat dikarenakan stigma bahwa layanan kesehatan itu mahal.







Komentar