oleh

Hujan Deras Guyur Bogor, Jembatan Penghubung di Ciomas Ambruk Dilanda Banjir

BOGOR – Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor sejak Minggu (19/4/2026) hingga Selasa (21/4/2026) malam memicu banjir dan ambruknya jembatan penghubung di Kecamatan Ciomas.
Peristiwa ini tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan, tetapi juga diduga akibat pekerjaan pembangunan yang kurang rapi serta sistem drainase yang tidak optimal.

Banjir dilaporkan merendam permukiman warga di Kampung Bojongsari, Desa Ciapus, dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Selain banjir, jembatan penghubung antara wilayah Pagelaran dan Sukamakmur yang berada di depan Perumahan Pinus 3 Ciomas dilaporkan ambruk. Jembatan tersebut diketahui merupakan akses utama warga menuju kawasan Alam Tirta Lestari dan perumahan sekitar.

Warga setempat menilai, ambruknya jembatan tidak semata-mata akibat derasnya arus sungai, tetapi juga karena konstruksi yang dibangun secara swadaya tanpa perencanaan teknis yang matang.
Struktur jembatan diduga tidak cukup kuat menahan debit air yang meningkat tajam selama hujan berlangsung.

Selain itu, luapan air juga menyebabkan saluran air bersih program PNPM mengalami kerusakan. Buruknya penataan saluran dan minimnya perawatan disebut memperparah kondisi, sehingga air tidak mengalir dengan baik dan justru meluap ke permukiman warga.

“Roboh karena derasnya air sungai, tapi memang kondisi bangunannya juga seadanya. Sekarang kami harus memutar jauh untuk beraktivitas,” ujar Roby, warga Perumahan Pinus 3, Rabu (22/4/2026).
Kondisi ini memicu harapan warga agar pemerintah segera turun tangan, tidak hanya untuk penanganan darurat, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan infrastruktur dan sistem drainase di wilayah tersebut.

Warga juga mendesak adanya layanan kesehatan, mengingat air banjir yang masuk ke rumah diduga mengandung bakteri dan berpotensi menimbulkan penyakit. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur yang tidak terencana dengan baik, ditambah buruknya pengelolaan saluran air, dapat memperparah dampak bencana alam, terutama saat curah hujan tinggi. (yopy/jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *