JAKARTA – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, sukses menyelenggarakan Simposium Festival Sastra. Simposium yang dihadiri ratusan sastrawan dari Indonesia dan Malaysia diselenggarakan selama tiga hari di Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Menteng, Jakarta Pusat.
Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 24 sampai 26 September, dibuka Kepala Dinas Pusip DKI Jakarta Nasrudin Djoko Surjono. “Kepada seluruh hadirin, baik dari Indonesia maupun Malaysia, kami ucapkan selamat datang di jantungnya sastra Indonesia. Di gedung Perpustakaan HB Jassin inilah, kita bisa menemukan sekitar 150 dokumentasi sastra Indonesia yang nanti akan terus bertambah,” kata Nasrudin, Rabu (24/9).
“Simposium ini untuk memperteguh peran HB Jassin sebagai ‘Paus Sastra Indonesia’ dalam pelestarian dan pendokumentasian karya sastra,” jelas Nasrudi pada acara yang dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang, seperti peneliti, mahasiswa, sastrawan, akademisi, pustakawan, arsiparis, bahan profesi lainnya. Simposium ini menjadi ajang pertukaran gagasan dalam memandang isu kesusastraan kontemporer di tengah kemajuan zaman yang pesat.
Dalam sambutannya, Nasruddin Djoko Surjono menyatakan bahwa simposium ini
bukan hanya wadah diskusi, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap dedikasi H.B.
Jassin. “Simposium ini adalah bukti komitmen kita untuk terus merawat warisan intelektual HB Jassin. Beliau bukan hanya kritikus, tetapi juga penjaga memori sastra bangsa,” ujarnya pada acara yang dihadiri mantan Kepala Dinas Pusip DKI H. Firmansyah.
Diki Lukman Hakim, Kepala Unit Pengelola (UP) Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin menyampaikan
kegiatan ini terlaksana atas kerja sama antara Pusat Dokumen Sastra HB Jassin
dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta Institut Terjemahan dan Buku Malaysia sehingga mampu menghadirkan para peneliti, akademisi, dan sastrawan. “Simposium ini memperteguh Jakarta sebagai Kota Sastra yang telah ditetapkan Unesco pada tahun 2021,” kata Diki.
Dua budayawan atau sastrawan terkemuka, yaitu Nirwan Dewanto dari Indonesia dan Datuk Lim Swee Tin dari Malaysia menyampaikan pidato kunci dalam pembukaan simposium. Keduanya memberikan pandangan mengenai dinamika sastra kontemporer dan pentingnya dokumentasi sastra dalam konteks global. Keduanya juga menyoroti kerja dokumentasi HB Jassin yang dapat memberikan dampak signifikan dalam kajian sastra di Indonesia, bahkan di kawasan Melayu.
Nurcahyo Y. Hermawan, Kasatpel Pengolahan dan Pendokumentasian Sastra menambahkan simposium sastra kali ini menyajikan 10 panel dengan tema ‘Kajian Sastra Kontemporer, Arsip, dan Kerja Dokumentasi Sastra, serta Manuskrip dan Tradisi Lisan yang menghadirkan 30 pemakalah dari Indonesia dan Malaysia, di antaranya Prof. Melani Budianta, Dr. Sunu Wasono, Dr. Munawar Holil, Dr. Pudentia MPSS, Dr. Martin Suryajaya, Ayu Utami, dan lainnya.
“Peserta yang mendaftar dalam simposium ini mencapai 350 peserta, tetapi kapasitas ruangan hanya dapat menampung 150 peserta saja sehingga tidak dapat mengikuti secara keseluruhan,” tandasnya. (jo)







Komentar