oleh

Badak Jawa yang Diawetkan Jadi Ikon Baru Museum Zoologi Kebun Raya Bogor

BOGOR – Museum Zoologicum Bogoriense di kawasan Kebun Raya Bogor (KRB) dibawa kelola PT Mitra Natura Raya (MNR) yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terus melakukan berbagai inovasi.

Selain menyajikan ribuan jenis satwa yang dipamerkan dalam bentuk diawetkan, PT MNR, juga kini menghadirkan Immerzoa, sebuah ruang berbasis teknologi imersif yang dirancang untuk memberikan pengalaman interaktif dan edukatif bagi pengunjung.

Dari berbagai spesies satwa yang ada di museum yang telah berdiri lebih dari satu abad ini, terdapat seekor badak jantan yang diawetkan. Posisi badak yang berada ditengah ruangan, mendapat perhatian dan antusias pengunjung.

Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto mengatakan, di ruang pamer yang dapat diakses publik ini, terdapat 1.064 jenis satwa dengan total sekitar 1.730 spesimen yang dipamerkan. Koleksi tersebut mencakup berbagai kelompok hewan mulai dari serangga, ikan, moluska, amfibi, reptil, burung hingga mamalia.

“Jumlah koleksi ilmiah yang dimiliki museum sebenarnya jauh lebih besar. Yang dikelola BRIN, tercatat lebih dari 1,8 juta spesimen fauna dengan sekitar 489.031 nomor koleksi ilmiah, menjadikannya salah satu koleksi zoologi paling lengkap di kawasan Asia Tenggara,” katanya dikutip wartawan media ini Jumat (13/3/2026).

Terkait spesimen badak yang diawetkan yang menjadi ikon ruang pamer mamalia dan sering menjadi titik perhatian bagi wisatawan maupun pelajar yang berkunjung, ia mengatakan, awalnya sepasang badak ini berasal dari ujung kulon, Banten.

Lalu mereka bermigrasi tahun 1914 ke Tasikmalaya akibat perburuan liar oleh orang tak bertanggung jawab. Dalam migrasi ini, badak betina mati dan tak diketahui keberadaannya, sedangkan badak jantan masih bertahan hidup dalam kondisi terluka. Namun tak lama warga menemukan ditengah hutan dalam kondisi mati.

Agar tetap dikenang, badak jantan jawa ini, lalu diangkut ke Bogor dan diawetkan dalam museum zoologi tahun 1934.

“Setelah organ dalamnya dikeluarkan, lalu diawetkan dan kami pajang disini. Badak Jawa seberat 2.280 Kg ini, kini menjadi ikon yang dikenang,” ujarnya.

Keberadaan spesimen badak ini juga memiliki nilai edukatif yang tinggi karena mengingatkan pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian satwa langka Indonesia. Badak Jawa termasuk salah satu satwa yang populasinya terus menurun akibat kehilangan habitat dan perburuan liar. Dengan menghadirkan spesimen tersebut di ruang pamer, museum ingin menumbuhkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi.

Selain badak, koleksi mamalia di museum juga mencakup berbagai satwa lain seperti primata, kucing besar, hingga mamalia kecil yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Setiap spesimen dilengkapi dengan informasi ilmiah yang menjelaskan habitat, karakteristik, serta perannya dalam ekosistem.

Sejarah museum zoologi di KRB berdiri tahun 1894 oleh seorang ilmuwan Belanda, J. C. Koningsberger. Kini, lebih dari satu abad, museum ini tetap menjadi salah satu penjaga penting warisan keanekaragaman hayati Indonesia,” tegasnya. (yopy/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *