oleh

Ulamaus su’ (Ulama yang Jelek dan Jahat)

RASULULLAH Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Ulama adalah pewaris para Nabi”. Karena sabda Rasulullah Saw. itu, maka tugas dan tanggung jawab serta peranan Ulama di tengah-tengah ummat tidak ringan, karena bila sekarang ini para Nabi telah tiada, dengan sendirinya yang memangku dan meneruskan tugas serta tanggung jawab para Nabi adalah para Ulama belaka.

Terdapat suatu kesalahan pemahaman dan logika yang tidak benar di sementara ummat Islam sehubungan dengan sabda Nabi Saw. di atas. Kesalahan berfikir itu ialah, karena “Ulama adalah pewaris para Nabi”, maka orang yang telah “mendapat gelar sebagai ulama” otomatis mesti dikatakan atau mendapat prediket sebagai “pewaris para Nabi.” Tidak peduli apakah “gelar” sebagai ulama itu diberikan oleh kelompok masyarakat satu desa, atau daerah atau satu negara. Entah “gelar” sebagai ulama itu di dapat dari “pengangkatan” oleh “orang atas” atau gelar itu didaulatkan oleh ummat. Apakah “gelar” itu benar-benar telah patut dimiliki oleh orang tersebut atau tidak. Pokoknya siapa saja yang telah “mendapat gelar sebagai Ulama” itu pasti menjadi “pewaris para Nabi.”

Tetapi menurut sepanjang keterangan dari Rasulullah Saw., tidak semua Ulama mesti menjadi pewaris para Nabi, karena ada ulama yang tercela dan harus dijauhi tingkah laku dan gerak geriknya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa “Ulama yang ilmu dan laku perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran Nabi itu bukan Ulama yang menjadi pewaris para Nabi.” Padahal sementara orang berpendapat bahwa “gelar Ulama mesti diraih terlebih dahulu, nanti otomatis prediket pewaris para Nabi akan ditempelkan kemudian.”

Dari adanya Ulama yang tidak menjadi pewaris para Nabi itu mempunyai akibat yang jauh bagi dirinya sendiri dan bagi Agama Islam dan bagi ummat Islam. Maka timbullah “Ulama-us Su” ialah ulama jahat adalah ulama-ulama yang jauh dari bijak yang sebenarnya. Mereka meletakkan ilmu dan hikmahnya (bijaknya) bukan pada tempatnya. “Ulama-us Su” yakni Ulama yang jelek dan jahat, Ulama penyebar fitnah, Ulama penjilat dan penjual agama dengan harga harta dunia, Ulama penjual keyakinan Islam dan keyakinan hidup, Ulama pemecah belah, Ulama pengkhianat bangsa, negara dan Agama. Ulama gila harta karena pangkat dan jabatan sehingga melupakan Islam.

Mereka menjadikan agama sebagai alat untuk meraih dunia. Mereka menjadikan pembantu dan alat pemberi legalitas bagi para penguasa, para raja, para sultan yang hidup di atas penderitaan orang-orang yang didzalimi dan orang-orang yang dilemahkan.

Tentu saja disamping ada Ulama yang buruk, juga masih banyak para Ulama yang baik, mulia dan terpuji, yang menjadi pewaris ilmunya para Nabi. Juga hal-hal yang baik itu terdapat di mana-mana, termasuk di Indonesia.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia. Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?” Beliau menjawab, “Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu.” (HR. Athabrani).

Dalam hadits yang lain beliau telah bersabda, “Para ahli fiqih adalah orang-orang kepercayaan para Rasul selagi mereka tidak memilih perkara duniawi dan mengikuti sultan, apabila mereka mengerjakan demikian, maka waspadalah kalian terhadap mereka.” (HR. Ali k.w.).

Mereka mengotak-atik agama sebagaimana yang diinginkan para penguasa. Mereka bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka memuji-muji penguasa dan memberikan ucapan selamat pada hari-hari besar mereka.

Sebagian mereka ada yang memutarbalikkan ayat untuk menyenangkan penguasa, atau membacakan syair untuk memujinya.

Dalam hal ini Allah Swt telah mewahyukan kepada Dawud a.s., “Jangan engkau jadikan di antara-Ku denganmu seorang alim yang silau dengan dunia, karena dia akan menghalangimu dari jalan kecintaan-Ku. Mereka itu adalah perompak hamba-hamba-Ku yang beriman. Sesungguhnya, paling minimal yang Aku lakukan kepada mereka adalah mencabut kenikmatan bermunajat kepada-Ku dari hati mereka”.

Para penguasa lalim, pada masa kita sekarang maupun pada masa lalu, memanfaatkan ulama-ulama jenis ini. Mereka memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan politik. Para ulama ini menjilat dan memberikan pujian kepada penguasa dan mengucapkan selamat atas langkah-langkah yang mereka lakukan, walaupun langkah itu jelas-jelas bertentangan dengan agama.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Ulama adalah orang-orang yang dipercaya oleh para Rasul selama mereka tidak bersatu dengan sultan dan memilih perkara duniawi. Apabila mereka bersatu dengan sultan dan memilih perkara duniawi, maka mereka benar-benar telah berkhianat terhadap para Rasul, karena itu hati-hatilah kalian terhadap mereka.” (HR. Al ‘Uqaili melakui Anas r.a.)

Ulama artinya orang kepercayaan. Maka dimaksud ialah bahwa ulama itu adalah orang-orang kepercayaan para Rasul. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Mereka berhak menyandang prediket ini selama mereka tidak bergaul dengan sultan yang zalim, yakni membantu kekuasaan yang zalim dan tidak menegakkan _amar_ _ma’ruf_ serta _nahi_ _munkar_ terhadapnya. Dan juga mereka mulai menyibukkan dirinya dengan urusan keduniawian sehingga lupa terhadap kewajibannya sebagai ulama. Apabila mereka mulai melakukan kedua hal tersebut, maka mereka telah berkhianat terhadap rasul-rasul, dan mereka tidak berhak lagi menyandang prediket tersebut.

Dalam hadits yang lain beliau telah bersabda, “Tidaklah seseorang semakin dekat kepada penguasa melainkan ia semakin jauh dari Allah; dan tidak sekali-kali ia makin bertambah pengikutnya melainkan semakin bertambah pula setannya, serta tidak sekali-kali ia semakin bertambah hartanya melainkan semakin bertambah ketat pula perhitungan (hisab) nya.” (HR. Hannad melalui Ubaid ibnu Umair secara mursal). “Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama.” (HR. Athabrani).

Orang yang makin dekat kepada sultan (penguasa), semakin jauh dari Allah. Begitu pula kebalikannya, jika ia semakin jauh dari sultan, maka semakin dekat ia kepada Allah. Dan semakin banyak pengikutnya, maka semakin banyak pula setannya, maksudnya orang-orang yang menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa. Dikatakan demikian karena setan itu ada dua macam, yaitu setan dari kalangan makhluk jin dan manusia, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: “Yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Naas: 5-6).

Nabi Saw telah bersabda, “Celakalah umatku disebabkan ulama su’ (ulama yang buruk, jahat)”. (HR. Hakim melalui Anas r.a.). Kecelakaan yang besar akan menimpa umatku apabila muncul dikalangan mereka ulama _su_ ‘ atau ulama yang buruk, kemudian mereka menurutinya.

Sebagai contoh, kita telah dikejutkan dengan keputusan Presiden Mesir pada tahun 1980, Anwar Sadat, menyerahkan Al-Quds kepada Israil, sebagai hasil kesepakatan perjanjian Camp David. Syaikh Al-Azhar ketika itu memuji dan mengucapkan selamat atas langkah yang dilakukan Sadat, dan memberikan legalitas agama terhadap apa yang dilakukannya dengan mengutip ayat Al-Qur’an, “Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal, 8: 61).

Demikianlah yang dilakukan ulama karet dalam membenarkan langkah penguasa yang tidak sah dan tidak sesuai dengan agama, dengan cara memberikan legalit8as agama.

Semoga kita terhindar dari mengikuti ulama yang buruk atau _ulamaus-Su_ ‘, tetapi kita harus mengikuti ulama sesungguhnya yang takut kepada Allah. _Wallahu_ _A’lam_ _bish-Shawabi_

…………………………..

*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *