oleh

Tertawa dengan Logika

-Komunitas-93 views

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

TERTAWA itu bagian dari kehidupan namun akan aneh dan susah tatkala hidup tanpa tertawa. Sebaliknya juga tertawa terus menerus itu juga ada sesuatu yang membuat jiwanya terganggu. Tertawa dengan logika ini mengkoprolkan nalar kebiasaan atau mempleset-plesetkan sehingga ada ‘ice break’ yang tiba-tiba. Kesadaran akan tawa ini bisa saja hambar kecut sampai tertawa lebar. Tertawa menunjukkan rasa dan kemampuan menggunakan logika. Tatkala logika tak lagi yang utama maka tawa candanya sebatas kelakaran saja atau bahkan hanya membuat orang lain terpaksa tertawa. Tertawa dengan logika merupakan refleksi atas bergeraknya daya nalar dalam suatu fenomena. Terutama melalui tulisan atau cerita. Kisah kisah Abu Nawas, Nasaruddin Hoja, atau lawakan-lawakan dengan dialog ini bagi yang cerdas mampu meledakkan tawa yang bisa saja hingga menaburkan air mata.

Tertawa dengan logika ini bukan berarti koplak atau sekadar koprol, melainkan merupakan suatu jungkir balik kehidupan hingga kritik sosial. Gaya dialog tanya jawab saling bertanya dengan asal menjawab yang menabrak tatanan pada umumnya namun ada pemaaf karena yang memyampaikan orang asing. Misalnya dialog antara dalang (alm enthus) dengan sinden Megan dari Amerika, menampilkan ujaran kasar namun mampu meledakkan tawa seperti kata ndas (kepala, tetap kasar), pekok (bodoh, juga kasar), menthil (nyusu) dan lain-lain yang semua ini dengan logika walau dari ujaran kasar namun semua bisa tertawa tanpa baper atau menjadi SARA. Sinden Elisa dari Sulawesi yang logatnya kasar kadang berbeda makna yang seakan sinden melawan dalang. Namun semua justru tertawa apalagi dengan gaya lugunya tanpa merasa bersalah. Dalang memang piawai memutar balik logika, contoh saja wayang kampung sebelah dengan tokoh lurah yang sedikit lugu bahkan dungu berpidato dengan diulang dan kalimat dibolak balik saja. Cak Lontong yang begitu piawai menjungkirkan setiap kalimat yang muncul dari Akbar lawan bicaranya. Topan dengan Lesus, Kancil dengan Belong, Yudo dengan Precil, Kirun dengan Bagio dan sebagainya. Bahkan dalam syair Jula Juli ynag dimainkan Cak Kartolo dengan Cak Sapari nampak apa yang akan dijungkirkan dari analogi ke fenomena nyatanya. Gaya meniru tokoh pejabat pun ini menjadi sangat fenomenal, misalnya Butet Kartarajasa yang dengan lugas menirukan Pak Harto di zaman reformasi. Atau sentilan-sentilun bahkan juga dari wayang golek gaya Tegal Slawi Slenteng dan Lupit. Kekuatan logika meledakkan tawa ini bisa saja dari gambar kartun maupun karikatur. Misalnya Ompasikom (Gm Sudarta), Keong (Pramono), Panji Koming (Dwi Koen), Timun (Libra), Wayang Mbeling (Goen Secac), Pak Bei (Masdi Sunardi), kartun-kartun Si Jon, kartun-kartun Bambang Sakuntala. Gambar dengan atau tanpa kata mampu membuat canda tawa.

Tertawa dengan logika memang luar biasa. Kadang biasa saja namun dampaknya sangat luar biasa. Bukan sekadar pelipur laram, tetapi juga obat grundelan dan sebagai solusi atau kepenatan hati. Tawa itu bagian logika tatkala dikaitkan dengan suatu kritik atau refleksi sosial. Tawa akan dikata menghina tatkala canda yang ditumpangi kebencian dan membunuh karakter. Canda pada umumnyan adalah ungkapan jiwa memparodikan apa ynag tidak semestinya atau penyimpangan yang diagungkan. Kuasa akan berhimpitan dengan penyimpangan hingga penyalahgunaan kekuasaan. Tidak ada orang tidak punya kuasa menyalahgunakan kekuasaan. Yang kuasa biasanya sarat puji-puja dan akan segara marah dan terbakar amarah tatkala tidak sepakat atau berpikir panjang berkata iya. Tertawa dengan logika itu kecerdasan sebaliknya tertawa tanpa logika bisa masuk rumah sakit jiwa. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *