oleh

Menikmati Pementasan Teatrikal Melalui Kerangka Dekonstruksi

POSKOTA.CO -Seni teatrikal atau teater merupakan seni pertunjukkan dengan paket komplit. Tidak hanya mengandung seni peran di dalamnya, tapi juga sarat dengan kekuatan atau daya yang ditampilkan melalui gerak tubuh, mimik, tarian, nyanyian, bahkan bunyi-bunyian yang dipadukan dalam sebuah naskah cerita dan tata panggung.

Kali ini kita akan memandang teatrikal sebagai sebuah daya yang membentuk hidup (Latin: vita) melalui kerangka pemikiran Jacques Derrida (1930-2004).
Derrida menilai bahwa teatrikal bukanlah representasi atau mimikri (Yunani: mīmēsis) dari kehidupan sehari-hari (Writing and Difference, 1968, hal. 294).

Mengenai hal ini Derrida sepakat dengan pandangan seorang seniman Prancis bernama Antonin Artaud (1896-1948) yang menganggap kehidupan sehari-hari sebagai hasil pengekangan atau represi dari nilai dan norma sosial (bandingkan dengan teori “Subconscious” dari Psikoanalisa).

Represi inilah yang membuat kehidupan ini menjadi semu dan mengalami stagnasi atau pengulangan.

Alhasil, Artaud tidak menjadikan teatrikalnya sebagai panggung untuk memamerkan kehidupan sehari-hari, seperti gaya hidup yang sedang digandrungi oleh masyarakat pada umumnya, tapi justru menampilkan bentuk kehidupan yang belum mengalami represi agar memberikan daya dobrak untuk membebaskan manusia dari segala bentuk represi.

Itulah mengapa Artaud dan Theater of Cruelty yang dipimpinnya disebut sebagai teatrikal imaji, karena memamerkan bentuk kehidupan yang sarat dengan daya sebagaimana terdapat pada imaji yang belum mengalami represi dari nilai dan norma sosial (WD, hal. 305).

Teatrikalnya disebut sebagai “kekejaman” (Inggris: cruelty) bukan karena menampilkan adegan kekerasan, tapi karena memamerkan kesadaran (Inggris: consciousness) yang membuka pada kejelasan atau kejernihan (WD, hal. 306). Untuk itu, “kekejaman” yang dimaksudkan disini adalah bentuk dari memamerkan segala bentuk tindakan manusia pada kesadarannya.

Secara konkret penonton dikejutkan oleh aksi teatrikal dan bunyi-bunyian yang muncul dari segala arah.

Dialog lisan dijadikan sekunder, karena dianggap tidak dapat menambah daya (energi) pada naskah dibandingkan dengan gerak tubuh, mimik, dan bunyi-bunyian. Karena bagi Artaud teatrikal adalah daya atau vitalitas yang membentuk kehidupan itu sendiri.

Maka jelas dengan sendirinya bahwa teatrikal tidak mungkin menjadi representasi dari kehidupan sehari-hari, mengingat bahwa teatrikal adalah daya yang membentuk kehidupan itu sendiri. Karenanya, teatrikal memiliki tugas bukan untuk menjadi cermin dari kehidupan sehari-hari, tapi justru mencerminkan kehidupan yang sama sekali lain sebagai alternatif dari kehidupan masyarakat pada umumnya.

Alasan lain yang membawa Derrida menolak teatrikal sebagai representasi kehidupan sehari-hari adalah karena kehidupan ini tidak dapat direpresentasikan oleh apapun juga.

Kehidupan manusia adalah bagian kecil dari seluruh kehidupan ini. Sehingga mustahil bagi kehidupan manusia untuk dapat merepresentasikan kehidupan yang sangat luas ini.

Dengan lain perkataan, manusia hanya dapat merasakan atau mengalami hidup ini, tapi ia tidak mampu untuk merepresentasikannya secara utuh melalui kehidupannya, baik dalam bentuk ucapan, tulisan, ataupun gerak tubuh.

Dengan demikian, bagi Derrida, teatrikal adalah bentuk dari kebebasan untuk mengucapkan dan menuliskan kehidupan ini secara lain.

Teatrikal melakukannya dengan memamerkan daya kreatif yang hanya bisa dinikmati melalui gerak tubuh, mimik, dan bunyi-bunyian. Salam dekonstruksi!-(yp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *