oleh

Ketum BERSAMA: Normal Baru Pascapandemi Covid-19 Harus Dibarengi PDN dan KSBB

-Komunitas-78 views

POSKOTA.CO – Bertempat di Kantor BERSAMA Jalan Radio III No 33 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ucapan syukur organisasi Badan Kerja Sama Usaha Pembinaan Warga Tama (BERSAMA) yang berdiri pada 26 Juni 1978 menyelenggarakan peringatan ulang tahun ke-42 dan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI).

Acara yang dihadiri oleh Dewan Pengurus Pusat Badan Kerja Sama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama (DPP BERSAMA), Ketua Umum Mayjen Pol (Purn) Drs IGM Putera Astaman, Wakil Ketua Umum Irjen Pol (Purn) Prof Dr dr H Hadiman SH, MSc, Sekretaris Jenderal Prof Dr Budiharjo MSi, disiarkan secara virtual melalui Zoom meeting untuk diikuti secara langsung oleh seluruh pengurus pusat dan daerah, OKMP, mitra kerja, relawan dan Komunitas BERSAMA. Acara kemudian dilanjutkan dengan syukuran pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum Mayjen Pol (Purn) Drs IGM Putera Astaman.

Memperingati Hari anti Narkotika Internasional (HANI) 26 Juni 2020, dimaknai dengan keikutsertaan bangsa Indonesia memperingati keprihatinan dunia terhadap narkotika ini. Setiap tahun ada sambutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang disampaikan Sekjen PBB dan Direktur Eksekutif PBB.

Yang kita ketahui adanya sifat kebijaksanaan di dalam menangani masalah narkoba ini. Kemudian sudah dijabarkan untuk di Indonesia dengan tema khusus untuk Indonesia, “Hidup 100 Persen Sehat Bahagia Tanpa Narkoba. Ini sesuatu yang sudah pakem, dan bangsa Indonesia harus bisa mengambil manfaat yang terbaik untuk bangsa sendiri. Sejak 2016 dinyatakan oleh Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia darurat narkoba, dan perang terhadap narkoba berkembang panjang.

Itulah yang harus disikapi oleh seluruh komponen bangsa. Bahwa kita berusaha menekan, kita berusaha bebas dari cengkraman darurat narkoba. Itulah yang kita lakukan dan evaluasi dari waktu ke waktu, kami sebagai mitra pemerintah melihatnya, ada hal yang harus kita perhatikan. Bahwa hal-hal yang sudah kita lakukan ini berkelanjutan dibandingkan dengan sasaran yang harus dilaksanakan, target yang harus dicapai itu belum sesuai.

“Skalanya masih kecil. Nah skala kecil inilah yang kita permasalahkan. Kalau skala ya kecil nggak nendang. Nggak ngefek. Katakanlah misalnya itu akan nendang kalau apa yang disampaikan dalam Inpres Nomor 2 Tahun 2020 yang awalnya adalah Inpres Nomor 6/2018 itu menyebutkan, bahwa seluruh ASN termasuk TNI, Polri itu harus menunjukkan dirinya bersih dari narkoba, ini bagian dari perang melawan narkoba. Harus tes urine. Ternyata jumlah yang 5 juta itu yang dites urine paling-paling baru beberapa persen saja. Padahal jumlahnya 5 juta. Nah kalau baru 100 ribu yang baru dites urine dalam 1 tahun tidak nendang atau tidak berpengaruh sesuai dengan dengan harapan kita bersama,” tegas Mayjen Pol (Purn) Drs IGM Putera Astaman dalam keterangannya kepada media di sela-sela acara peringatan HUT Ke-42 BERSAMA dan HANI 2020, Senin (29/6/2020).

Pengurus BERSAMA foto bersama saat memperingati ulang tahunnya yang ke-42.

Dijelaskan Putera Astaman, selama berpuluh tahun bangsa ini menangani masalah narkoba di Tanah Air dengan salah kaprah. Artinya, negara banyak bertumpu pada aspek penindakan dan proses hukum pelaku pecandu, pengedar, dan bandar. Tanpa mengimbangi dengan upaya rehabilitasi yang cukup. Akibatnya, kata Putera Astaman, jumlah pecandu yang begitu besar di rutan dan lapas serta pecandu yang begitu banyak berkeliaran di masyarakat tidak terjaring untuk segera masuk dalam proses penyembuhan di IPWL atau lembaga rehabilitasi.

Untuk itu, kata Putera Astaman, prinsip dasar penganannya yakni, yang sehat (drug free) agar sehat dan dibina dalam komunitas Warga Tama dan komunitas warga adat, yang sakit adiksi (drug adict) agar disembuhkan, direhabilitasi dan dibina dalam komunitas warga karya.

Untuk pelaksanaan penanganan darurat narkoba di Indonesia. Putera Astaman meminta, Presiden RI perlu membentuk gugus tugas yang diberi kewenangan cukup agar tugasnya yang bersifat lintas instansi, lintas kementerian, dan mengoodinasikan serta mengendalikan seluruh komponen bangsa dapat terlaksana dengan lancar dan baik.

Di akhir penjelasannya kepada media, Mayjen Pol (Purn) Drs IGM Putera Astaman mengingatkan, bangsa Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Dengan segala upaya yang luar biasa, Presiden Joko Widodo mengarahkan bangsa ini menapak menuju situasi normal baru dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Normal baru pascapandemi Covid-19 harus berbarengan dengan Penanganan Darurat Narkoba (PDN) dan Kelola Sosial Berskala Besar (KSBB), karena tujuannya sejalan yaitu Indonesia maju bersinar. Normal baru dengan kebangkitan ekonomi nasional jangan kecolongan dengan tetap maraknya narkoba karena tidak melakukan PDN dengan KSBB,” tutupnya. (lian tambun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *