oleh

Covid-19: Dekonstruksi Derrida

POSKOTA.CO – Terhitung sejak Desember 2019 lambat laun seluruh dunia memasuki masa “Sabat” (berhenti bekerja) panjang yang tidak kunjung berakhir. Bahkan hingga saat ini, melewati medio bulan Juni 2021, dunia belum sepenuhnya kembali “bekerja” seperti sebelum gelombang pandemi covid-19 melanda.

Diskusi-diskusi mengenai ekonomi, politik, ekologi, dan kesehatan berseliweran di media sosial menemani perjalanan Sabat yang cukup panjang ini.

Kekhawatiran meliputi sebagian besar insan ketika menatap hari esok yang masih diselubungi oleh ancaman infeksi virus korona yang mampu berevolusi dengan cepat. Bersama Jacques Derrida (filosof Prancis, 1930-2004), kita akan mendekonstruksi makna atau esensi dasar yang selama ini menjadi tolok ukur dalam pembangunan pengetahuan manusia.

Derrida memperkenalkan dekonstruksi melalui tiga buah buku yang diterbitkan secara bersamaan di tahun 1967 (Writing and Difference, Speech and Phenomena, dan Of Grammatology). Pada prinsipnya, Derrida memandang manusia sebagai entitas di tengah alam atau di tengah dunia (being-in-the-world) yang mencerap sensasi dari alam dengan menggunakan indra dan memiliki kemampuan untuk mengucapkan atau menuliskan setiap sensasi yang ia terima.

Sehingga pengetahuan manusia merupakan hasil konversi dari sensasi ke dalam bentuk teks, baik lisan maupun tulisan. Alhasil setiap sensasi yang diterima oleh manusia dapat dikenali oleh rasio (lihat Speech and Phenomena, hal. 17-26).

Struktur pengetahuan yang demikian menyisakan jarak yang cukup lebar antara alam atau dunia dan pengetahuan manusia tentang alam atau dunia. Dan jarak tersebut tidak dapat dilampaui oleh teks apapun (SP, 160).

Pemikiran Derrida tentang “jarak” pada pengetahuan manusia bertolak belakang dengan sejarah pemikiran filsafat Barat (epoch) yang selalu berusaha untuk memahami alam atau dunia dengan mencari esensi terdasar yang membentuknya.

Sehingga dalam pandangan epoch, manusia dengan rasionya diyakini mampu untuk mendefinisikan alam atau dunia. Contohnya Thales (625-545 SM) yang menyebut esensi terdasar dari kehidupan ini adalah air, sedangkan Anaximenes (538-480 SM) menyebutnya udara, Platon (428-348 SM) menyebutnya sebagai Idea-Idea Keabadian, dan Aristoteles (384-322 SM) menyebutnya sebagai motor-immobile.

Keyakinan bahwa manusia mampu untuk memahami alam atau dunia mencapai puncaknya ketika René Descartes (1596-1650) menobatkan manusia sebagai pusat pengetahuan dengan jargonnya yang terkenal: cogito, ergo sum (aku berpikir, maka aku ada).

Pendek kata, dalam hal ini epoch meyakini bahwa manusia dapat memahami segala sesuatu yang ada di alam atau dunia.
Struktur pengetahuan yang didasari oleh keyakinan inilah—seperti pada epoch—yang diguncang oleh Derrida dengan menyingkapkan adanya jarak antara alam atau dunia pada dirinya sendiri dan alam atau dunia dalam pengetahuan manusia.

Dengan perkataan lain, Derrida menyatakan bahwa alam atau dunia tetaplah sebuah misteri atau noumena dihadapan ensiklopedia pengetahuan manusia.

Pandangan tersebut telah terbukti selama masa pandemi covid-19 ini. Pengetahuan manusia tidak berdaya di tengah terjangan gelombang pandemi. Alih-alih mengatasi badai pandemi, manusia dan pengetahuannya memilih untuk beradaptasi mengikuti riaknya.

Manusia yang berada di tengah alam atau dunia disebutkan Derrida sebagai bricoleur (kata dalam bahasa Prancis yang berarti: tukang bongkar/pasang). Alam atau dunia ini hadir begitu saja secara sembarang (arbitrary) dan tanpa makna, tapi di tangan manusia (bricoleur) alam atau dunia ini diubahkan menjadi sebuah wacana yang logis agar dapat dikenali oleh rasio dalam bentuk lisan atau tulisan.

Maka di mata Derrida, pengetahuan manusia tidak lain adalah sebuah tindakan kreatif (Prancis: bricolage) dari sisi manusia yang tidak memiliki hubungan dengan alam pada dirinya sendiri (Writing and Difference, hal 360).
Itulah mengapa struktur bangunan pengetahuan manusia memiliki “retak” yang berpotensi meruntuhkan.

Namun perlu diingat bahwa keruntuhan ini tidak dipicu oleh goncangan dari luar, tapi justru dipicu oleh keretakan pada strukturnya sendiri.
Dan di dalam konteks inilah Derrida memperkenalkan dekonstruksi, bukan untuk menghancurkan bangunan pengetahuan manusia, melainkan untuk menyusun ulang bangunan tersebut dengan mengharapkan munculnya bentuk bangunan baru secara terus-menerus.

“Secara terus-menerus” merupakan penekanan yang sangat penting, karena dekonstruksi tidak dimaksudkan untuk menemukan definisi atau pengetahuan akhir, tapi untuk mengungkapkan bahwa manusia tidak mampu untuk mencapai pengetahuan akhir tersebut.

Untuk itulah kita harus senantiasa terbuka pada cara pandang yang lain, bahkan mengharapkan munculnya cara pandang baru.
Gelombang pandemi telah mengajarkan kita untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan baru. Untuk itu mari kita sambut setiap perubahan dengan hati yang lega.

Bahkan dengan daya kreatif yang kita miliki, kita dapat mendorong terwujudnya perubahan demi kehidupan yang lebih baik. Perubahan kebiasaan dalam bekerja, belajar, dan beribadah. Atau bahkan mungkin perubahan dalam karier demi penghidupan yang lebih sejahtera. Salam dekonstruksi!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *