BOGOR – Penerapan dari analitika bisnis untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit di Indonesia, sedang menjadi topik yang ramai dibicarakan.
Daya saing dari suatu industri atau negara untuk dapat bersaing secara kompetitif di suatu pasar, agar unggul baik untuk biaya produksi yang rendah dan diferensiasi produk terhadap kompetitor-kompetitor yang dihadapi menjadi faktor yang penting.
Prof.Dr.Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc (CS),guru besar tetap bidang analitika bisnis Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Univercity mengatakan, dalam konteks industri kelapa sawit, terdapat sejumlah tantangan penting yang perlu dihadapi oleh Indonesia seperti isu penerapan pembangunan berkelanjutan, larangan ekspor kelapa sawit di negara tujuan, dan perubahan iklim yang turut mempengaruhi produktivitas kelapa sawit di masa mendatang.
“Perkembangan teknologi informasi yang pesat, analitika bisnis dapat menjadi pilihan bagi suatu bisnis atau industri untuk memperoleh solusi atas permasalahan yang dihadapi dengan basis informasi yang faktual. Analitika bisnis ini penggunaan data, teknologi informasi, analisis statistik, metode kuantitatif, dan model berbasis pendekatan matematika atau komputer yang dapat membantu manajer memperoleh insight tentang operasi bisnis dan membuat keputusan yang lebih baik berbasis fakta baik itu secara deskriptif, prediktif dan preskriptif,” kata Prof Arif Kamis (25/4/2024).
Ia menegaskan, beberapa studi terdahulu telah merumuskan temuan dan diskusi yang terkait dengan penerapan analitika bisnis pada industri kelapa sawit Indonesia sebagai respon penting untuk penguatan daya saing.
Salah satu temuan penting melalui penerapan analitika bisnis adalah kondisi daya saing dari produk kelapa sawit Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan kompetitor dalam hal ini ialah minyak kelapa sawit, baik berbentuk mentah atau rafinasi.
“Tetapi Indonesia masih belum unggul dengan kompetitor pada produk turunan kelapa sawit. Di sisi lain, hilirisasi industri kelapa sawit dapat memberikan nilai tambah kepada suatu produk sehingga dapat menciptakan nilai produk yang lebih tinggi di pasar global,”ujarnya.
Terkait dengan analisis preskriptif, isu pembangunan berkelanjutan dalam hal ini adalah sertifikasi serta dikombinasikan dengan tingkat risiko juga mempengaruhi preferensi perusahaan kelapa sawit yang potensial untuk diinvestasikan, sehingga dapat berimplikasi pada keputusan investor dalam melakukan penanaman modal pada perusahaan kelapa sawit domestik.
Industri kelapa sawit yang berhasil diungkap melalui analisis preskriptif adalah model analitika bisnis dalam penentuan adopsi teknologi pabrik yang maju dengan mempertimbangkan tiga isu utama yaitu teknologi, organisasi dan lingkungan.
Dengan penerapan analitika bisnis, langkah penguatan daya saing industri kelapa sawit juga dapat dirumuskan dengan baik, sehingga memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan sosial dan manfaat lingkungan yang inklusif.
“Oleh karena itu, analitika bisnis dapat menjadi pondasi dasar bagi pemangku kebijakan untuk penguatan daya saing industri kelapa sawit berkelanjutan,” tegasnya. (yopi/fs)







Komentar