oleh

Api Perlawanan ATM Terus Menyala, Tolak Pembangunan Tahura di Sinjai

POSKOTA.CO- Aliansi Tahura Menggugat (ATM) Sinjai Gelar aksi demonstrasi di beberapa titik, salah satunya simpang empat Tugu bambu, Jalan Persatuan Raya, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi selatan, Kamis, (28/1/2021).

Dalam orasinya, Yusri mengatakan, mengutuk keras pemerintah daerah kabupaten Sinjai yang telah membuka lahan tahura yang begitu merusak lingkungan.

Dimana pembukaan lahan Taman Hutan Raya (Tahura) Abdlul Latif terletak di desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai, Borong Kabupaten Sinjai, Sulawesi selatan, merupakan salah satu kekayaan alam dimiliki kabupaten Sinjai.

Selain kekayaan alamnya, hutan tersebut merupakan hutan tropis, juga keanekaragaman flora dan fauna endemik Sulawesi yang masih terjaga, seperti Anoa, Rusa, planut Sulawesi dan jamur Mahkota.

Namun, visi pengelolaan Tahura Abdul Latif Sinjai berkontraksi dengan dibangunnya bumi perkemahan yang luasnya 1,2 Ha dengan model terasering dan dilengkapi jalan rintisan sepanjang kurang lebih 400 meter dengan lebar kurang lebih 3 meter.

Selain itu, lanjut Yusri, dibangun pula track mountain bike sepanjang kurang lebih 2 kilo meter dengan lebar kurang lebih 2 meter, semua aktivitas mengancam kerusakan lahan masyarakat dan habitat Anoa, sumber mata air vegitasi alam, dan memperbesar terjadinya tanah bencana longsor.

“Sebab itulah, alasan Aliansi Tahura Menggugat yang terdiri dari beberapa organisasi dan individu merdeka serta jaringan terus menyuarakan penolakan penolakan pembangunan bumi perkemahan dan track mountain bike,” jelas Usril saat membacakan tuntutannya.

Selain aksi dibeberapa titik, Aliansi Tahura Menggugat (ATM) mengelilingi jantung kota di kabupaten Sinjai dengan pawai menyuarakan suara rakyat tentang penolakan pembangunan Tahura Abdul Latif di Bumi Panrita Kitta sangat berbahaya.

Dalam Orasi pawainya, Lukman mengatakan, visi misi Bupati Sinjai, Andi Seto Gadhista Asapa dan wakil Bupati Sinjai Andi Kartini Ottong, akan memperbaiki kabupaten Sinjai, Namun, dengan adanya pembangunan perkemahan di Tahura justru Bupati yang akan merusak lingkungan di kabupaten Sinjai.

“Pengembangan Tahura tidak harus merusak hutan karena hanya untuk menjadikannya tempat wisata, segera hentikan pembangunan Bumi perkemahan di Tahura Abdul Latif Sinjai, dan pulihakan pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng,” tegasnya.

Sementara Sekretaris Jenderal Forum Pecinta Alam (FPA) Sinjai, Fandi yang turut serta dalam aksi unjuk rasa menegaskan bahwa pembangunan bumi perkemahan dan track sepeda di Tahura melanggar Perdirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

“Ini adalah aksi pembuka di tahun 2021. ATM tetap konsisten mengawal penolakan pembangunan karena selain melanggar Perdirjen nomor: p.02/IV-SET/2012 tentang Pembangunan Sarana Pariwisata Alam di Taman Nasional, Tahura dan TWA pasal 11, juga sangat mengancam ekologi pegunungan Lompobattang-Bawakaraeng sebagai Hutan Penyangga,” ungkapnya, saat ditemui ditengah aksi unjuk rasa.

Dalam aksi ini kata Fandi, juga menyuarakan penolakan terhadap segala potensi perusakan hutan terkait isu tambang di kawasan hutan lindung.

Lebih jauh Fandi menyebut, seperti aksi-aksi sebelumnya, suara penolakan juga dibawakan oleh pemerhati lingkungan yang berasal dari Kabupaten Bulukumba. Dalam orasi Ketua KPA Papparapi Hery Manompo, Dia mengatakan bahwa mereka akan akan selalu hadir bersama ATM, karena Kabupaten Bulukumba juga merupakan daerah yang akan berdampak langsung oleh rusaknya hulu sungai Balantieng.

“Kami akan konsisten untuk terus mengawal kasus ini sampai tuntas dan menghentikan oknum-oknum yang mau merusak hutan. Harusnya Bupati Sinjai belajar di kabupaten-kabupaten lain yang saat ini berduka karena terjadinya gempa dan tanah longsor. Tapi Bupati Sinjai seakan tutup mata dengan hal ini,” pungkasnya.

Suara penolakan terus menggema, api Perlawanan terus menyala. (Jumardi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *