oleh

Ustad Alfan, Sang Khatib Bersuara Khas Telah Tiada

KAGET begitu membaca berita duka di grup Fokal (Forum Keluarga Al Washliyah), Innalillahi Waiina Ilaihi Rojiun, Ustad Alfan Abror Parinduri, (adik Ustad Hasan Husen Parinduri) telah wafat pada hari Jumat, 29 Januari 2021/16 Jumadil Akhir 1442 H, pada pukul 15.30 Wib di Kota Bekasi.

Kebiasaan saya, tidak mudah percaya terhadap sesuatu kabar. Lalu saya cek melalui telepon kepada abangnya, Ustad Husen dan dibenarkan adanya berita duka tersebut. Ustad Alfan menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit setelah dirawat di ICU selama 10 hari. “Alfan sudah gak ada Bang,” kata Husen nada sedih. Ia mengaku selama adiknya dirawat, ia tidak boleh bezuk sesuai aturan protokol Covid.

Almarhum Ustad Alfan menghadap Sang Khaliq dalam usia 44 tahun. Dari segi umur almarhum tergolong muda, energik dan da`i berwawasan, yang memiliki ciri suara khas. Yaitu berat atau tone tajam dan menghunjam ke sanubari.

Allah sayang kepada beliau dan dipanggil lebih dahulu. Sungguh banyak kenangan bersama almarhum, yang merupakan satu di antara da`i atau khotib yang banyak mengisi kajian di masjid dekat rumah ku.

Yang paling saya ingat, almarhum sering menanyakan kondisi jemaah masjid dekat rumah. Perhatian cukup besar dan peduli kepada jemaah. Bahkan almarhum dalam 10 tahun terakhir ini menjadi khatib Jumat.

Menurut sejumlah jemaah, intonasi suaranya itu yang berbeda dengan khotib yang lain. Materi khutbah lugas dan cepat dipahami jemaah, termasuk pada saat menjadi Khotib Idul Fitri/Idul Adha beberapa tahun lalu.

Kepada saya, beliau selalu minta komentar, penilaian atau tanggapan atas konten ceramah atau khutbah nya. Jujur, saya bilang, cocok dan sesuai dengan kondisi.Tidak bikin malu kader dan pendidik Al Washliyah. “Ah abang bisa aja,” jawabnya sambil senyum.

Isi khutbah mengalir begitu saja, dilengkapi dalil Al Qur`an dan Hadist, isinya mengena kepada jemaah masjid yang berada di tengah perumahan. Selain peduli terhadap jemaah masjid, ia juga sering menanyakan kondisi saya, “Apa kabar bang?” katanya, via whatsaap atau bertemu di masjid. Dia juga beberapa tahun lalu mempertanyakan kenapa saya mundur dari PB Al Washliyah dan aktivitas setelah pensiun dari Harian Pos Kota, Jakarta.

Banyak kenangan bersama Ustad Alfan, diajak diskusi oke, diajak debat oke. Diajak bicara organisasi Al Washliyah dan keprihatinan nya, juga banyak terlontar kritikan dan solusi.

Allah SWT berkehendak lain, Allah SWT lebih sayang kepada beliau. Ia telah kembali dan meninggalkan keduniaan, meninggalkan anak dan istri, meninggalkan rekan dan sahabat. Semoga ilmu dan kebaikannya menjadi penambah amal ibadah beliau menuju akhirat. Terus terang, jemaah masjid, jemaah Al Washliyah kehilangan sosok ustad yang berhati mulia dan bersuara khas.

Sedihnya, beberapa hari lalu, saya dapat kabar bahwa Ustad Alfan sakit dan teman-teman grup Fokal berbagi juz Al Qur`an untuk kesembukan Ustad Alfan. Saya belum tahu bahwa beliau kena Covid, dan wea ke nomor terbarunya, menanyakan apa benar dia sakit, pun belum terjawab hingga tersiar kabar bahwa beliau telah menghembuskan nafas terakhir pada waktu Ashar.

Terima kasih ustad, terima kasih adinda, engkau telah membantu dan mendukung saya sewaktu menjabat Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Almarhum telah bersedia mengalokasikan waktunya untuk masuk di jajaran khatib. Hanya saja, tahun 2021 ini nama Ustad Alfan tidak tercantum lagi dalam daftar khotib seiring pergantian pengurus.

Allahumaghfirlahu Warhamhu wa`afihi wa`fu anhu waakrim nuzulahu wawassi` madgholahu wakhsilhu bil ma`i
wassalzi walbarodi wanaqqihi minal khotooyaa kamaa yunaqqos shoubul abyadhu minnaddhanasi waabdilhu daroon mindaarihi waahlan khoiron min ahlihi wazauzaan min zauzihi waqihi fitnatul qobri waazaban naar.
Al Fatihah
[syamsir]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *