oleh

Berinfaq Untuk Mensucikan Cinta Harta

TIDAK diragukan lagi bahwa harta yang diberikan oleh Allah kepada manusia sangat dicintai oleh manusia, sebagaimana firman-Nya, “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. al-Fajr: 20). Dan dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil karena cintanya pada hartanya.” (QS. al-‘Aadiyaat:8).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kecondongan hati manusia dengan harta. Beliau bersabda, “Jika anak Adam memiliki satu lembah harta pasti, dia ingin memiliki lembah yang kedua. Jika dia telah memiliki dua lembah, ia pasti ingin memiliki yang ketiga. Dan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali debu. Allah memberi tobat kepada yang bertobat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Dua orang pelahap yang tidak pernah kenyang yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. (HR. Al-Bazzaar). Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia.” Rasulullah Saw menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain, niscaya kamu akan dicintai oleh manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Cinta yang sangat pada harta serta ketamakan untuk mengumpulkan dan memperbanyaknya meski sebenarnya tidak memerlukan kecuali sepersepuluh dari yang dimilikinya, ini menjadi perhatian Islam. Islam memperhatikan bagaimana merendam dan mengarahkan cinta ini dan membuatkan manhaj dalam meringankan ketergantungan hati manusia dengan harta. Islam juga mengarahkan kita untuk bekerja dan memberikan infak sebagai salah satu bentuk mentahdzib rasa cinta harta ini. Islam mencegahnya dari sifat tamak, loba, dan egois. Manhaj atau metode ini berdiri pada penyucian jiwa kita dan membebaskannya dari belenggu yang memasungnya. Juga mengeluarkannya dari kebakhilan serta mengantarkannya pada kedermawanan dan infaq.

Di antara hal yang dapat menyucikan jiwa dari kebakhilan adalah infaq dan sedekah dalam berbagai jalan kebaikan. Karena itu, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi safaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 254).

Dan dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195).

Di antara hal yang dapat mensucikan jiwa dan membersihkannya dari penyakit kikir adalah jika seorang muslim menginfakkan dari hartanya yang paling baik dan bagus. Jika ia memiliki makanan, maka ia menginfakkan makanan yang paling baik yang dimilikinya dan tidak memberikan makanan yang rendah kualitasnya.

Sudah dimaklumi bahwa manusia mencintai harta sampai dikatakan bahwa harta adalah saudara kandung jiwa manusia. Siapa yang menginginkan hidupnya, maka ia menginginkan hartanya. Jiwa yang kikir ini jika pemiliknya berpikir dan melawan keinginannya serta memberikan sebagian hartanya, maka ia telah mensucikan jiwanya dari kikir dan bakhil. Ia mampu mengalahkannya dan mengalahkannya. Dan, jadilah kedermawanan menjadi sifatnya.

Infak menyelamatkan dari neraka dan mengantarkan kemenangan mendapat surga. Di antara buah menafkahkan harta di jalan Allah, bahwa hal itu dapat melindungi pemiliknya dari neraka dan memasukkan ke dalam surga. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Takutlah kalian pada neraka walau dengan sebutir kurma.” Sedekah dapat memadamkan kesalahan. Artinya, dapat menghapus dosanya. Sesungguhnya kebaikan dapat menghapus keburukan.

Infaq menjaga pemiliknya dari panasnya Hari Mahsyar. Pada hari itu, panas menyengat sangat dahsyat. Keringat luar biasa, menenggelamkan manusia dalam keringatnya sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Siapa yang saleh dan menjalankan amal taat kepada Allah serta menjauhi maksiat, maka diringankan keringatnya. Siapa yang tenggelam dalam maksiat, maka ia akan mengalami saat-saat susah dan menderita serta merasakan dahsyatnya panas mahsyar.

Akan tetapi, di sana ada beberapa kelompok manusia yang tidak mengalami siksaan karena keringat itu. Bahkan, Allah melindungi mereka pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Di antara mereka adalah orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah dan demi mendapatkan ridha-Nya. Ia menyembunyikannya hal itu karena takut riya yang dapat memusnahkan pahala.

Islam menetapkan bahwa semua harta yang ada di tangan manusia adalah milik Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (an-Nuur: 33). Juga menetapkan bahwa jamaah diberi kesempatan oleh Allah menguasai harta itu. Firman-Nya juga, “Dan infaqkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (al-Hadiid: 7).

Allah menjadikan seseorang sebagai wakil dari jamaah untuk berinfaq atas nama pribadinya dan yang lainnya. Jika ia baik dalam menjadi wakil dan baik dalam menginfaqkan harta, maka ia mendapat pahala infaknya. Jika ia tidak baik menjadi wakil dan buruk dalam menginfaqkan dan membelanjakan harta karena bodohnya atau karena hal lainnya, maka ia dilarang untuk membelanjakan hartanya yang pada hakikatnya adalah harta jamaah. Sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (an-Nisaa: 5).

Allah telah memberikan kehidupan dan harta kepada kita mewajibkan agar sebagian dari harta itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, kaum fakir miskin, dan kepentingan umum yang penting bagi masyarakat. Di antara yang membuat jiwa orang kaya siap menginfakkan hartanya adalah menyalurkannya untuk kepentingan umum.

Islam juga telah menggariskan tujuan menginfaqkan harta. Bukan untuk riya dan menyaingi orang lain. Akan tetapi, tujuan dari infaq adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Artinya, menginfaqkan harta dalam semua jalan kebaikan. Allah mencela orang-orang kafir karena mereka menginfaqkan harta mereka untuk di lihat dan dipandang orang lain. Dalam hal ini Allah berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Dan barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu teman yang seburuk-buruknya.” (an-Nisaa: 38).

Allah juga memuji kaum mukminin yang memberi makan dengan makanan kepada yang membutuhkan makan demi mendapatkan ridha Allah, demi memperoleh pahala-Nya, dan takut pada siksa-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. ‘Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.’ Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (al-Insaan: 8-11). Semoga kita bisa menyucikan harta kita dengan jalan menginfaqkan harta kita untuk mencapai keridhaan-Nya. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *