oleh

Belajar Puasa Seperti Kupu-Kupu

BILA kita melihat kupu-kupu yang indah, kadangkala kita lupa bahwa kupu-kupu itu berasal dari ulat.

Ulat bukan saja menjijikkan bagi banyak orang, melainkan juga dapat menimbulkan kegatalan yang tidak terperikan bagi yang menyentuhnya.

Tetapi ulat yang menjijikkan karena bentuk badannya yang “wagu” dan bulu-bulunya yang berbahaya itu dapat berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Warna sayap kupu-kupu kadangkala sangat menakjubkan dan ia terbang dari bunga yang satu ke bunga yang lain, menghisap saripati bunga.

Anak-anak punya banyak nyanyian dalam berbagai bahasa tentang kupu-kupu yang indah. Padahal, sekali lagi kupu-kupu yang indah itu berasal dari ulat yang buruk bentuk dan sifatnya.

Nah, ternyata ada masa transisi atau transformasi yang harus dilalui oleh ulat tersebut agar menjadi kupu-kupu yang indah.

Ternyata ulat tadi harus bertapa (puasa) dalam sebuah kepompong untuk masa tertentu, sebelum menjadi kupu-kupu.

Ulat yang semula sangat serakah dan suka melahap daun-daun segar (merusak), tiba-tiba seperti tahu diri dan menghentikan keserakahan nya. Ia bersembunyi dalam sebuah kepompong.

Di dalam kepompong itulah ulat yang menjijikkan itu mengalami metamorfose atau peralihan bentuk. Ia kemudian menjadi kupu-kupu yang lucu, elok dan seronok.

Terbukti, puasa ulat tadi berhasil baik, sehingga ia menjadi makhluk yang lain sama sekali berbeda dan berakhir dengan baik, berkat puasanya yang panjang.

Ada kemiripan antara ulat yang bertapa dengan manusia yang berpuasa Ramadhan. Setelah sebelas bulan manusia makan dan minum tanpa henti, bahkan adakalanya berlebihan.

Kita harus segera berhenti dan memulai berpuasa. Perut besar dan jasmani kita, kita istirahatkan agar mau “bertapa”.

Insya Allah dengan menahan lapar dan dahaga serta menghindari hal-hal yang terlarang oleh agama, sejak Subuh sampai Maghrib selama sebulan utuh, kita akan keluar dengan sikap mental dan sikap hidup yang lebih siaga, bahkan baru.

Sikap mental kita yang semula seperti ulat yang serakah dan tidak kenal malu, lewat ibadah puasa, mudah-mudahan menjadi sikap mental kupu-kupu yang indah, yang bebas dan selalu berseri dicintai oleh masyarakat sekitar.

Puasa memang pada hakekatnya sebuah perjuangan untuk mengubah diri sendiri kearah yang lebih baik.

Jika kita tidak mengalami perubahan setelah berpuasa, maka tentu kita “lebih rendah” daripada ulat.

Demikian kita maknai puasa Ramadhan, kita yang banyak salah dan dosa, hendaknya belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang bertakwa.

Juga disayang Allah SWT, senantiasa menyebar kebaikan, kelembutan dan keindahan, serta tidak suka berbuat kegaduhan dan kerusakan di manapun kita berada.

Sebagaimana sifat kupu-kupu hinggap di sebuah dahan yang tak akan pernah ada yang patah sekecil apa pun dahan yang dihinggapinya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”.(QS. Ar Ra’d : 11).

Wallahu a’lam bish shawab.

Aswan Nasution

Penulis Adalah Akitvis Al Jam’iyatul Washliyah Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *