ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nûr, ayat 31, : ” … Dan bertaubat kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
Rasulullah Saw. bersabda, : “Sesungguhnya Allah merentangkan tangan-Nya lebar-lebar di waktu siang untuk menerima taubat orang yang membuat kejahatan di waktu malam. Dan Dia membuka tangan-Nya lebar-lebar di waktu malam untuk menerima taubat orang yang membuat kejahatan di waktu siang. (Keadaan seperti ini berlangsung terus) hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim).
Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan _maqam_ pertama bagi kita sebagai Muslim. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah “kembali”. Kata _taba_ berarti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya, kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju sesuatu yang dipuji dalam syariat.
Allah Swt berfirman dalam surat Az-Zumat, 39: 54, : “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.”
Taubat itu bukan sekedar ucapan di ujung lidah dengan menyebut Astaghfirullah! Aku bertaubat kepada Allah! Sedang hatinya tidak pernah menyesal, membersihkan dan menjauhkan diri dari dosa.
Nabi Muhammad Saw bersabda, : “Wahai sekalian manusia! Bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum mati. Gunakanlah kesempatan yang ada untuk beramal saleh sebelum kalian disibukkan oleh urusan kerja. Hubungkanlah pertalian antara kamu dengan Tuhanmu dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya”.
Rasulullah Saw bersabda, : “Orang yang bertaubat dari dosanya, maka dia seperti orang yang tidak berdosa.” (HR. Thabrani).
Para ulama sepakat bahwa menentukan beberapa syarat taubat yang harus dipatuhi, dan tidak akan sempurna sesuatu taubat, melainkan tiga perkara berikut ini : a. menyesali diri atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya; b. menyucikan diri dari dosa. Yakni, taubat nya tidak akan berarti, manakala ia masih melakukan dosa yang sama dan tidak berhenti daripada nya, atau meninggalkan jalan licin (kesesatan) pada saat melakukan dosa; c. ber’azam tidak akan melakukan dosa lagi sepanjang hidupnya atau berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran serupa.
Ketiga syarat ini harus menyertai taubat seorang mukmin kepada Tuhannya. Setelah bertaubat dari dosa-dosa tadi, hendaknya kita senantiasa meletakkan diri kita pada perasaan antara takut dan harap. Berharap agar Allah Swt menerima taubat nya dengan karunia dan belas kasih-Nya, dan takut sekiranya Allah Swt. tidak menerima taubatnya, lantaran bimbang jika taubat nya tidak dilakukan secara sempurna, sesuai dengan tata cara yang telah diperintahkan Allah, sehingga ia menjadi orang yang tidak bertaubat kepada Allah secara benar.
Imam al-Ghazali ketika menjelaskan hakikat tobat, antara lain berkata, “Ketauhilah bahwa sesungguhnya tobat adalah sebuah istilah yang maknanya tersusun atau terangkai dari tiga komponen, masing-masing ilmu, _hal_ (keadaan atau kondisi), dan perbuatan. Secara berurutan, ilmu terletak di posisi pertama, hal di posisi kedua, sementara perbuatan di tempat ketiga. Adanya komponen pertama merupakan penyebab bagi munculnya komponen kedua. Demikian juga komponen kedua merupakan penyebab munculnya komponen ketiga.”
Maksud dari ilmu adalah pengetahuan tentang begitu besarnya bahaya dosa serta pemahaman bahwa dengan kebaikan atau kebahagiaan. Jika seseorang telah memahami hal ini dengan sungguh-sungguh dan meyakinkan maka tentu akan timbul rasa penyesalan mendalam di hatinya apabila dirinya sampai terhalang dari kebaikan yang di-idam-idamkan nya itu. Hal ini disebabkan secara fitrah hati seseorang akan merasa sakit ketika terjauhkan dari kebahagiaan maupun hal-hal yang dicintainya.
Selanjutnya, ketika dia menyadari bahwa terhalang nya dirinya dari kebaikan itu adalah disebabkan perbuatannya sendiri maka tentu akan segera muncul rasa penyesalan di hatinya setelah melakukan suatu perbuatan kejahatan, kezaliman dan kemaksiatan serta melanggar hukum agama. Apabila rasa penyesalan ini membesar dan akhirnya meliputi setiap relung hati orang itu maka pada proses selanjutnya akan membersit suatu dorongan atau keinginan untuk melakukan perbuatan tertentu yang berkaitan erat dengan keadaannya, baik sekarang, masa lampau, maupun di masa akan datang.
Adapun kaitan antara rasa penyesalan yang timbul di hati seseorang dengan keadaannya yang sekarang adalah akan timbul dorongan untuk segera meninggalkan dosa yang tengah membalutnya tersebut. Sementara kaitannya dengan masa depan orang itu adalah timbulnya tekad untuk tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang menghalanginya dari kebahagiaan hidupnya itu sampai akhir hayat. Sedangkan korelasinya dengan masa lalu orang itu adalah timbulnya keinginan untuk mengubur dalam-dalam segala perbuatan jahat, zalim yang telah dia lakukan di masa lampau tersebut.
Seterusnya, kita sebagai Mukmin yang sejati, berkewajiban memelihara diri dari segala dosa secara benar dan menyeluruh. Sebab melakukan dosa dan maksiat hanya akan mendatangkan kutukan dan kemurkaan Allah Swt. Dan demikian itu adalah sumber segala bala’ dan bencana yang akan membinasakan diri kita di dunia dan akhirat.
Karena itu, jika kita telah melakukan dosa, hendaklah diri kita segera bertaubat kepada Allah Swt. dari dosa itu, tidak berkeinginan untuk mengulang dosa itu lagi, atau melakukannya lagi sesudah bertaubat, dan menyasali diri atas dosa yang terjadi itu. Setiap diri kita harus senantiasa bertaubat kepada Allah, dan memperbarui taubat itu di setiap saat dan kesempatan. Sebab, kita tentu telah banyak sekali melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, dosa yang tersembunyi maupun dosa yang tampak, dosa yang kita ketahui maupun tidak.
Dan terkadang, dosa itu disebabkan kelalaian tidak mau menuntut ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang dosa dan pahala. Dan mungkin pula dosa itu ada pendahuluan dan sebab-sebab yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pilihan diri.
Maksud dari QS. 39: 54, adalah “cepatlah bertaubat dari segala macam kemaksiatan dan ikhlaskanlah amal kebaikanmu untuk Allah. Berserah dirilah kamu, serta tunduklah terhadap hukum-Nya sebelum azab datang kepadamu, kemudian kamu tidak akan dapat ditolong lagi.”
Rasulullah Saw bersabda, : “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya, selagi rohnya belum sampai di tenggorokan (hampir lepas nyawanya).” (HR. Tirmidzi). Dalam Sabda yang lain, “Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari sebelah barat, maka Allah akan menerima tobatnya.” (HR. Muslim).
Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. Tâhâ, 20:82). Semoga taubat kita diterima Allah Swt. Wallahu A’lam bish Shawabi.
Karsidi Diningrat
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat







Komentar