oleh

Peluang Biznis Perawatan Lansia, Arunala: Kuncinya Tarif Terjangkau

JAKARTA – Bisnis perawatan lanjut usia (lansia) di Indonesia menyimpan potensi besar seiring meningkatnya jumlah penduduk berusia lanjut. Namun, tingginya biaya layanan membuat sejumlah panti lansia swasta kesulitan menarik konsumen.

Riset Arunala Institute and Foundation Indonesia mengungkapkan, tingkat keterisian panti lansia swasta bertarif Rp 4,5 juta hingga Rp 8,5 juta per bulan rata-rata hanya 60 persen. Sebaliknya, fasilitas dengan tarif terjangkau sekitar Rp 1,5 juta per bulan terisi penuh hingga 100 persen.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Dialog Kebijakan Perawatan Lansia di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Hasil kajian menunjukkan, persoalan utama bukan minimnya kebutuhan masyarakat, melainkan ketidaksesuaian tarif layanan dengan kemampuan ekonomi keluarga.

Sebanyak 74 persen rumah tangga perkotaan menyatakan anggaran realistis untuk perawatan lansia masih di bawah Rp 3 juta per bulan. Bahkan, ketika tarif layanan harian atau day care naik dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,4 juta per bulan, kesediaan membayar turun dari 72 persen menjadi 45 persen.

Direktur Eksekutif Arunala Institute Indonesia, Dyah Larasati, mengatakan pelaku usaha perlu mengubah strategi dengan menghadirkan layanan yang lebih fleksibel dan terjangkau. “Pasar perawatan lansia di Indonesia bukan kurang permintaan, melainkan mengalami kesenjangan antara desain produk dan daya beli konsumen,” ujarnya.

Menurut Dyah, pengembang dapat memulai dari layanan care centre berbasis komunitas, kemudian mengembangkan fasilitas hunian lansia atau residential live-in secara bertahap. Dengan begitu, masyarakat memiliki pilihan perawatan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Riset tersebut juga menemukan munculnya calon konsumen baru dari kelompok usia 40–50 tahun atau generasi sandwich yang mulai mempersiapkan masa tua mereka sendiri. Sebanyak 91 persen responden perkotaan terbuka memanfaatkan care centre jika diperlukan, sedangkan 95 persen menilai fasilitas perawatan lansia tidak bertentangan dengan nilai agama dan keluarga selama anak tetap terlibat.

Faktor yang membuat konsumen bersedia membayar lebih meliputi tenaga pendamping profesional bersertifikat sebesar 68 persen, pemantauan kesehatan rutin 58 persen, serta fasilitas kenyamanan 37 persen.

Untuk memperluas akses layanan, Arunala merekomendasikan tarif awal community care sekitar Rp 1,5 juta per bulan, disertai kegiatan sosial, pendampingan profesional, dan pemeriksaan kesehatan berkala. Pemerintah daerah dan pengelola swasta juga didorong menjajaki kemitraan melalui skema pembiayaan bersama atau voucher untuk memanfaatkan kapasitas panti yang belum terisi.

Sementara itu, sektor keuangan dapat mengembangkan tabungan dan asuransi khusus persiapan masa tua agar masyarakat mampu merencanakan biaya perawatan sejak dini.

Arunala menilai pengembangan ekonomi perawatan lansia perlu dibarengi peningkatan mutu layanan dan penghapusan stigma terhadap panti lansia. Sertifikasi tenaga pendamping, standar pelayanan medis dan nonmedis, serta rasio pendampingan yang jelas dinilai penting untuk membangun kepercayaan keluarga.

Melalui kajian ini, Arunala Institute and Foundation Indonesia mendorong kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk membangun sistem perawatan jangka panjang yang terjangkau, profesional, dan mampu menjaga martabat serta kesejahteraan warga lanjut usia. (din/jo) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *