oleh

Dinkes Jakarta Upayakan Percepat Waktu Tunggu Obat di Rumah Sakit

JAKARTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) terus berupaya mempercepat proses pengambilan obat di rumah sakit guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kepala Dinkes Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan waktu tunggu pengambilan obat bisa sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yakni maksimal satu jam.

“Kami terus dorong agar target waktu tunggu satu jam bisa tercapai, sebagaimana yang ditetapkan dalam SPM,” ujar Ani di Jakarta, Jumat (25/7). Saat ini waktu tunggu pengambilan obat masih bervariasi di sejumlah rumah sakit. Bahkan, ada yang mencapai 3 hingga 5 jam, terutama untuk obat racikan, obat khusus anak-anak, dan obat untuk ibu hamil.

Salah satu langkah yang sedang ditingkatkan adalah pemanfaatan sistem rekam medis elektronik (e-medical record). Dengan sistem ini, resep dari dokter langsung dikirimkan ke instalasi farmasi, memungkinkan proses penyiapan obat dilakukan lebih awal.

“Begitu dokter selesai menulis resep, farmasi sudah bisa mulai menyiapkan obat, jadi pasien tidak perlu menunggu terlalu lama saat sampai di loket,” jelasnya.
Selain memanfaatkan teknologi digital, Dinkes juga meninjau kebutuhan tenaga farmasi serta mengevaluasi sistem pelayanan yang ada. Ani menilai, lamanya antrean tidak hanya dipengaruhi oleh sistem, tetapi juga oleh ketersediaan sumber daya manusia dan pola kerja yang belum efisien.

Sebagai tambahan solusi, Dinkes telah membuka layanan pengantaran obat langsung ke rumah pasien. Meski begitu, Ani mengakui tingkat pemanfaatan layanan ini masih rendah. “Layanan antar ini sebenarnya bisa memangkas antrean di rumah sakit, tapi masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkannya,” ujar Ani.

Ia menegaskan, pembenahan menyeluruh terhadap manajemen layanan farmasi akan terus dilakukan guna memastikan pelayanan kesehatan semakin cepat dan tepat sasaran. “Intinya, kami ingin pasien bisa mendapatkan obat dengan lebih cepat, baik melalui pelayanan langsung maupun lewat pengantaran. Semua opsi sedang kami evaluasi agar lebih efektif,” pungkas Ani. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *