JAKARTA – Para kepala sekolah (Kepsek) di wilayah Jakarta Pusat (Jakpus) diminta untuk mengaktifkan bank sampah di lingkungan sekolah.
Langkah ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
“Saya mendorong kepala sekolah ataupun guru tidak hanya memberikan pendidikan intelektual namun, juga dalam hal pengelolaan lingkungan yakni pengelolaan pengaktifan bank sampah,” kata Wali Kota Jakpus, Arifin, kemarin dihadapan 200 an Kepsek pada acara membahas pengaktifan bank sampah di lingkungan sekolah di kantor Wali Kota Jakpus.
Menurut Arifin, ini salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengiriman sampah ke TPST Bantargebang, setidaknya untuk keseluruhan Jakarta itu sekitar 7.500 ton/hari sampah yang dikirim dan untuk Jakarta Pusat itu sekitar 2.000-an ton/hari.
Tadi, lanjutnya, bersama menyaksikan presentasi dari SD Santa Ursula, bagaimana sekolah tersebut mampu mengelola sampah, hal tersebut dilakukan bukan baru-baru ini, namun sudah lama, sehingga dapat menjiwai ke siswa-siswanya, sifatnya menular tidak hanya di sekolah, namun juga dipraktekan di luar lingkungan sekolah.
Arifin menjelaskan, total sekolah yang ada di Jakarta Pusat sebanyak 508 dan yang sudah aktif mengelola sampah itu sebanyak 106 sekolah.
“Ini artinya belum ada setengah dari jumlah total sekolah yang menerapkan bank sampah, akan kita dorong terus sekolah lain untuk menerapkan hidup sehat dengan mengaktifkan bank sampah,” jelasnya.
“Pengelolaan sampah yang baik tentunya akan berdampak pula pada kesehatan lingkungan sekitar,” imbuh Arifin.
Arifin berharap pada tahun ini, sekolah lain yang belum aktif dalam bank sampah, dapat ikut menggelorakan bank sampah, sehingga tonase sampah yang disumbangkan Jakarta Pusat, kian hari terus berkurang.(*/ta)







Komentar