BOGOR – Perairan laut Indonesia kaya akan sumberdaya hayati laut karena didukung oleh ekosistem tropis, seperti mangrove, lamun dan terumbu karang.
Sumber daya laut telah memberikan kontribusi 50 juta ton/tahun untuk produksi perikanan, dan menyumbang 7,9 persen terhadap produksi domestik bruto (PDB).
Potensi perikanan dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, Kesehatan laut Indonesia sangat penting dalam mempertahankan keberlanjutan sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14 tentang kehidupan di bawah laut melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan berkelanjutan.
Menurut Prof. Dr. Ir. Tri Prartono, MSc, guru besar tetap dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, pencemaran adalah salah satu dari delapan ancaman global atas gangguan keberlangsungan sumber daya laut selain pemanasan global, pertambangan, penangkapan ikan berlebihan, wisata tidak terkontrol, pengasaman laut, sedimentasi dan perusakan hutan mangrove.
Menurut guru besar tetap dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini, logam berat adalah salah satu jenis bahan pencemar sangat berbahaya yang mengancam kerusakan laut termasuk ikan dan lain lain.
Menurut peraih penghargaan Setya Lencana Karya Satya 30 tahun 2018 ini, logam berat di laut dapat terabsorpsi ke dalam berbagai organisme termasuk kerang, udang, rumput laut dan ikan. “Hal ini mengakibatkan kualitas sumberdaya menjadi menurun, dan pada tingkat tertentu dapat membahayakan menusia yang mengkonsumsinya,” kata Prof Tri, Kamis, 23 Januari 2025.
Ketua Departemen ilmu dan kelautan tahun 2014-2008 ini menambahkan, assessmen logam berat di air dan sedimen baik secara total maupun partisi geokimiawi selama periode 2015-2024 telah dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, dan sudah ada indikasi pencemaran.
“Contoh Sedimen Teluk Jakarta, logam Ni, As, Cd, dan Hg di sedimen. Teluk Jakarta sudah melebihi baku mutu; As dan Hg di Tanjung Pinang, dan Hg di Lhokseumawe, Ambon, dan Sumatera Utara. Tingkat pengayaan pengayaan (EF) logam As, Ni, Cu, Zn, dan Hg di sedimen Teluk Jakarta dapat digolongkan sangat tinggi. Logam As sangat tinggi di sedimen pesisir Lhokseumawe, Tanjung Pinang dan Ambon,” ujar Wakil Kepala Bidang Inovasi dan Alih Teknologi tahun 2020-2022 kepada wartawan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan analisis partisi geokimiawi menunjukkan, komposisi logam sedimen yang potensi mudah diserap dan tidak mudah diserap oleh organisme (bioavailable/non-detrital) bervariasi.
“Analisis logam berat ini penting untuk menilai Indeks Kualitas Air Laut (IKAL) sebagai bagian dari penilaian perairan laut bersih pada Indeks Kesehatan Laut Indonesia,” tegasnya. (***)







Komentar