Oleh: Karsidi Diningrat
ALLAH subhanahu wata’ala telah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS. Az-Zalzalah, 99:7-8).
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan masing-masing orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya. Karena itu barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya kepada perkara duniawi, ia memperolehnya, atau kepada wanita, ia menikahinya; hijrah seorang hanya kepada apa yang menjadi tujuan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sesunggunya sah atau sempurnanya semua amal perbuatan hanyalah terletak pada niat masing-masing. Sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh hasil sesuai dengan apa yang telah diniatkan sebelum itu. Dengan kata lain, barangsiapa yang niatnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya pasti kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang niatnya untuk memperoleh harta duniawi, maka yang diperolehnya hanyalah harta duniawi dan di akhirat nanti ia tidak akan memperoleh apa-apa kalaupun bukan siksaan. Atau niatnya itu untuk memperoleh wanita maka niscaya ia akan menikahinya.
Hadits ini menegaskan bahwa seseorang yang hendak berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia mengikhlaskan niatnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk tujuan lain, baik itu karena harta duniawi, wanita atau tujuan-tujuan lain.
Allah Tidak Melihat Bentuk Kalian
Dalam hadits lain Nabi Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. tidaklah melihat kepada bentuk-bentuk kalian, dan tidak kepada kedudukan kalian, serta tidak pula kepada harta benda kalian, akan tetapi Dia melihat kepada kalbu kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Thabrani).
Juga dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. tidak mau menerima amal (seseorang) kecuali amal perbuatan yang ikhlas karena-Nya, dan diharapkan untuk mendapat pahala-Nya.” (HR. Nasa’i melalui Abu Umamah).
Syarat yang menentukan bagi diterimanya suatu amal kebaikan ialah ikhlas karena Allah dan mengharapkan pahala-Nya, bukan karena riya atau pamer atau tujuan-tujuan lain. Sehubungan dengan hal itu Allah swt. telah berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (kepada-Nya).” (QS. Az-Zumar: 11).
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengampuni umatku terhadap hal-hal yang terbetik dalam hatinya selagi mereka tidak mengerjakannya, atau membicarakannya. Sesungguhnya Allah mengampuni umatku terhadap hal-hal yang dibisikan oleh suara hatinya selagi mereka tidak mengerjakannya atau membicarakannya.” (HR. Jamaah).
Salah satu keistimewaan yang dimiliki umat Nabi Muhammad ialah mendapat ampunan dari Allah tentang hal-hal yang terbetik dalam hati mereka, selama mereka tidak mengerjakannya atau membicarakannya kepada orang lain.
Bisikan hati, menyangkut bisikan hati yang bila dikerjakan atau dibicarakan pelakunya mendapat dosa. Demikianlah keistimewaan yang dimiliki oleh umatnya.
Allah Mencatat Semua Kebaikan dan Keburukan
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencatat semua kebaikan dan keburukan. Kemudian Dia menjelaskan hal tersebut, barangsiapa berniat untuk mengerjakan suatu kebaikan lalu dia tidak mengerjakannya maka Allah menuliskan (mencatat) untuknya suatu kebaikan secara penuh di sisi-Nya. Dan apabila dia berniat lalu dia mengerjakannya maka Allah mencatat pahala sepuluh kebaikan di sisi-Nya hingga tujuh ratus kali lipat dan bahkan lebih banyak lagi. Dan barangsiapa berniat mengerjakan suatu keburukan lalu dia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat pahala suatu kebaikan secara penuh di sisi-Nya. Apabila dia berniat untuk mengerjakannya lalu ternyata dia benar-benar mengerjakannya, maka Allah mencatat untuknya dosa satu keburukan saja.” (HR. Muslim dan Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a.).
Dalam hadits di depan (sebelum hadits ini) telah disebutkan, bahwa Allah Swt. memaafkan umat dari hal-hal yang terbetik di dalam hatinya, selama mereka tidak mengerjakan atau membicarakannya. Sedangkan dalam hadits ini disebutkan tentang cara pencatatan amal-amal kebaikan dan keburukan. Jadi ketentuannya: barangsiapa yang berniat mengerjakan suatu kebajikan, lalu ia mengerjakannya, maka ia beroleh pahala sepuluh kali lipat dari amalnya, dan pahalanya itu terus dilipatgandakan lagi hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai tak terhitung jumlahnya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Allah Swt. telah berfirman, “Apabila hamba-Ku bermaksud akan mengerjakan suatu kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, Aku catat satu kebaikan (pahala) baginya. Apabila mengerjakannya, Aku catat sepuluh kebaikan (pahala) baginya bahkan sampai seratus kali lipat. Apabila bermaksud mengerjakan keburukan kemudian tidak mengerjakannya, tidaklah Aku mrncatatnya sebagai keburukan baginya, tapi jika ia mengerjakannya, Aku catat satu keburukan (dosa) baginya.” (HR. Syaikhan melalui Abu Hurairah r.a.).
Alangkah beruntungnya menjadi orang mukmin karena setiap amal kebaikannya dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali dari amal kebaikannya, bahkan dengan sampai tujuh ratus kali lipat bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Apabila ia berniat untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian ia tidak melakukannya, maka Allah Swt mencatatkan baginya satu pahala kebaikan. Pahala ini sebagai imbalan dari niatnya yang tulus ikhlas, sekalipun ia tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa niat orang mukmin itu lebih baik dari amal orang kafir. Allah Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Mengurungkan Amal Buruk Tidak Dicatat
Lain halnya dengan amal keburukan; apabila ia berniat hendak melakukannya, kemudian ia mengurungkan niatnya, maka tidak dicatatkan amal keburukan terhadapnya, melainkan hanya bila ia melakukannya.
Dalam hubungan dengan hal ini, Allah Swt. telah berfirman, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqarah, 2:245).
Dan barangsiapa yang berniat mengerjakan suatu amal baik, lalu ia tidak mengerjakannya, maka ia memperoleh satu pahala kebaikan berkat niatnya itu. Dan barangsiapa yang berniat mengerjakan suatu keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatkan pahala satu kebaikan penuh baginya, berkat pengekangan diri dari memperturutkan hawa nafsunya.
Akan tetapi apabila berniat mengerjakan suatu keburukan, lalu ia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya satu dosa keburukan.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, “Aku merasa kagum terhadap dua malaikat yang kedua-duanya diutus turun ke bumi untuk mencari seorang hamba di mushalanya (masjidnya), dan ternyata keduanya tidak menemukannya, kemudian keduanya naik kembali ke langit seraya melaporkan: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kami biasa mencatat amal hamba-Mu yang mukmin itu sepanjang siang dan malam harinya, yaitu berupa amal demikian dan demikian. Dan sekarang ternyata kami tidak menemukannya (berada dalam mushallanya), sesungguhnya dia telah Engkau sekap di dalam ikatan-Mu, karena itu kami tidak mencatat sesuatu pun baginya. Maka Allah Swt. berfirman: “Catatkanlah oleh kamu berdua amal perbuatan yang biasa dikerjakan oleh hamba-Ku di sepanjang siang dan malam harinya, dan janganlah kamu berdua mengurangi catatan amalnya barang sedikitpun; Aku lah yang memberinya pahala karena Aku telah menyekapnya dan dia mendapatkan pula pahala amal perbuatan yang telah dikerjakannya.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Mas’ud r.a.).
Dapat disimpulkan dari hadits ini, barangsiapa yang biasa mengerjakan salat berjamaah, lalu di suatu waktu ia berhalangan tidak dapat mengikutinya karena alasan yang diakui oleh syari’at , seperti sakit, malapetaka, musibah, tha’un (penyakit menular), dan hal-hal lainnya, maka dicatatkan pahala yang sama untuknya seperti halnya ia salat berjamaah.
Mukmin yang Mengalami Sakit
Dalam hadits yang lain Nabi Saw. telah bersabda, “Tiada suatu perbuatan pun dalam sehari melainkan pasti ada penutupannya, apabila seorang mukmin mengalami sakit, maka berkatalah para Malaikat (pencatat amal perbuatan), “Wahai Rabb kami, hamba-Mu yang bernama Fulan telah Engkau tahan.” Rabb menjawab, “Tutuplah (buku catatan amal) miliknya dengan catatan amal yang semisal dengan biasanya hingga ia sembuh atau mati.” (HR. Hakim).
Barangsiapa yang biasa mengerjakan suatu amal kebaikan sebagai wiridnya, lalu pada suatu saat ia mendapat halangan yang diakui oleh syariat, maka dicatatkan baginya pahala yang sama seperti hari-hari sebelumnya karena sesungguhnya Allah Swt. Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya yang beramal saleh.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Bahwa beliau menyuruh kepada muadzdzin untuk menyerukan pada suatu malam yang sangat dingin dan adanya hujan sewaktu dalam bepergian: “Salatlah kamu dalam kemah masing-masing!.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits yang lain juga dijelaskan, “Kami keluar bersama Rasulullah Saw. dalam suatu perjalanan, kemudian kehujanan, maka beliau pun bersabda: “Siapa yang suka di antaramu, boleh salat dalam kemahnya sendiri-sendiri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).
Juga hujjah qaidah ushul fiqh: “menghilangkan mafsadat lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.”.
Oleh karena itu Rasulullah Saw. telah bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah agama, karena sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan agama mudah. Karena itu amalkanlah agama semampu kalian; sesungguhnya Allah Swt. menyukai amal saleh yang dikerjakan secara terus-menerus sekalipun ringan.” (HR. Abul Qasim).
Bersikap berlebih-lebihan dalam mengamalkan agama dan mencari batas maksimalnya merupakan hal yang dilarang oleh agama karena Allah telah menjadikan agama itu mudah dan tidak sulit, maka janganlah mempersulit diri, kerjakanlah darinya hal-hal yang mampu kita kerjakan, yakni sebatas kemampuan kita. Sesungguhnya Allah lebih menyukai amal saleh yang dikerjakan secara terus menerus sekalipun ringan. Wallahu a’lam bish-shawwab. (**)
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
*Wakil Ketua Majlis Pendidikan PB Al-Washliyah.







Komentar