oleh

Jangan Memandang Rendah Nikmat Allah SWT

Oleh: Karsidi Diningrat )*

RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ada dua watak, bilamana keduanya disandang oleh seseorang, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Apabila kedua watak tersebut tidak terdapat dalam diri seseorang, maka Dia tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Barang siapa melihat kepada orang yang lebih atas darinya dalam masalah agama, lalu ia mengikutinya; dan dalam masalah duniawi ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya, lalu ia memuji kepada Allah atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada dirinya, maka orang tersebut dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Barang siapa melihat kepada orang yang lebih rendah darinya dalam masalah agama, dan dalam masalah duniawi ia melihat kepada orang yang lebih atas darinya, lalu ia menyesali nasib dirinya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai orang yang bersabar.” (HR. Tirmidzi melalui Amr r.a.).

Dalam hadits yang senada disebutkan, “Dua hal apabila dimiliki seorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Tirmidzi).

Juga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah darimu, dan jangan engkau lihat orang yang di atasmu. Hal itu lebih baik agar engkau tidak memandang remeh nikmat Allah kepadamu,” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Orang yang bersyukur lagi bersabar ialah seseorang yang dalam masalah agama dan amal soleh meniru orang yang lebih tinggi darinya, sedangkan dalam masalah duniawi ia memandang kepada orang yang lebih rendah darinya. Orang yang tidak bersyukur lagi tidak bersabar ialah seseorang yang dalam masalah agama dan amal soleh memandang kepada orang yang lebih rendah dari dirinya, sedangkan dalam masalah duniawi memandang kepada orang yang lebih tinggi dari dirinya.

Hadits-hadits di atas, sungguh ini adalah wasiat yang bermanfaat dan kata-kata yang menyeluruh. Hadist ini menegaskan perintah bersyukur kepada Allah dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, membicarakannya, menjadikannya sebagai sarana melaksanakan ketaatan, dan melaksanakan seluruh sebab yang mengantarkan kepada syukur. Syukur kepada Allah adalah pokok ibadah dan dasar kebaikan. Allah telah mewajibkan syukur kepada para hamba-Nya, karena segala nikmat yang diterima hamba baik yang lahir atau batin dan yang khusus atau yang umum datangnya dari Allah Ta’ala. Dialah yang membawa kebaikan dan menjauhkan segala kesusahan dan keburukan. Oleh karena itu Allah berhak menerima syukur dari para hamba sekuat tenaganya. Para hamba berkewajiban berusaha dengan segala sarana untuk sampai pada syukur.

Sikap syukur merupakan tingkatan yang paling tinggi. Posisi tinggi yang diperolehnya ini disebabkan kesyukuran merupakan upaya untuk mencurahkan segenap tenaga kepada hal-hal yang dicintai Allah Swt. Syukur terbangun atas lima prinsip: ketundukan, kecintaan, pengakuan nikmat, sanjungan dan pujian, serta memanfaatkan kenikmatan untuk sesuatu yang diperbolehkan.

Dengan demikian, sikap syukur merupakan bentuk pengakuan terhadap nikmat yang diberikan atas dasar ketundukan, menyandarkan segala kenikmatan kepada Pemiliknya, memuji Yang Memberi nikmat dengan selalu mengingat kenikmatan-Nya, menetapkan hati untuk mencintai-Nya, anggota badan untuk mentaati-Nya, dan lisan untuk berzikir kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberi petunjuk untuk mendapatkan obat yang ajaib ini dan sebab yang kuat untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, yaitu seorang hamba selalu memperhatikan orang yang ada di bawahnya dalam akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat Allah yang lain. Selama seorang hamba terus menerus memperhatikan sisi ini, dia akan terdorong untuk banyak bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya. Dia akan selalu melihat orang-orang yang derajatnya ada di bawahnya. Karena banyak di antara mereka yang menginginkan sampai pada taraf nikmat yang dia terima, baik dalam hal harta, rezki, atau kesehatan. Setelah itu dia banyak memuji Allah seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi nikmat kepadaku dan melebihkan diriku dari banyak makhluk Allah yang lain.”

Kita hendaknya juga melihat orang-orang yang akal mereka dicabut, kemudian kita bersyukur kepada Allah atas nikmat akal sehat yang diterima. Kita hendaknya melihat orang lain yang tidak memiliki simpanan makanan pokok dan tempat tinggal, sedang kita tenang dengan tempat tinggal yang dimiliki dan kelapangan rezeki.

Selain itu hendaknya kita melihat orang-orang yang mendapat cobaan penyakit yang beraneka ragam, sementara diri kita dalam kondisi sehat dan bugar. Selanjutnya kita melihat orang-orang yang lebih parah dari itu, yaitu orang-orang yang menyimpang dari agama dan tenggelam dalam lumpur dosa dan kemaksiatan, kejahatan, sementara diri kita mendapatkan penjagaan dari Allah dari segala keburukan ini.

Kita juga harus merenungkan kondisi orang-orang yang dihimpit kesedihan dan tertawan oleh kedukaan, kemudian kita melihat keselamatan diri kita dari derita ini, nikmat kesejukan hati kita. Meskipun kita tidak berharta namun kita memiliki kelebihan nikmat qana’ah dan ketenangan hati yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang kaya.

Rasulullah telah menuntun kita agar ridha dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah, baik itu berupa nikmat kesehatan, keamanan, maupun kebutuhan harian. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang aman jiwanya, sehat jasadnya, ia bisa memenuhi kebutuhan hariannya, maka seolah-olah dunia diberikan kepadanya.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian bagi orang yang mendapatkan musibah, hendaknya kita melihat orang yang lebih besar musibahnya, selanjutnya hendaknya kita memuji Allah atas ringannya musibah yang kita terima dan keselamatan kita dari musibah yang lebih besar tersebut. Karena tidak ada musibah melainkan pasti terdapat musibah yang lebih dahsyat dari musibah tersebut.

Rasulullah Saw. bersabda, “Aku kagum terhadap perkara orang mukmin, karena semua perkaranya itu baik. Hal itu hanya pada orang mukmin saja, tidak dimiliki oleh lainnya. Kalau diberi kegembiraan lalu dia mensyukurinya, ini merupakan kebaikan baginya. Kalau ditimpa kesusahan lalu dia bersabar hati, ini juga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Orang yang senantiasa memikirkan nikmat-nikmat Allah dan memahami nikmat-nikmat tersebut, baik yang lahir maupun yang batin, sedang kita tidak akan bisa mendapatkan kenikmatan itu kecuali karena karunia dan kebaikan Allah semata, dan tidak akan mungkin bisa menghitung nikmat Allah meski satu macam saja, lebih-lebih semuanya, lebih-lebih mensyukurinya, niscaya kita akan mengakui nikmat Allah yang sempurna pada diri kita, dan akan banyak-banyak bersyukur kepada-Nya. Kita akan malu kepada Allah bila memanfaatkan nikmat Allah dalam perkara yang tidak dicintai dan diridhai-Nya. Dan sudah sepantasnya kita malu terhadap Rabb kita, karena malu itu adalah cabang keimanan yang paling utama. Maka pantaslah kita malu kepada Allah bila melihat diri kita berada dalam larangan atau tidak melaksanakan perintah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, tentu kamu tidak sanggup untuk menghitungnya.” (QS.14: 34). Dalam firman-Nya yang lain dikatakan, “Dan atas nikmat-nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-menyebutnya (bersyukur).” (QS, 93: 11).

Apabila hati itu memiliki mata maka ia akan merenungi apa saja yang diisyaratkan dalam berbagai macam nikmat Allah. Sedangkan hati yang bebal, yang menganggap nikmat sebagai nikmat hanya ketika ditimpa cobaan, cara mengobatinya ialah senantiasa melihat orang-orang yang ada di bawahnya dan melakukan apa-apa yang dilakukan sebagian orang-orang terdahulu.

Hendaknya melihat orang-orang yang mendapat cobaan. Atau mendatangi rumah sakit untuk melihat aneka macam cobaan yang menimpa orang lain, lalu merenungi kesehatan dan keselamatannya. Hal yang demikian itu akan menumbuhkan sikap menghargai kenikmatan dan tidak merendahkannya. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian melihat orang yang dilebihkan daripada dirinya dalam masalah harta dan penciptaan, maka hendaklah dia melihat orang yang diberikan kenikmatan lebih rendah daripada dirinya.”

Atau, mendatangi kuburan sehingga kita tahu bahwa sesuatu yang paling disukai orang mati adalah dikembalikan ke dunia agar dapat menebus kejahatan yang ia lakukan dan memperbanyak ketaatan. Sesungguh hari kiamat adalah hari ketika segala bentuk kesalahan akan diperlihatkan. Maka bila kita melihat kuburan dan mengetahui apa yang paling mereka sukai maka kita akan menghabiskan sisa-sisa umur kita untuk melakukan ketataan kepada Allah dan mensyukuri-Nya. Kita bersyukur karena masih diberi umur panjang dan mempergunakannya untuk tujuan sebagaimana tujuan kita diciptakan, yaitu mencari bekal untuk kehidupan akhirat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?” Nabi Saw menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Dia bertanya lagi, “Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?” Nabi Saw menjawab, “Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Athabrani dan Abu Na’im).

Orang yang mendapatkan taufik dengan petunjuk Nabi Saw, niscaya syukurnya menjadi kuat dan senantiasa berkembang. Dan nikmat Allah akan senantiasa bertambah dan datang kepadanya. Sebaliknya orang yang senantiasa melihat orang yang di atasnya dalam kesehatan, harta, rezki dan perkara lainnya, niscaya dia akan meremehkan nikmat Allah dan sukar bersyukur, dan ketika dia kehilangan rasa syukur, niscaya nikmat-nikmat Allah akan hilang dari dirinya dan bergantikan bencana yang bertubu-tubi menghampirinya.

Dalam hal ini salah seorang sahabat yang bernama Abul Hasan Al-Kindi Al-Qadhi melagukan syair, ”Bila kamu mendapatkan suatu nikmat, maka peliharalah ia. Karena nikmat itu bisa dimusnahkan oleh perbuatan maksiat.” Dan Abu Bakar Ahmad bin Ishaq melagukan syair juga, “Syukur itu nikmat, dan mensyukuri segala nikmat itu merupakan nikmat juga. Begitulah syukur itu hingga tak ada batasnya.”

Rasulullah Saw. pernah mengajarkan doa, “Ya Allah, jadikanlah diriku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berdzikir kepada-Mu, ya Allah jadikanlah diriku orang yang paling besar rasa bersyukurnya kepada-Mu, yang paling banyak mengingat-Mu, yang paling mengikuti nasihat-Mu, dan yang paling menjaga wasiat-Mu.”. Wallahu a’lam bish-shawwab.

)* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *