oleh

Bangkitkan Sektor Pariwisata Pascapandemi, Peran Wanita Harus Jadi Perhatian

POSKOTA.CO – Upaya pemerintah untuk membangkitkan sektor pariwisata pascapandemi tidak bisa terlepas dari peran kaum wanita. Sebab pariwisata & ekonomi kreatif menjadi sektor yang sangat identik dan dekat dengan kaum wanita.

“Bangkitnya perekonomian kita dan terbukanya lapangan kerja tidak terlepas dari bangkitnya sektor UMKM dimana sektor tersebut dilokomotifi oleh kaum wanita Indonesia yang mandiri, berdaya saing dan hebat. Mereka mengambil peran dominan pada tiga subsector ekonomi kreatif yakni fesyen, kuliner dan kriya,” papar Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada Webinar Peran Wanita dalam Industri Wisata di masa Depan dalam rangka Hari Kartini 2022 yang digelar, Kamis (21/4/2022).

Adapun peran wanita pada sektor pariwisata & ekonomi kreatif meliputi pemberdayaan ekonomi perempuan di destinasi pariwisata super prioritas, fasilitasi akses HKI bagi UMKM perempuan, inklusivitas dan kesetaraan gender pada industri pariwisata & ekonomi kreatif, partisipasi perempuan pada digital startup serta data terpilah gender di sektor pariwisata & ekonomi kreatif.

Beberapa contoh bagaimana wanita mengambil peran besar pada sektor pariwisata& ekonomi kreatif dapat diihat pada beberapa program yang digagas Kemenparekraf seperti Bedah Desain Kemasan (BeDaKan), Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) dan keterlibatan perempuan dalam pameran UMKM Kemenparekraf.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Umum Kowani Dr. Ir Giwo Rubianto Wiyogo. Dalam sambutan pengantarnya, Giwo mengatakan bahwa peran wanita pada sektor pariwisata sangat penting dan strategis. Tidak hanya menjadi pelaku bisnis dari sektor pariwisata & ekonomi kreatif, wanita juga seringkali menjadi pengambil keputusan baik dalam hal pemilihan destinasi wisata, pemilihan alat transportasi, urusan akomodasi, pemilihan tempat kuliner dan lainnya.

“Karena itu upaya-upaya untuk membangkitkan kembali sector pariwisata pascapandemi Covid-19 sudah seharusnya melibatkan banyak peran wanita,” jelas Giwo.

Sayangnya, peran wanita pada sektor pariwisata saat ini belum setara dengan peran laki-laki. Ini bisa dilihat dari proporsi ketenagakerjaan wanita pada sektor pariwisata dimana wanita masih menduduki struktur piramida terbalik paling bawah dalam hal ketenaga kerjaan.

Data BPS tahun 2019 menunjukkan bahwa prosentase tenaga kerja wanita pada bisnis pariwisata seperti hotel dan akomodasi lainnya hanya 31,64 persen. Padahal dari total wisatawan Nusantara sebanyak 283 juta perjalanan wisata Nusantara,  sekitar 143 juta atau 54 persen dilakukan oleh wanita.

(Serah jarum jam) Menhub Budi Karya Sumadi, Ketum Kowani Giwo Rubianto dan Prof Wiendu Nuryanti

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan bahwa peran wanita dalam industri pariwisata seringkali dikaitkan dengan keselamatan dan kenyamanan perjalanan. Wanita menjadi penentu utama pemilihan alat transportasi wisata dengan mengedepankan keamanan dan kenyamanan terutama bagi anak-anaknya.

“Tentu seorang wanita ketika akan melakukan perjalanan wisata, akan lebih care terhadap kepentingan anak-anaknya,” kata Menhub.

Menurut  Menhub kehadiran sosok wanita dalam industry pariwisata tidak hanya menyangkut perjalanan atau pemilihan alat transportasi. Tetapi juga dalam hal penyediaan produk-produk kreatif yang amat lekat dengan sektor pariwisata. Kehadiran dan sentunan tangan wanita akan membuat produk kreatif jauh lebih humanis.

“Itu sebabnya di area bandara, terminal, stasiun dan area public lainnya, kami menghadirkan sentuhan tangan wanita. Karena sentuhan tangan wanita akan membuat sektor public tersebut jauh lebih humanis,” tambahnya.

Kemenhub sendiri bekerjasama dengan Dekranas dan Dekranasda juga membuka ruang khusus bagi pelaku UMKM perempuan untuk mempromosikan produk-produk kreatifnya. Upaya ini dilakukan untuk membantu menghubungkan pelaku UMKM perempuan bertemu dengan para pelanggan atau pembelinya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Wiendu Nuryanti, Guru Besar Fakultas Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM mengakui bahwa pandemi Covid-19 telah membuat angka kunjungan wisatawan turun drastis. Untuk wisatawan mancanegara turun hingga 74,9 persen dan wisatawan Nusantara turun sekitar 30 persen pada 2020 dibanding tahun 2019. “Penurunan jumlah wisatawan ini terkait aksesibilitas yang memang sangat terbatas setelah penerbangan ditutup atau dibatalkan, perjalanan dibatasi dan lainnya,” jelas Prof Wiendu yang juga Ketua Yayasan Hari Ibu Kowani.

Dalam upaya membangkitkan sektor pariwisata nasional, menurut Prof Wiendu peran perempuan sangat penting dan strategis mulai dari dukungan tenaga kerja, dimana pariwisata tidak terlalu mensyaratkan tingkat pendidikan tinggi. Sektor pekerjaan yang bisa dimasuki oleh perempuan di sector pariwisata ini sangat terbuka bagi perempuan.

“Untuk menjadi pengusaha kuliner, cinderamata, pengusaha vila tentu tidak membutuhkan pendidikan sekelas doctor atau professor, yang penting attitude, keramahan yang baik dan entrepreneur yang tepat. Keramahan, keindahan dan kreatifitas dalah rohnya pariwisata dan itulah kekuatan yang dimiliki wanita,” jelasnya.

Dalam hal pengambilan keputusan perjalanan wisata, ternyata ditemukan fakta bahwa lebih dari 67 persen keputusan perjalanan pariwisata diambil dan ditentukan oleh perempuan. “Kalau kita akan berlibur, siapa yang menentukan naik pesawat apa, destinawi wisatanya, akomodasinya, mau makan apa, hotel untuk menginap ini lebih banyak dilakukan perempuan,” tegasnya.

Termasuk perempuan menjadi akar dari komunitas pariwisata. “Menjadi pemilik hotel, pengusaha CEO bidang pariwisata dipegang oleh perempuan. Inilah yang jadi kekuatan perempuan sehingga perempuan banyak dijadikan sasaran marketing dengan potensi triliunan rupiah,” tukas Prof Wiendu.

Dengan berbagai peran strategis perempuan tersebut, Prof Wiendu menilai bahwa perempuan bisa mengubah arah industry pariwisata masa depan. Perempuan bisa membawa perubahan peradaban dalam berkunjung, hubungan antara tamu dan tuan rumah. “Itu semua bisa ditentukan oleh perempuan,” tukasnya.

Oleh karena itu Prof Wiendu menyebut perempuan dan pariwisata itu sudah menyatu, sangat erat sekali. Saking eratnya, ibarat kata dunia pariwisata akan mulai bergerak jika wanitanya sudah berani melakukan perjalanan wisata. “Jadi wanita dapat menjadi kunci mengembalikan kepercayaan publik terhadap keamanan dan kenyamanan sektor pariwisata,” tutup Prof Wiendu. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *