“Peran Ormas Islam dalam masyarakat madani, adalah menjadikan nilai-nilai tauhid sebagai landasan tata kehidupan…” [Cendekiawan Yudi Latif].
PERADABAN bukan hanya pencapaian teknologi maha canggih, namun juga keteraturan sosial. Bila demikian, masyarakat madani yang diimpikan adalah sebuah masyarkat peradaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Membicarakan masyarakat madani di Indonesia yang mayoritas muslim, dituntut untuk mewujudkan masyarakat yang terikat ukhuwah Islamiyah [ikatan keislaman], ukhuwah wathaniyyah [ikatan kebangsaan], dan ukhuwah basyariyyah [ikatan kemanusiaan] dalam bingkai NKRI.
Cendekiawan muslim Yudi Latif melihat peran ormas Islam dalam masyarakat madani, adalah menjadikan nilai-nilai tauhid sebagai landasan tata kehidupan mereka.
Di dalamnya terisi dengan individu-individu yang bebas dari sikap menzalimi diri sendiri. Berkumpul dalam keluarga yang egaliter yang menjadi basis internalisasi dan ideologisasi nilai-nilai kebaikan dan keimanan.
Di antara kaum laki-laki dan perempuan terikat dalam relasi yang proporsional saling melengkapi dalam rangka “amanah” penciptaan manusia.
Hak-hak masyarakat terdistribusi secara proporsional hingga terbangun kesederajatan sosial dan kehidupan yang tenteram dan dinamis menuju terbentuknya masyarakat madani,” kata Yudi Latif.
Cita-citanya adalah manusia Indonesia hidup dalam tatanan kekuasaan yang demokratis, berjalan dalam koridor hukum dan agama, dan rakyat memperoleh hak-hak politiknya secara penuh.
Di sana tegak persamaan hak di hadapan hukum bagi setiap orang dengan prosedur dan mekanisme yudisial yang berkeadilan.
Mereka berusaha dalam sistem ekonomi agaliter, sebagai cermin dari ekonomi yang berkeadilan, yang memungkinkan perilaku ekonomi yang adil dan memberikan akses yang sama pada seluruh rakyat sehingga kekayaan tidak menumpuk hanya pada segelintir orang yang memicu jurang kesenjangan.
Dimana pemanfaatan dan pengendalian ilmu pengetahuan dan teknologi [iptek] secara etis sebagai modal dasar pembangunan peradaban untuk kesejahteraan manusia Indonesia dan kemandirian bangsa.
Warna-warni kehidupan mencerminkan pluralitas kebudayaan sebagai entitas yang berinteraksi secara harmonis menuju kemajuan peradaban.
Individu dan masyarakat mendapat pendidikan yang berkualitas, untuk membangun manusia yang mampu yang merealisasikan “amanah” penciptanya menuju kehidupan sejahtera dan kemajuan bangsa.
Itulah masyarakat yang religius, yang seluruh komponennya bekerja sama dalam kebaikan, tolong-menolong dalam menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan keimanan.
Masyarakat yang adil dan makmur, yang melindungi warganya, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut menjaga ketertiban dunia.
Suatu masyarakat dan bangsa yang hidup berdampingan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, masyarakat dengan budaya takwa.
Indonesia yang dicitakan adalah kondisi masyarakat yang hidup penuh dengan kasih sayang, yang muda menghormati yang tua, yang tua menghargai yang muda, laki-laki bahu membahu dengan perempuan, dalam pluralitas kebudayaan.
Sebuah taman sari kehidupan kolektif, yang bermuara pada terjaminnya manusia dalam memenuhi 5 kebutuhan primer hidupnya [maqosid syari’ah], yakni perlindungan atas: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Masyarakat adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.
Peran Iman dan Taqwa.
Di mana peran iman dan taqwa [imtaq] dalam pembangunan peradaban Indonesia madani? Ada pada jantung peradaban itu sendiri.
[12/4 16:31] Aswan Nasution: Alasannya sederhana, karena Indonesia madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Mantan Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, menyebut masyarakat madani sangat bergantung manusia manjadi obyek dan subyek.
Karena membangun peradaban madani ini bertumpu pada manusia sebagai obyek sekaligus subyek [aktor], maka pembangunan manusia ini perlu dijalankan secara terpadu antara sisi brain [aqliyah], mind [qolbiyah], dan body [jasadiyah]. Pada titik inilah pentingnya Imtaq-spritualitas-relijiusitas.
Menurut Suhana, membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya menuju peradaban madani atau dalam bahasa yang lebih operasional, menghapus kebodohan, kekerasan sosial, dan keterbelakangan budaya.
Sebab kita memandang kebodohan [rendahnya kualitas pendidikan], kekerasan [hilangnya kesantunan dan kedamaian dalam menyelesaikan segala bentuk konflik], serta keterbelakangan [ kemandegan dan kejumudan] sebagai musuh sosial bangsa memerlukan kecerdasan bukan hanya dari sisi intelektual/rasional [IQ].” ujar Suharna.
Wallahu A’lam Bish Shwab.
Aswan Nasution.
[Sumber bacaan dari Majalah Nuansa Persada, vol. XIV/April 2012].







Komentar