Diana melihat dari kejauhan
Keluarganya berkumpul
Keluarganya bermain pasir dan air
Mereka basah tetapi tidak kedinginan

POSKOTA.CO – Diana berjalan perlahan ke tempat keluarganya berkumpul dan bermain. Bibir-bibir mereka tertarik keatas tanda senyum menghias. Sekarang mimpi itu sudah bukan mimpi lagi. Rasa memiliki mama atau keluarga itu nyata di depan matanya.
” kak buruan jalannya”
Jarak sudah cukup dekat, tinggal beberapa langkah lagi ketika Ajeng berteriak kepada Diana agar mempercepat langkahnya. Ajeng dan Asih ingin kakaknya segera berkumpul karena mama papanya ingin memberi tahu sesuatu. Kabar gembira yang tentunya akan mereka sambut dengan penuh suka cita.
Papa Hary memilih deburan ombak dan pasir di pantai ikut mendengar rencana bahagianya. Biarlah semilir angin ikut andil menyampaikan kabarnya. Ia ingin membangun keluarga yang bahagia menurut tatanan yang dipahaminya.
Ada sebuah kemajuan berpikir dan memahami dalam diri Papa Hary tentang sebuah poligami. Istri yang disimpan atau istri simpanan sebuah kata yang merendahkan wanita. Wanita bukan untuk dijadikan simpanan tetapi seorang pendamping yang membuatnya bangga dan membanggakan. Wanita seharusnya di tempatkan di sebuah singgasana di istana cinta.
” Ajeng dan Asih ada apa panggil-panggil kakak? Kakak sedang melihat keindahan alam”
Diana sudah bergabung dengan keluarganya. Ia bertanya kepada adik-adiknya, kenapa memanggil dirinya. Ajeng dan Asih memberi tahu kalau papanya ingin memberikan sebuah kejutan kepada mereka. Tak sabar ingin tahu kejutan tersebut, Diana mendesak papanya untuk segera menyampaikan kejutan tersebut.
” ayooo pa, ada apa nih? Diana penasaran , Ajeng dan Asih pasti juga sudah tak sabar lhooo”
” iya, ada sesuatu yang hendak papa sampaikan kepada kalian bertiga. Semoga ini bisa menyempurnakan kebahagiaan kalian”
” Yuk kita pindah, di bawah pohon flamboyan itu tidak terlalu banyak orang. Kita gelar tikar di sana sambil minum kopi”
Papa Hary mengajak anak-anaknya dan mbak Retno menjauh dari air. Menjauh dari keriuhan banyak orang, agar apa yang hendak ia sampaikan bisa terdengar jelas oleh anak-anaknya. Sebuah lamaran yang akan ia sampaikan, cukup indah dan sangat romantis.
Mentari waktu itu sudah keluar utuh dari batas maya. Menyembul dengan elok serta menghangatkan siapa saja yang menyapanya. Laut semakin tenang berbincang dan angin membuat rasa sempurna siapapun yang pagi itu menikmatinya.
” Papa melamar mama kalian dan akan segera menikah secara resmi di KUA”
Cicit burung di dahan flamboyan yang berhias bunga berwarna merah mengiringi lamaran Papa Hary kepada Mbak Retno pagi itu. Alam membuat pelaminan yang indah untuk mereka berdua. Anak-anak nya seperti pengiring cinta yang dicipta Sang Pencipta. Cakrawala langit terbuka bagi yang bisa merasa dan melihatnya.
(Bersambung By : Wita Lexia )







Komentar