oleh

Rp 139 T Belum Cukup untuk Jaga Negara, Menhan Perjuangkan Tambahan Rp 195 T

JAKARTA – Sebuah ironi pertahanan terungkap di Gedung DPR RI, Senayan, Rabu (10/6/2026). Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin blak-blakan menyebut pagu anggaran Rp 139 triliun yang diberikan Kemenkeu dan Bappenas untuk tahun 2027 masih jauh dari kata ideal.

Padahal, demi memagari kedaulatan Indonesia di tengah situasi dunia yang bergejolak, Kemenhan membutuhkan Rp 667 triliun. Tak mau pasrah, Menhan Sjafrie langsung bergerak cepat. Usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR, ia resmi mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 195 triliun.

​Bagi Sjafrie, ini bukan sekadar urusan angka, melainkan taruhan keselamatan bangsa. “Sistem pertahanan negara itu adalah safety belt (sabuk pengaman) dari pembangunan nasional,” tegas Sjafrie dengan nada lugas dalam jumpa pers.

​Mengapa Kemhan begitu gigih meminta tambahan? Jawabannya ada pada realita di lapangan. Hari ini, beban tugas TNI tidak lagi hanya bersiap di barak atau menjaga perbatasan. TNI telah menjadi garda terdepan humanis yang menyatu dengan urat nadi masyarakat.

​Saat bencana alam melanda dan meruntuhkan infrastruktur, prajurit TNI yang turun pertama kali ke lumpur untuk membangun kembali jembatan dan akses publik. Begitu juga di wilayah rawan konflik seperti Papua yang menjadi center of gravity, kehadiran TNI adalah penentu tegaknya Merah Putih sekaligus pelindung warga lokal.
​”Tugas-tugas dinamis kita untuk mendukung pemerintah dalam pembangunan sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana alam. Jadi sekarang TNI juga sedang menjalankan tugas untuk membangun jembatan dan sebagainya,” jelas Sjafrie.

​Sjafrie memastikan Kemenhan telah melakukan evaluasi ketat dan memangkas program demi skala prioritas. Anggaran tambahan yang diusulkan melalui Komisi I ke Badan Anggaran (Banggar) DPR ini adalah batas minimal agar militer Indonesia tidak timpang saat menjalankan tugasnya. “Kami bekerja untuk memenuhi amanat konstitusi dan kepentingan nasional,” pungkas Sjafrie.

​Kini, keputusan ada di tangan parlemen. Di tengah ketidakpastian global, memangkas anggaran pertahanan terlalu dalam sama saja dengan melonggarkan sabuk pengaman negara saat badai sedang mengintai. (aga/jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *