oleh

Prihatin Pungli Parkir di Istiqlal Rp150 Ribu, Senator Dailami Imbau Pengelola Tempat Ibadah Tidak Pungut Tarif Parkir

JAKARTA – Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari DKI Jakarta, Dailami Firdaus mengimbau agar tidak ada pungutan  parkir di tempat-tempat ibadah di Jakarta. Pengelola tempat ibadah semestinya merekrut para mustahik untuk dijadikan sebagai juru parkir yang mendapatkan upah bulanan.

Hal itu disampaikan Dailami sehubungan dengan seringnya kelompok preman main pungli kepada pengendara yang parkir kendaraan di kawasan tersebut. Menyusul viralnya video pungli parkir sebesar Rp 150 ribu di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, membuat geregetan banyak orang. “Saya mengapresiasi Polres Metro Jakarta Pusat yang telah meringkus dua tersangkanya. Bila hal ini tak ditangani serius, kejadian serupa akan terulang lagi,” kata Dailami yang kini terpilih lagi sebagai anggota DPD RI untuk ketiga kali.

Sebagai solusi, Dailami meminta agar pengurus Masjid Istiqlal atau tempat ibadah lainnya dapat merekrut mustahik, seperti anak yatim piatu atau mereka yang tidak mampu untuk menjadi juru parkir.

“Mekanismenya mereka diberikan honor resmi dari pengurus tempat ibadah. Jadi sekaligus kita bisa memberikan pekerjaan dan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya di Jakarta, Senin (13/5).

Dailami menjelaskan, uang honor atau gaji yang diberikan bisa melalui alokasi uang infak atau sumbangan yang diberikan jemaah. “Jangan sampai tempat ibadah sekelas Istiqlal menjadi tempat bisnis parkir. Tempat ibadah harus memfasilitasi betul mereka yang ingin beribadah, jangan membebani, jamaah dengan biaya parkir,” terang pemimpin Universitas Islam As-Syafiyah dan Pondok Pesantren As-Syafiyah.

Tidak kalah penting, sambung Dailami, para petugas parkir atau juru parkir di tempat ibadah harus menggunakan atribut resmi untuk menghindari aksi parkir liar. “Bisa diberikan baju atau rompi atau identitas lainnya yang menandakan mereka adalah petugas parkir resmi,” ungkapnya.

Dailami menambahkan, fasilitas atau sarana dan prasarana untuk memastikan kendaraan yang diparkir juga harus menjadi perhatian. “Bisa diterapkan sistem gate dan adanya karcis parkir hingga penitipan helm untuk pengendara roda dua secara resmi,”  tandasnya.

Berdasar pengamatan lapangan, areal parkir resmi di dalam kawasan masjid kebanggaan bangsa Indonesia menerapkan tarif parkir per jam Rp 4 ribu/mobil dan Rp 2 ribu/motor. Tiap Salat Jumat atau hari raya keagamaan, biasanya pengunjung membludak sehingga sebagian mobil atau motor terpaksa diparkir di pinggir jalan raya. Di sinilah sering dijadikan aksi premanisme, termasuk kelompok emak-emak untuk main getok ongkos parkir, misalnya motor Rp 10 ribu dan mobil Rp 20 ribu. Semuanya harus bayar dimuka. Bahkan kalau situasi cenderung aman, mereka menaikkan pungli parkir sampai berkali-kali lipat. Selama ini kasus serupa sudah beberapa kali viral. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *