oleh

Membela Bung Karno, Membela Jokowi

-Komunitas-82 views

POSKOTA.CO – Nampaknya memang ada yang keliru dengan sebagian intelektual kita. Khususnya mereka yang belum punya pekerjaan dan kedudukan tetap – meski gelarnya berderet.

Mereka bukan intelektual sesungguhnya. Baru “seolah olah” intelektual. Bahkan intelektual yang kini sedang menurunkan derajatnya sebagai “Youtuber” dan sibuk mengejar “clikbite”.

Mereka merasa keren – “sah” sebagai intelektual dan merasa cerdas kalau menjadi oposisi – menjadi komentator kritis di panggung diskusi, seminar dan berbagai media. Ngamen di ILC – forum dan media penampung kubu kalah Pilpres 2014 dan 2019 serta penyalur suara para Kadrun.

Siang malam mencari cari kesalahan, mencela dan memaki maki pemerintah Jokowi – semata mata karena itu adalah tugas dan kewajiban intelektual – kata mereka.

Bahwa membela presiden terpilih dan mendukung kebijaksanaan pemerintah itu hina dina – pekerjaan penjilat dan antek rezim. Pokoknya sebutan yang buruk buruk.

Orang orang itu dipastikan tidak mengenal sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan membaca lengkap kumpulan sajak Chairil Anwar. Apalagi menyimak tulisan cendekiawan Dr. Soedjatmoko dan Dr. Nurcholis Madjid.

Tiga belas tahun penderitaan yang ditanggung oleh Pram, sebagai tahanan politik di Pulau Buru – yang kemudian melahirkan novel “Tetralogi Bumi Manusia” – tak menggoyahkan keyakinannya bahwa pilihannya membela revolusi dan Bung Karno adalah benar. Dia bahkan disingkirkan kawan kawannya di Lekra karenanya.

Hidup matinya dihabiskan untuk membela Bung Karno yang dia kagumi setengah mati. Bung Karno yang kehidupannya berakhir tragis, dikucilkan dan dihinakan di akhir hayatnya.

Jasa besar Bung Karno adalah nasionalisme dan “character building”, kata Pram.

Nation building adalah upaya membina bangsa, sedangkan ‘nation and character building’ dimaknai sebagai upaya membentuk karakter/mental bangsa Indonesia.

Secara operasional pemikiran tentang NCB (nasionalism and character building) merujuk pada apa yang disebutnya dengan “Trisakti” yang meliputi, berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya. Bila dipadukan ketiganya tersimpul dalam satu kata: Berdikari

Dan apa yang dikatakan Chairil Anwar tentang tokoh proklamator itu ? Bacalah petikan dari sajaknya, “Perjanjian dengan Bung Karno”

“Aku sudah cukup lama dengar bicaramu /dipanggang atas apimu / digarami oleh lautmu

“Aku melangkah ke depan, berada rapat di sisimu / Aku sekarang api / aku sekarang laut

“Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat / di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar / di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh. ”

Dalam sajak lain, yang ditulis 1948 Chairil Anwar menyatakan:

” Kenang, kenangkanlah kami
Terus, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti ”

Adakah yang menyebut Chairil Anwar antek dan penjilat rezim ?

SAYA masih kanak kanak ketika Bung Karno memerintah republik. Ingatan saya tentang Sang Proklamator RI adalah ketika jenazahnya diterbangkan dari Jakarta ke Blitar .

Kami di kampung segera berlarian ke halaman setiap kali mendengar lamat lamat suara deru pesawat untuk memberikan penghormatan terakhir dengan menengadah ke langit.

Saya melewati banyak presiden setelah itu. Saya sudah menjadi wartawan ketika Pak Harto memerintah negeri kita selama 32 tahun. Saya turun ke jalan ikut “memerahkan” Jakarta ketika Soeharto makin korup dan menindas rakyat. Dan terus mendukung pemerintah pengggantinya.

Sampai kemudian mengenal Ir. Joko Widodo. Anak kandung rakyat, besar di pinggir kali yang terpilih dua kali sebagai walikota di Solo, hijrah ke Jakarta dan kini berada di Istana negara. Jokowi yang tak pernah gagal dalam jabatan politiknya. Dan kini sangat dibenci lawan lawannya. Terutama para mafia.

Dia berbeda dengan presiden sebelumnya. Karena dia tidak bermegah megah dengan jabatannya. Tidak mewariskan bisnis negara pada keluarganya. Tidak menumpuk kekayaan dan mewariskan partai pada anaknya – seperti dua pendahulunya.

Dia mengabaikan dan jarang membalas kritik apalagi melayani caci maki oposisi dan kadrun kadrun yang frustrasi karena kebijakannya.

Itu sebabnya, saya – dan orang orang seperti saya – gigih membelanya. Untuk melabrak orang yang sok kritis, tukang caci maki – tak bisa membedakan mana kritik, hoax dan fitnah – komentar intelektual yang tidak punya martabat / kredibelitas. Nanggung. Karena melihat arah angin. Kritik untuk minta jabatan.

JOKOWI punya kelemahan? Ya. Bung Karno punya kelemahan ? Ya. Sebab keduanya manusia. Bukan nabi. Bahkan para Nabi pun sering disalah-pahami – diludahi dan dilempari batu oleh warganya sendiri.

Kekonyolan para intelektual yang merasa kritis sampai pada level profesor, teknokrat bahkan mantan menteri yang dipecat. Sampai sekarang.

Tak ada kebaikan dan kebenaran dari Jokowi dan pemerintahnya sedikit pun. Semua salah di mata mereka.

Ada menteri pecatan yang mencela menteri yang pengalaman jadi direktur bank dunia dan menterti keuangan terbaik Asia dan terpakai oleh dua presiden RI. Betul betul tak tahu malu.

Bangsatnya lagi, ada intektual mengaku ingin tetap kritis dan independen – tapi menerima jabatan dari BUMN. Dan sekarang pengangguran terselubung – merendahkan diri – ngarep recehan dari “clikbite” di channel streaming berbagi video.

Dia terima jabatannya, dia terima gajinya, dia nikmati fasilitasnya – tapi mulutnya tetap ember, seperti banci kaleng – mengkritisi pemerintah pusat, lewat media dan dia merasa itu sah. Bukan ngomong di dalam rapat internal. Mengajukan kritik konstruktif. Solutif.

Menurut saya, itu bukan intelektual – melainkan bangsat. Binatang pengisap darah. Parasit.

Sebab, “seanjing-anjingnya anjing” – mereka tahu siapa yang merawat dan memberinya makan. Anjing menjaga dan membela manusia yang mengurusnya. Keculi anjing yang kena rabies.

Sedangkan bangsat tidak. Bangsat terus mengisap darah kita saat kita tidur..***Supriyanto Martosuwito

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini