oleh

Kriminolog Bagus Sudarmanto Berbagi Cerita: Artikel Jurnal Pertama di Usia Senja

-Komunitas-247 views

POSKOTA.CO – Tahun kemarin, 2019, saat studi kriminologi, saya mendapat hibah tugas akhir mahasiswa doktoral berupa dana riset dari Universita Indonesia (UI). Jumlahnya lumayan. Cukuplah untuk biaya merampungkan disertasi. Hanya saja syaratnya, bahwa target luaran penerima hibah adalah publikasi artikel ilmiah di jurnal internasional terindeks Scopus minimal level Q3 (quartile) Scimagojr (www.scimago.com), namun upayakan Q1 atau Q2. Kalau gagal, dana musti dikembalikan!

Syarat itu tak mudah, sebab (a) “menembus” Scopus – Q3, konon relatif sulit kalau tidak bisa dibilang agak mustahil untuk pemula seperti saya; (b) ada tenggat waktu yang ditetapkan oleh UI; (c) musti kerja simultan, menyusun disertasi sekaligus menyiapkan manuskrip jurnal; dan (d) mengelola stressss seraya berpacu melawan waktu.

Maka jadilah sepanjang Juli – Desember 2019 lalu adalah bulan-bulan penuh tekanan. Tapi saya pikir tak apalah, toh sudah bagian dari risiko nekad kuliah di usia senja.

Setelah mengikuti serangkaian bimbingan, diskusi, ngobar sesama mahasiswa, menjaring info jurnal di ruang maya yang jumlahnya bejibun, itu akhirnya saya menetapkan nyali untuk menjajal International Journal of Cyber Criminology (IJCC).

Mengapa IJCC?

Begini. Ini bagian dari strategi juga, sih. Yang pasti sebagai jurnal terindeks Scopus, IJCC telah berada pada level Q1-Q2, reputasinya tak diragukan. Pendiri IJCC adalah Prof K Jaishankar (2007), sekaligus sebagai chief editor-nya, dan dikenal sebagai pencetus Space Transtition Theory of Cyber Crime. Nah, teori transisi ruang inilah yang kebetulan saya pakai sebagai teori substantif untuk menganalisis fenomena medsos yang tengah saya teliti.

Lebih dari itu, IJCC tidak memungut biaya untuk naskah yang dikirim, dipublikasi, atau bagi mereka yang mengaksesnya. Di pengantar penjelasan tentang IJCC, dia tulis begini. “IJCC is an unique diamond open access, not for profit international journal, where the author(s) need not pay article processing charges/page charges and it is totally free for both the authors and the audience.”

Coba, ciamik kan?

Maka, saya pun mencoba untuk ‘sekali mendayung dua pulau terlampui’, mengerjakan naskah jurnal sebagai bagian dari sub-topik disertasi. Artinya klo jurnal kelar, kelar pula satu bab bahasan disertasi. Kebetulan hanya ada dua saja pertanyaan penelitian disertasi saya: empirical dan theoretical. Cuman itu. Saya pilih yang empirical problem, dengan pertimbangan semoga faktor locus dan tempus bisa “mencuri perhatian” editor IJCC.

Setelah naskah saya anggap cukup siap, meski digayuti keraguan, proses pun dimulai:

• 11 Agustus 2019 – Naskah jurnal saya submit ke IJCC di bawah judul: Harmful Discourse on Social Media: The Triggering Factors of Persecution Acts in Post-Truth Era. Di dalam disertasi saya, bahasan persekusi ini saya tempatkan di Bab 5.

• 14 Agustus 2019 – Datang jawaban IJCC melalui email, bunyinya: Please submit only MS word format. Remove all authors and university identity from the article. Thanks. Gak pake lama-lama, segera saya submit ulang dengan format word, bukan pdf, plus identitas universitasnya, hehehe …

• 18 Agustus 2019 – IJCC membalas email disertai pemberian manuscript ID. Pesannya antara lain: We will organize a fast peer-review, and if your manuscript is accepted, the manuscript will be published finally. We aim to process manuscripts quickly. You can check the peer-review process of your manuscript in the following online manuscript submission & peer-review system. Asyiaaap. Kayaknya simpel prosesnya yak. Tapi kok sampai bulan berganti tak jua ada kabar?

• 20 September 2019 – Karena tak sabar menunggu, saya nekat ber-email, nanya dengan pertanyaan culun: How much time is needed to determine whether my script is accepted, rejected, or in need for revision? Is there any alternative for the accelerating process? Email tak berbalas. Berbulan. Pasrah dah. Waktu pun berlalu. Saya nyaris lupa (atau pura2 lupa) dan fokus ngetik naskah disertasi yang sudah di ujung tenggat jadwal sidang data.

• 20 Februari 2020 — Sekira pukul 23.35, eh tetiba email IJCC masuk, singkat saja pesannya: Overall review result: Accept as it is. Alhamdulillah. Tentu saja ada catatan perbaikan di sana-sini yang musti disegerakan. Poinnya, IJCC bilang:
• The abstract needs to be made stronger and put in proper form.
• Manuscript needs to be properly proof-read.
• An English language expert may be hired to do the needful.
• The paper is generally good and revealing.
Saya segera merevisi, utamanya bahasa, yang memang ampun dah susahnya. Untungnya masih ada dana hibah untuk kebutuhan mendesak seperti ini. Proof reading sekalipun tak gratis, loh.

• 26 Februari 2020 – Persis pukul 05.17 datang email pemberitahuan dari IJCC. Bunyinya: The deadline for the camera-ready paper submission is 02-Mar-2020. We cannot guarantee to include your paper in final edition, in case of late submission of your camera-ready paper. Wah gawat, 2 Maret. Kebut, semangaaat!

• 28 Februari 2020 — Saya submit naskah sesuai template dan pembabakan yang telah ditentukan. Jujur saja agak ketat-ketir, sebab dalam proses berikutnya boleh jadi finalisasi di tangan editor berakhir di-reject!

• 15 Maret 2020 — Muncullah email IJCC yang melegakan. This mail is to confirm that the submitted camera-ready version of the following manuscript has no problem and it will be used to make your manuscript editing and proofread version.

• 30 April 2020 – Senja hari, saya menerima email dari Prof Adrianus di alamat email berbeda. Isi pesan hanya tiga huruf: ‘fyi’ … begitulah, beliau suka bercanda, berteka-teki. (Untuk diketahui bahwa korespondensi saya dengan IJCC menyertakan alamat email Prof Adrianus selaku pembimbing saya. Jadi beliau bisa memonitor perkembangan prosesnya tanpa saya melapor. Beliau berkenan. Keren, kan?).

Petang itu juga saya pun membuka email yang selama ini saya pergunakan untuk mendaftar ke IJCC, yakni: bagus.s@ui.ac.id. Ternyata ada email masuk dari Jaishankar yang empunya dan pendiri IJCC. Berikut saya copas utuh ya:

Dear Author of IJCC
My heartiest thanks go to you for being a strong support for IJCC.

I am happy to inform you that the IJCC VOLUME: 14 ISSUE 1 JANUARY – JUNE 2020 of International Journal of Cyber Criminology (IJCC) an Diamond open access (free) online journal, is online now with your article. (If you find any errors in pdf file please inform, I will rectify. However, only formatting errors can be rectified and no major changes can be entertained).

Thanks for your understanding and patience in this publication as it got delayed due to many unforeseen circumstances. The DOI will be released after 10 days.
Please visit http://www.cybercrimejournal.com

Alhamdulillah, “tembus” juga akhirnya artikel pertama saya. Tak sia-sia. Benar kata Prof Adrianus dalam suatu kesempatan bimbingan bahwa “ketekunan tidak pernah bohong”. Selalu ada hasil, walau secuil. Terima kasih, Prof Adrianus (promotor) dan Dr.Iqrak Sulhin (kopromotor) atas segala ‘kerepotan’ yang saya buat.

Sekelumit pengalaman ini sengaja saya share di FB sekadar berbagi untuk mereka yang akan, sedang, dan telah merampungkan tugas akhir. Jangan ragu mengirim naskah ke IJCC. Bayangkan, submit –nya pada 11 Agustus 2019, dan di-publish pada 30 April 2020. Kurang lebih memakan waktu (baca: stresnya) hanya 8 bulan. Relatif cepat, bukan?

Foto: ‘Penampakan IJC’C, naskah jurnal saya. dan swafoto bersama Prof Adrianus Meliala saat bimbingan.

Semoga bermanfaat.
Salam semangat!
Tetaplah sehat!

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *