oleh

Ke Mana Penjual Kopi Keliling dan Anaknya di Stasiun Pondok Cina saat Corona

-Komunitas-154 views

POSKOTA.CO – Malamsemakin larut. Rasa kantuk itu belum juga menyergap. Suara geluduk di balik jendela kamar sesekali terdengar. Si “Becky” kucing kesayangan sudah terlelap. Kucing yang setia menemaniku sudah melayang terbang terseret mimpi. Mungkin indah karena si “Becky” pulas sekali!

Di tengah mata terbuka lebar, tiba-tiba teringat satu bidikan foto di Stasiun Pondok Cina. Foto yang kuambil sebelum wabah covid-19 sekelebat muncul dan menjadi sesuatu yang menakutkan kini.

Di sepanjang jalan menuju Stasiun Pondok Cina yang dilalui ayah penjual kopi keliling bersepeda itu ramai sekali. Ada sejumlah ojek konvensional yang menunggu calon penumpang.

Ada pengamen cilik hingga remaja. Ada pula tuna netra yang bersuara emas persis di belakang gerobak pedagang bakso tusuk. Ada juga anak-anak penjual tisu. Ada pengemis yang menyodorkan bayinya agar rupiah demi rupiah mengalir deras.

Singkat kata: jalan menuju Stasiun Pondok Cina adalah kehidupan. Ada pengharapan di sana. Orang masih sangat ramai. Ya mahasiswa UI atau penumpang KRL Commuter Line yang baru saja turun di Stasiun Pondok Cina. Saat jam singgah KRL, jalan di sana macet luar biasa.

Jalan tak cukup besar itu dijejali banyak orang dari pelbagai tingkatan. Dari yang kere hingga kaum berdasi. Mantan Komisioner KPK Bambang Widjojanto kerap naik dan turun kereta di Stasiun Pondok Cina.
Ya jalan menuju Stasiun Pondok Cina adalah jalan kehidupan bagi segelintir orang karena di sana banyak pembeli. Di sana ada rezeki. Di sana rupiah menari-nari untuk singgah.

seorang ayah penjual kopi keliling dengan sepeda tuanya, diiringi dua anaknya – sepasang. Sang perempuan kakaknya dan sang bocah lelaki adiknya. Aku selalu menemui ayah penjual kopi keliling ini ditemani dua anaknya. Mungkin si ayah ingin mengajarkan kepada anaknya bagaimana seharusnya hidup; bagaimana semestinya “berada di jalan Tuhan” untuk sesuap nasi agar jalan yang ditapaki makin panjang dan tak berujung.

Karena itu tak salah ayah penjual kopi keliling dengan sepeda berlabuh di sana. Ibarat pepatah ada gula ada semut. Seperti domba atau kambing yang berlari mencari rumput yang hijau.

Tapi kini semuanya berubah. Kehidupan menuju Stasiun Pondok Cina tiba-tiba menjadi sepi. Lonceng kematian seakan berdentang keras sekali. Toko-toko penjual asesoris barang elektronik tiba-tiba menutup diri. Sepi dan sepi kini mencengkram jalan menuju Stasiun Pondok Cina. Roda kehidupan terhenti. Jalan pemberi rupiah demi rupiah itu kini membeku seperti wajah yang pucat pasih.

Pikiranku terus melayang ke ayah penjual kopi keliling dalam foto yang kuabadikan sebelum wabah covid-19 meraja. Bagaimana dengan dua anaknya yang setiap hari ikut mengantar sang ayah mengais rezeki dari kopi saset dan termos berisi air panas.

Aku tak menemukan mereka bertiga setiap turun di Stasiun Pondok Cina sekarang ini. Sosok yang setia dalam kejujuran dengan tetap “berada di jalan Tuhan”.
Aku tak punya apa-apa. Hanya sepenggal doa yang mungkin usang. Tapi tetap kuterbangkan tinggi-tinggi – entah sampai langit ke berapa. Doa itulah yang kuselipkan untuk ayah penjual kopi keliling dan dua anaknya itu.

Di ujung doaku malam ini kiranya suatu saat aku bisa bertemu dengan ayah penjual kopi kelilng dan anaknya itu.
Akankah new normal akan mempertemukan kita? Atau new normal malah memisahkan kita? (norman moeko)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *