oleh

Di Tengah Ancaman Boikot, Danone Terus Disoal

JAKARTA – Dituding aktif mendukung rezim apartheid Israel yang hingga hari ini terus  melakukan genosida terhadap penduduk sipil Palestina di Jalur Gaza, citra global Danone tercoreng, termasuk di Prancis, negara asal perusahaan tersebut. Di Prancis, Danone dituding menjadi dalang utama perusak  ekosistem lingkungan.

“Sejak perusahaan ini mengambil alih perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) Société des Eaux de Volvic pada 1993 lalu, penyedotan air tanah telah meningkat empat kali lipat,” kata Edouard de Féligonde, pemilik peternakan ikan setempat (Euronews, 15/6).

“Bukan  kekeringan biasa yang kami hadapi, tapi kekeringan  yang berpengaruh hingga ke sumber daya untuk usaha ini,” lanjutnya.

Selama ini, Edouard de Féligonde merasa bangga memiliki peternakan Ikan Saint-Genest l’Enfant, yang dibangun oleh leluhurnya pada abad ke-17 di jantung Auvergne. Namun, kebanggaannya itu kini berubah menjadi kepahitan.

“Peternakan ikan Saint-Genest l’Enfant adalah yang tertua di Eropa dan satu-satunya yang diakui sebagai monumen bersejarah. Namun, peternakan ikan ini sekarang benar-benar kering,” keluh Edouard de Féligonde, sambil memimpin jurnalis  berkeliling di propertinya.

Menurutnya, aliran sungai ke peternakan ikan yang dulu mengalir lancar, kini nyaris mengering, dan kolam-kolam ikan kosong, kecuali beberapa yang diisi dengan air stagnan untuk mencegah erosi dasar kolam. Bisnisnya kian terpuruk sejak Danone dan anak perusahaannya, Société des Eaux de Volvic, yang sumber penyedotan mata airnya berdekatan dengan propertinya, telah menyebabkan susutnya air tanah.

Tak pelak, krisis air ini telah mendorong Edouard de Féligonde memulai perjuangan hukum melawan Danone dan otoritas publik yang mengeluarkan izin penyedotan air tanah di kawasan tersebut.

Sejauh ini, Danone membantah bahwa operasi bisnis AMDK mereka telah mengurangi debit air tanah di sana. Bantahan ini juga didukung oleh dinas terkait yang menduga akibat pengruh ‘perubahan iklim’ sebagai penyebabnya.

Tentu saja, alasan ini dimentahkan penggiat lingkungan dan masyarakat setempat yang terkena imbas kekeringan dan dampaknya berupa aturan pembatasan air.

“Dengan adanya pembatasan penggunaan air, bisnis saya jelas berisiko merugi!,” kata pengusaha bir bernama Jeff.

Sama dengan pengusaha lainnya yang menggunakan jaringan mata air di kawasan tersebut, Jeff terpaksa harus memangkas penggunaan air sampai 25 persen. Pemangkasan itu mengancam bisnisnya, apalagi dia sudah mengurangi penggunaan air lebih dari sepertiga kebutuhannya lima tahun lalu karena alasan lingkungan.

François-Dominique de Larouzière, seorang ahli geologi dengan asosiasi perlindungan lingkungan PREVA, meragukan alasan bahwa penurunan debit air disebabkan oleh pemanasan global.

Hydrobiolog Christian Amblard, juga anggota PREVA, menekankan adanya konsekuensi ekologis yang mengkhawatirkan.

Di Indonesia, perusahaan yang menguasai pasar AMDK tersebut juga kerap bermasalah karena diprotes organisasi lingkungan dan warga lokal tempat perusahaan itu mengeksploitasi sumber mata air untuk bisnis AMDK-nya. Misalnya pada 2011, perusahaan AMDK yang telah beroperasi selama empat tahun tersebut, mendadak mengumumkan menghentikan seluruh kegiatan produksinya di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Gara-gara terjadi aksi demo anarkis yang dilakukan ribuan orang pada Desember 2010.

Sejumlah organisasli lingkungan dan warga lokal menuding keberadaan pabrik AMDK Danone-Aqua berpotensi mengeringkan cadangan air bawah tanah yang juga digunakan oleh warga.

Di lokasi lain, di Desa Babakan Pari Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, penduduk yang tinggal di sekitar sumber air untuk AMDK milik pabrik Danone-Aqua, juga diberitakan kerap mengeluh kesulitan mendapatkan air bersih.

Keluhan serupa juga disampaikan penduduk Polanharjo, Kabupaten Klaten.  Sejak Danone-Aqua beroperasi di wilayah kaya mata air tersebut pada 2002, warga lokal  banyak yang mengeluhkan kekurangan air.

Semula, air selalu cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk irigasi. Tapi kini untuk memenuhi kebutuhan irigasi saja, petani harus menyewa pompa air. Bahkan  untuk kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa harus membeli air dengan harga mahal.

Arif Mujahidin, Direktur Komunikasi Korporat Danone Indonesia mengatakan dalam operasional perusahaannya, Danone selalu berpegang pada misi perusahaan yakni meningkatkan kesehatan melalui makanan dan minuman. Juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarsecara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *