oleh

Tunjukkan Wajah yang Tersenyum

ISLAM sangat menaruh perhatian terhadap masalah pergaulan antar manusia. Islam menginginkan agar hubungan di antara kita berlangsung hangat dan penuh rasa kasih sayang.

Salah satu perkara kecil yang mendatangkan kebaikan yang banyak dan menyebarkan kebahagiaan di rumah, tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya adalah senyum.

Kata senyum adalah kata yang indah dan menarik hati, menyenangkan dan menggembirakan. Bagaimana kita seorang muslim tidak tersenyum sementara kita telah meridhai Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Saw. sebagai Nabinya.

Bagaimana mungkin kita tidak tersenyum, sementara burung-burung bernyanyi, merpati berdendang, matahari bersinar, bulan bercahaya indah, pagi hari datang dalam terang cahaya, dan hujan datang di balik awan di langit. Bagaimana mungkin kita tidak tersenyum, sementara angin sepoi tertiup, daun-daun gemerisik, burung kenari bersiul, aroma indah bertiup, air jatuh di antara bebatuan mendendangkan lagu cinta, dan menceriterakan pagar keindahan.!

Betapa indah dan berbahagianya seseorang manakala dia menebarkan senyum yang tulus kepada setiap orang yang dijumpainya, tidak ubahnya dengan sekumtum bunga mawar yang menebarkan bau harumnya dan keindahan warnanya kepada setiap orang yang melihatnya.

Kita dianjurkan apabila bertemu dengan kawan, sahabat di perjalanan, maka kita menyapanya dengan ramah, wajah yang berseri-seri, serta dengan senyuman yang merekah di bibir.

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap perbuatan yang baik merupakan sedekah. Termasuk dalam kategori sedekah sikapmu menunjukkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu dengan saudaramu sesama muslim serta memberikan air yang ada di dalam bejanamu kepadanya.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Senyummu kepada saudaramu adalah sodaqoh”. (Mashabih Assunnahi).

Senyum adalah prinsip yang sangat penting dalam pergaulan dengan sesama manusia. Manusia cenderung kepada orang yang berwajah ceria, tidak kepada orang yang berwajah masam. Mereka cenderung kepada wajah yang penuh dengan keceriaan dan kegembiraan, yang senantiasa menyebarkan senyum dan cinta. Mereka tidak suka kepada wajah yang masam dan ketus, cemberut, yang menebarkan kebencian dan kemarahan.

Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah Saw. apabila mengutus salah seorang sahabatnya untuk menjalankan urusan tertentu, seringkali berpesan sebagai berikut, “Berusahalah untuk membuat gembira (orang atau kaum yang kalian datangi tersebut) dan jangan membuat mereka menghindar. Demikian juga berupayalah untuk mempermudah dan jangan mempersulit.” (HR. Ahmad).

Istri Abud Darda pernah berkata, “Setiap kali Abud Darda’ menyampaikan sesuatu, maka ia selalu menyampaikannya seraya tersenyum sehingga saya sampai berkata kepadanya, “‘Saya khawatir orang-orang nanti akan menganggapmu kurang waras.” Akan tetapi, dia lalu menjawab, “Setiap kali Rasulullah Saw. menyampaikan suatu perkataan maka beliau selalu tersenyum.” (HR. Ahmad).

Berkenaan dengan peran senyum dalam pergaulan sosial, seorang pakar tradisional dari Cina mengatakan, “Seseorang yang tidak mengetahui bagaimana mesti tersenyum, maka dia tidak layak menjadi pedagang.

Sebagaimana burung tidak dapat diburu kecuali dengan jerat dan perangkap, maka demikian juga hati manusia tidak dapat diburu kecuali dengan senyum dan wajah yang berseri-seri.

Benar, para pemilik toko, warung yang berakhlak, ramah, suka tersenyum, menyambut dan menghargai para pembeli, toko, kedai dan warungnya selalu penuh dikunjungi para pembeli. Sebaliknya, orang akan lari dari pedagang yang bermuka masam, tidak ramah, ketus, cemberut, dan suka marah-marah.

Berapa banyak orang mengalami kesedihan, tertimpa awan kegelisahan, dan merasakan tekanan depresi dalam kehidupan. Jangan tanyakan di mana senyumannya saat itu, keindahan tawa dan manisnya humor.

Ahmad Amin berkata, “Seandainya manusia bersikap jujur, niscaya mereka tidak memerlukan tiga perempat obat-obatan yang ada di apotek, dan ia cukup mengobatinya dengan tertawa. Satu tawa lebih baik seribu kali dari aspirin dan pil penenang.

Untuk bisa sukses dalam bergaul dengan sesama manusia, kita harus menjadi orang yang bijak dalam memberikan senyuman, walaupun tersenyum bukan merupakan kebiasaan kita. Pelajari bagaimana tehnik tersenyum, karena yang demikian itu bukan aib bagi kita. Hilangkan segala tekanan batin. Usahakan senyuman mengalir di seluruh jiwa dan raga kita, dan terutama di wajah dan kedua bibir kita. Kita tidak akan rugi karenanya, dan bahkan kita akan menjadi orang yang beruntung dan berbahagia dalam kehidupan apa pun.

Sebagaimana burung tidak dapat diburu kecuali dengan jerat dan perangkap, maka demikian juga hati manusia tidak dapat diburu kecuali dengan senyum dan wajah yang berseri-seri. Wajah yang penuh senyum adalah jerat bagi kecintaan. Jika kita ingin menjadi seorang pemburu hati manusia yang ulung, jangan kita lupakan senjata yang ampuh ini, yaitu wajah yang ceria dan penuh senyum. Sahabat Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Wajah yang ceria mendatangkan kecintaan dan mendekatkan kepada Allah, sedangkan wajah yang masam mendatangkan kebencian dan menjauhkan dari Allah. Wallahu A’lam bishShawabi.

Karsidi Diningrat
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
*Anggota PB Al Washliyah Jakarta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *