JAKARTA – Pemprov Daerah Khusus Jakarta (DKJ) masih terus melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dimulai sejak November 2024 hingga sekarang. Tindakan penyemaian awan agar hujan bisa dialihkan di atas laut tersebut sangat efektif mengurangi curah hujan deras pada cuaca ekstrem di daratan Jakarta menjadi hujan ringan atau gerimis.
Penjabat (Pj) Gubernur DKJ Teguh Setyabudi menyatakan kegiatan OMC dilakukan dalam upaya mengurangi cuaca ekstrem serta kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. “Hingga saat ini hasilnya cukup memuaskan. Meski kita sedang menghadapi cuaca ekstrem namun bisa mengurangi bakal hujan deras berkepanjangan di daratan Jakarta. Hujannya disemai lebih awal saat mendung tebal berada di atas Laut Jawa,” kata Teguh di Jakarta, Senin (17/2).
Tugas OMC dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dan PT Rekayasa Atmosphere Indonesia (RAI). Pada November, Desember 2024, dan sebagian Januari 2025, kegiatan penerbangan Tim OMC dilakukan di Bandara Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang. Namun sejak pertengahan Januari hingga sekarang, Tim OMC dipusatkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Plt Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo menambahkan potensi hujan ringan hingga sedang terjadi pada pagi hingga siang hari ini di sebagian wilayah DKI Jakarta. “Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Banten, Jakarta dan Jawa Barat secara umum memiliki potensi tinggi. Prediksi kelembaban udara di setiap lapisannya cukup tebal mencapai 100 persen,” ujar Budi, Senin (17/2).
Budi menyampaikan, tujuan OMC di wilayah Jakarta untuk mengurangi ekstremitas cuaca yang jika tidak diantisipasi, berpotensi menimbulkan banjir. “Ambang batas intensitas curah hujan yang dapat menimbulkan banjir di wilayah Jakarta adalah jika intensitas curah hujannya di atas 50 mm/hari. Oleh karenanya, jika dari prediksi terdeteksi akan ada kejadian hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm/hari, maka diantisipasi dengan sorti penyemaian,” jelasnya.
Sebaliknya jika diprediksi curah hujannya normal-normal saja, kata Budi, maka akan dibiarkan sel awan itu menjadi hujan di atas wilayah Jakarta. “Jadi masyarakat tidak perlu khawatir jika selama periode pelaksanaan OMC, Jakarta menjadi kekeringan, seperti banyak anggapan masyarakat yang masih keliru menilai soal prediksi ini,” tegas Budi. Soal tindakan OMC melibatkan sejumlah pakar cuaca dan lingkungan, namun masyarakat yang pengetahuannya tanggung langsung mengkritik bahwa OMC bisa mengakibatkan kekeringan. Kegiatan OMC dijamin tidak menimbulkan dampak kekeringan di musim kemarau. Justru efektif membantu masyarakat luas terhindar dari banjir yang menimbulkan dampak kerugian besar baik secara ekonomi, kesehatan, dan kenyamanan.
Ketua Sub Kelompok Logistik dan Peralatan BPBD Jakarta sekaligus juru bicara kegiatan OMC Michael Sitanggang mengatakan, OMC kemarin pihaknya hanya sekali melakukan penerbangan dengan area penyemaian Barat Daya-Barat Laut. “Seban area ini untuk menurunkan potensi cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada siang hari dan itu berhasil diantisipasi,” ucapnya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk menekan potensi cuaca ekstrem dan mencegah bencana hidrometeorologi di wilayah Jakarta. (jo)







Komentar