oleh

Menyambut dan Menghormati Tamu Dengan Baik

RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam adalah sosok teladan dalam hal ini. Beliau merupakan seorang yang paling baik terhadap orang-orang yang belum beliau kenal, demikian juga terhadap para tamu yang berkunjung ke kediaman beliau. Dengan demikian sangat wajar jika beliau juga memerintahkan umatnya untuk menyambut dengan baik setiap tamu yang datang ke rumah mereka, karena sikap ini sangat ampuh dalam menumbuhkan jembatan hati serta mengusir rasa permusuhan dan kebencian.

Ali bin Abi Thalib r.a. meriwayatkan bahwa suatu hari Ammar datang ke (majelis) Rasulullah Saw. untuk meminta izin. Melihat kedatangannya beliau segera berkata (kepada para sahabat yang hadir di majelis tersebut), “Biarkan ia masuk. Selamat datang, wahai orang baik.” (HR. Tirmidzi). Diriwayatkan bahwa Abu Harun al-Abdi berkata, “Suatu hari kami mengunjungi Abu Sa’id. Ketika melihat kehadiran kami, dia langsung menyambut dengan hangat seraya berkata, “Selamat datang kepada wasiat Rasulullah Saw.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (QS. An-Nûr, 24: 27-29).

Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Apabila seorang bertamu lalu minta izin (mengetuk pintu atau memanggil-manggil) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibuka pintu) maka hendaklah ia pulang.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nùr, 24:61).

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk ditempat yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat rumah mereka.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Apabila seorang tamu memasuki suatu kaum, ia masuk dengan membawa rezekinya sendiri, apabila ia keluar, maka ia keluar dengan membawa ampunan bagi mereka.” (HR. ad-Dailami melalui Anas r.a.).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tamu itu datang dengan membawa rezekinya sendiri dan ia pergi seiring dengan lenyapnya dosa-dosa kaum (yang ditamuinya) yang telah ia hapuskan.” (HR. Abusy Syaikh melalui Abu Darda).

Hadits ini menganjurkan kepada kita untuk mengormati tamu. Hormatilah tamu karena tamu itu membawa rezekinya sendiri, artinya datang dengan membawa rezeki bagi orang yang ditamuinya; dan apabila ia keluar dengan membawa ampunan bagi dosa-dosa orang yang ditamuinya; dan bila ia pergi, maka ia pergi dengan membawa semua dosa-dosa orang yang ditamuinya hingga bersih karena ampuni oleh Allah SWT.

Abi Syurayh Al-‘Adawi r.a. meriwayatkan, ia mendengar dengan telinganya sendiri, melihat dengan mata sendiri, sewaktu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Kemudian, maka muliakanlah tamunya, yaitu pemberiannya.” Sahabat bertanya, “Apakah pemberiannya itu?” Jawab beliau, “Suguhan sehari-semalamnya, dan pemberian suguhan untuk tamu hanya selama tiga hari. Selebihnya dari itu, maka itu sedekahnya.” Beliau bersabda lagi, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Kemudian, maka berkatalah yang baik atau diam.” Dalam satu riwayat, pada awal hadits ini ia tambah, “Barangsiapa berimsn kepada Allah dan hari Kemudian, maka muliakanlah tetangganya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Dan dalam hadis yang senada Beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamunya. Kewajiban menjamu tamu hanya satu hari satu malam. Masa bertamu adalah tiga hari dan sesudah itu termasuk sedekah. Tidak halal bagi si tamu tinggal lebih lama sehingga menyulitkan tuan rumah.” (HR. Al-Baihaqi).

Batas bertamu itu selama tiga hari, dan bila yang mempunyai rumah menginginkannya lebih lama lagi maka ditambah satu hari lagi sebagai hadiah; batas waktu ini dimaksudkan agar jangan merepotkan orang yang ditamuinya. Demikian pengertian kalimat pertama dari hadits ini bila dipandang dari segi orang yang bertamu. Akan tetapi bila dipandang dari segi shahibul bait artinya ialah shahibul bait wajib menjamu tamunya selama tiga hari; adapun hari yang keempat merupakan hadiah dan kemurahan darinya. Adapun selebihnya tidak wajib lagi baginya untuk menghormati (menjamu) tamunya. Menghormati tamu hukumnya wajib, begitu pula menahan lisan kecuali terhadap perkataan yang mengandung kebaikan.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tiada seorang pun yang berkunjung pada suatu kaum lalu mereka melapangkan tempat duduk untuknya hingga merasa puas kecuali wajib bagi Allah rida terhadap mereka.” (HR. Thabrani melalui Abu Musa).

Barang siapa yang menghormati tamunya hingga tamunya merasa puas atas penghormatannya, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang besar, yaitu ia mendapat rida dari-Nya.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Bagi segala sesuatu ada zakatnya, dan zakat rumah ialah menghormati tamu.” (HR. ar-Rifai dari Tsabit).

Zakat tubuh ialah dengan mengeluarkan zakat fitrah. Zakat rumah ialah menyediakan tempat khusus untuk para tamu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Nabi Saw. melarang memaksakan diri untuk tamu.” (HR. Hakim melalui Salman r.a.).

Menghormati tamu dengan mengada-ngada merupakan hal yang dilarang (makruh) karena hal tersebut mengakibatkan orang yang bersangkutan kerepotan dan berutang. Yang dimaksud mengada-ngada ialah melebihi kemampuan orang yang bersangkutan, hingga untuk itu terpaksa ia berhutang kepada orang-orang yang ia kenal, sedangkan ia tidak mampu membayarnya.

Dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Janganlah seseorang memaksa dirinya untuk menghormati tamunya dengan hal-hal yang tidak mampu ia adakan.” (HR. Baihaqi).

Dalam hadits terdahulu pada bab  larangan  telah disebutkan bahwa Nabi Saw. melarang mengada-ngada untuk menghormati tamu. Dan dalam hadits ini diterangkan lebih jelas lagi, yaitu mengada-ngada hingga di luar batas kemampuan orang yang bersangkutan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Merupakan suatu perbuatan yang rendah manakala seseorang memperlakukan tamunya seperti pembantu.” (HR. ad-Dailami).

Alangkah rendahnya perbuatan seseorang yang berani menjadikan tamunya sebagai pelayan, karena seharusnya tamu itu dihormati seperti yang dianjurkan dalam hadits terlebih dahulu di atas.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh termasuk sunnah yaitu hendaknya seseorang keluar mengantarkan tamunya hingga sampai ke pintu rumahnya.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits ini menerangkan tentang etika menghormati tamu, yaitu apabila tamu berpamitan, maka orang yang dikunjunginya dianjurkan mengantarkannya sampai ke pintu rumahnya. Jangan sekali-kali melepas kepergiannya sambil duduk karena hal ini merupakan sikap yang kurang sopan dan bukan tuntunan Nabi Saw. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIn SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washiyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *