oleh

Menangis Karena Takut Kepada Allah

PERASAAN takut kepada Allah Swt. ini adalah pendorong utama untuk berbuat kebaikan serta menghindari segala bentuk keburukan. Ia juga merupakan fondasi dalam membangun pribadi muslim yang lurus dan kuat. Oleh karena itulah, Rasulullah Saw. memberikan perhatian besar dalam menanamkan sikap ini pada diri umat Islam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari yang tidak ada tempat bernaung kecuali hanya kepada-Nya; pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam lingkungan ibadah tiada henti kepada Allah, orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, dua orang yang saling menyayangi karena Allah di mana keduanya hanya bertemu maupun berpisah karena-Nya, pemuda yang dirayu (untuk melakukan perzinahan) oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan namun ia dengan tegas berkata, ‘Saya takut kepada Allah’, seorang yang menyembunyikan sedekah yang dikeluarkannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya, serta seorang hamba yang tidak putus berzikir kepada Allah dalam keadaan sendirian sambil berlinangan air mata.” (HR. Bukhari).

Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat Âli-‘Imrân, 3: 175, : “Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”

Dalam surat Ar-Rahmân, 55: 46, : “Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Dua mata yang diharamkan dari api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang menjaga serta mengawasi Islam dan ummatnya dari (gangguan) kaum kafir.” (HR. Al-Bukhari)

Juga dalam hadits lain beliau Saw. telah bersabda, : “Tidak akan masuk neraka seseorang yang suka menangis karena takut kepada Allah Swt., kecuali jika air susu seekor sapi dapat masuk kembali (dengan sendirinya) ke dalam puting susunya. Demikian juga, tidak akan pernah berhimpun debu-debu (yang melekat ketika berjihad) di jalan Allah Swt. dengan asap neraka.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadits lain disebutkan, “Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk ke dalam neraka, meski susu bisa kembali ke dalam tetek, atau pun unta bisa masuk ke dalam lubang jarum.”

Yang disebut iba ialah, kekhusyu’an di dalam hati dan senantiasa menangis karena takut kepada Allah Swt. ia adalah suatu sifat yang mulia dan usaha yang terpuji. Dengan sifat itu pula, Allah Swt. menyifatkan para Nabi-Nya serta hamba-hambanya yang berilmu pengetahuan.

Sebagaimana dalam firman-Nya, : “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam, 19: 58). Juga firman-Nya, : “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. al-Isra’, 17: 109).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah mengkategorikan orang yang senantiasa iba, dalam bilangan tujuh orang yang akan dilindungi Allah Swt. pada hari kiamat, yang tidak ada perlindungan lain kecuali dari Allah ‘Azza wa Jalla. “Seorang yang senantiasa menyebut-nyebut nama Allah di masa lapang, lalu kedua kelopak matanya digenangi air mata”.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Setiap mata akan menangis di hari kiamat, kecuali mata yang telah menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga di jalan Allah.” Yaitu, berjihad karena meninggikan kalimat Allah Swt.

Sesungguhnya, bahwa orang yang menangis semata-mata karena takut kepada Allah, amat jarang terlihat di kalangan kita, sehingga derajatnya menjadi sangat tinggi dalam pandangan Allah Swt. Padahal banyak orang yang menangis setiap hari.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Andaikan kamu tahu apa yang aku ketahui, tentulah kamu akan jarang tertawa dan sering menangis.” (HR. Ahmad, Nasai, Ibnu Majah).

Ada seorang laki-laki mencela sebagian kawannya karena menangis sampai lama. Maka orang yang menangis itu menjawab dengan syair : “Aku menangisi dosaku karena besarnya. Seharusnyalah setiap pendurhaka itu menangisi dosanya. Andaikan tangisku dapat melepaskan kesusahan, tentulah darah dan air mata dapat berbahagia bersama.”

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila kedurhakaan seorang hamba telah klimaks maka kedurhakaan itu menguasai kedua matanya, ia dapat menangiskan keduanya kapan pun ia kehendaki.” (HR. Ibnu ‘Addi melalui Uqbah ibnu Amir).

Seorang hamba yang ditakdirkan baik apabila kedurhakaan yang dilakukannya telah mencapai puncaknya, maka ia menyesali perbuatannya dan menangisinya serta segera bertobat tidak mau mengulangi perbuatan durhakanya lagi. Kemudian ia kembali kepada-Nya dengan mengerjakan amal-amal yang saleh.

Abul Fath Al-Baghdadi juga pernah mendengar bisikan hati. Karena bisikan itulah keinginan tidurnya menjadi hilang. Bisikan itu ialah : “Bagaimana mata bisa tidur puas, kalau tidak tahu di mata itu akan tinggal ? Di surga ataukah di neraka ?”.

Dalam riwayat lain Nabi Muhammad Saw. bersabda, : “Tidak akan masuk neraka siapa yang keluar dari matanya seperti kepala lalat lantaran takut kepada Allah Swt.” Yakni, terlalu banyak menangis.

Dalam hadits lain Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, : “Allah berkata, ‘Keluarkan dari api neraka orang-orang yang pada satu hari (pernah) mengingat-Ku atau berada di tempat dalam keadaan takut terhadap-Ku.” (HR. Tirmidzi & Anas).

Dalam hadits yang lain Beliau Saw. telah bersabda, “Barang siapa mengingat Allah hingga kedua matanya menangis karena takut kepada Allah, hingga sebagian air matanya itu menetes ke tanah, niscaya Allah tidak akan mengazabnya di hari kiamat.” (HR. Hakim).

Orang yang berzikir mengingat Allah hingga air matanya mengalir membasahi tanah karena takut terhadap siksaan-Nya, penuh rasa harap kepada rahmat-Nya, kelak di hari kiamat ia tidak akan disiksa oleh Allah Swt. Pengertian zikir dalam hadits ini ialah dalam keadaan salat karena dalam kalimat selanjutnya disebutkan, hingga sebagian dari air matanya mengenai tanah. Hal ini menunjukkan bahwa ia sedang dalam keadaan berdiri atau rukuk atau sujud.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah menyamakan air mata yang mengalir lantaran takut kepada Allah dengan darah yang tumpah karena berjihad di jalan Allah. Juga dalam sebuah riwayat disebutkan, “Sekiranya pada suatu umat ada seseorang yang menangis karena Allah, niscaya Dia akan merahmati umat itu disebabkan tangisan orang tadi.”

Namun kita tahu bahwa tangisan itu banyak ragamnya. Tetapi, hanya tangisan karena takut kepada Allah saja yang jarang dilakukan oleh kita sekalian.

Karena itu, hendaknya kita menangis karena takut kepada Allah. Jika tidak bisa menangis pula, maka usahakan terus agar diri kita bisa menangis. Tetapi ingat, jangan kita mencampur-adukan amalan kita dengan riya’ dan kebohongan atau kepura-puraan, atau dengan menunjukkan diri dan berbangga-bangga di hadapan orang banyak, agar kita tidak tampak hina dalam pandangan Allah Seru Sekalian Alam. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Pd

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *