POSKOTA.CO – Sudah tiga hari ini pengrajin tahu tempe melakukan aksi mogok produksi. Salah satunya ditemui pengrajin tahu tempe di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Mereka mogok lantaran harga kedelai melonjak Rp9.100 per kilogram.
Akibat kenaikan harga kedelai ini, pengrajin terpaksa tak bisa berproduksi sebab jika dijual ke pasar tradisional tak ada untungnya.
“Kalau kami naikkan harga tidak ada yang membeli, kalau dipaksakan dengan harga kedelai naik enggak ada untungnya,” ujar Mito pengrajin tempe di Semper Barat.
Senada disampaikan Wastari 50, pengrajin tempe lainnya, kenaikan harga kedelai mencapai Rp9.100 ini sangat terpukul bahkan membuat pengrajin tak produksi.
Dijelaskan Wastari, jika harga kedelai normal maka masih ada untung buatnya. Tapi kalau naik seperti sekarang dipastikan tidak ada untung.
“Jika kami produksi dengan harga baru, kemudian harga jual ke pasar tradisional tidak naik. Ya sia-sia aja usaha enggak dapat untung,” cetusnya.
Dijabarkan juga, ia berproduksi dengan 20 kg kedelai dengan harga Rp7.200 ditambah bahan produksi seperti daun pisang, plastik, ragi dan bahan bakar masak, masih ada untung Rp100 ribu-Rp135 ribu.
Namun jika memakai harga naik kedelai dan dijualnya ke pasar tidak naik maka usaha tidak menghasilkan apa-apa.
“Dengan harga sepotong tempe Rp5 ribu saja pembelinya berkurang, apalagi kalau dinaikkan seribu tak ada yang membeli,” keluhnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Casmuni (50), Aris (51), serta Ragil (49), pengrajin tempe di RT 10/5 Semper Barat menyatakan serupa, bahkan meminta pemerimtah mengambil tindakan tegas agar harga kedelai bisa kembali normal.
“Kami berharap pemerintah dapat mengambil tindakan untuk menormalkan harga kedelai sediakala alias normal agar kami bisa usaha lagi” ujarnya.
Saat ini, ada 1.000 pengrajin tahu tempe menanti keputusan pemerintah supaya pengrajin dapat menjalankan usahanya lagi dan menanti nasib masa ke depannya. (wandhy)








Komentar