oleh

Hari ke-2 Media Gathering di Kaltara, M4CR Ajak Rombongan Kunjungi Balai Adat dan Rehab Mangrove di Kab. Tana Tidung

TANA TIDUNG – Bagi masyarakat pesisir, mangrove menjadi bagian dalam hidup mereka. Ekosistem ini berperan menjaga lingkungan sekaligus menopang kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya, termasuk masyarakat Kabupaten Tidung, Kalimantan Utara.

Memasuki hari kedua kegiatan Media Gathering Kementerian Kehutanan RI dan M4CR, rombongan mengunjungi Balai Adat Tana Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Selasa (3/11). Di lokasi tersebut digelar acara diskusi seputar mangrove dengan narasumber Sekretaris Ditjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut Muhammad Zainal, PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, Camat Tana Lia Arbain Padilah, Pemangku Adat Ujang Syahrin, dan kelompok masyarakat tani.

Pemulihan ekosistem mangrove terus diupayakan, pemerintah melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara, melakukan percepatan rehabilitasi mangrove dengan melibatkan kelompok masyarakat, serta
mendorong pengembangan usaha produktif sesuai potensi lokal.

PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya dilihat dari luasan mangrove yang direhabilitasi, tetapi juga dari keterlibatan dan manfaat yang dirasakan masyarakat. “Bagi kami, penting memastikan masyarakat menjadi bagian dari proses pemulihan mangrove
sekaligus merasakan manfaat dari program ini,” ujarnya.

Di Desa Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, salah satunya kelompok masyarakat Mekar Abadi dan Tunas Abadi Jaya mengembangkan budidaya udang dan bandeng melalui sistem silvofishery. Dalam praktiknya, kegiatan budidaya dilakukan dengan tetap memperhatikan keberadaan mangrove sebagai bagian dari ekosistem tambak.

Kedua kelompok tersebut telah melakukan penanaman mangrove pada area masing-masing seluas 133 hektare dan 130 hektare, dengan total lebih dari 210 ribu bibit. Selain mendukung kegiatan rehabilitasi, kelompok juga memperoleh dukungan sarana produksi melalui program matching grant M4CR untuk menunjang kegiatan budidaya perikanan.

Manfaat dukungan usaha melalui matching grant juga terlihat dari pengembangan usaha kelompok masyarakat di wilayah lain. KUKT Inggilad Taka di Desa Tengku Dacing, Kabupaten Tana Tidung, mengolah bambu menjadi kipas tangan dengan sentuhan batik.

Sementara itu, LPHD Bebatu di Desa Bebatu mengembangkan produksi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) dari potensi kelapa setempat. Kedua kelompok tersebut mendapatkan dukungan peralatan produksi melalui M4CR agar kegiatan usaha dapat berjalan lebih baik. Dukungan ini menjadi salah satu upaya memperkuat sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan mangrove.

Di Provinsi Kalimantan Utara, M4CR menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 14.576 hektare hingga 2027. Hingga pelaksanaan program, penanaman telah mencapai 4.443 hektare dengan lebih dari 3,5 juta bibit jenis Rhizophora, yang melibatkan 1.354 masyarakat setempat. Melalui pendekatan tersebut, M4CR berupaya menghubungkan pemulihan ekosistem dengan kebutuhan masyarakat pesisir. Mangrove yang terjaga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus menjadi bagian dari sumber penghidupan bagi warga yang bergantung pada kawasan pesisir.

Usai diskusi, rombongan meninjau lokasi rehabilitasi mangrove dan tambak udang di Pulau Mangkasak, Desa Tana Merah. Area lahan seluas 133 hektare itu dikelola Kelompok Nelayan Mekar Abadi. Pada tahun 2024, lahan kawasan pantai itu ditanami ribuan pohon mangrove oleh M4CR yang kini mulai tumbuh subur dan tegak. Menurut nelayan setempat, sejak adanya pohon mangrove, kegiatan tambak menunjukkan perbaikan. Udang cepat tumbuh besar dan bisa dipanen tiap tiga bulan. Sedangkan akar mangrove mulai didatangi kepiting alam dan menjadi usaha tambahan bagi nelayan. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *