JAKARTA – Kerusuhan suporter pada pertandingan Persita melawan Persija Jakarta berujung sanksi larangan menghadiri laga tandang bagi The Jakmania. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam konferensi pers I.League, hukuman dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI tersebut berlaku untuk enam pertandingan tandang Persija.
Sanksi itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam konferensi pers yang digelar mendadak di kantor pusat I.League. Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, hadir bersama Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, untuk menjelaskan penegakan disiplin sekaligus evaluasi keamanan pertandingan.
Ferry menjelaskan, pemberian hukuman merupakan bagian dari upaya mencegah kerusuhan berulang. Pelanggaran serupa dapat berujung pada sanksi yang lebih berat, terutama apabila kembali melibatkan kelompok suporter yang sama.
Penindakan terhadap oknum pemicu keributan juga menjadi perhatian. Pembatasan akses menonton pertandingan dapat dipertimbangkan sesuai ketentuan yang berlaku agar pelanggaran tidak terus berulang.
Dalam keterangan konferensi pers tersebut, larangan kehadiran suporter Persija disebut mencakup enam pertandingan berikut:
Dewa United vs Persija — 31 Oktober 2026.
PSM Makassar vs Persija — 21 November 2026.
Bhayangkara FC vs Persija — 4 Desember 2026.
Isenmulang FC vs Persija — 8 Desember 2026.
Persijap Jepara vs Persija — 22 Desember 2026.
PSS Sleman vs Persija — 26 Desember 2026.
Hukuman tersebut membatasi kehadiran The Jakmania dalam mendukung langsung Persija di stadion lawan selama periode yang ditetapkan. Selain itu juga Komite Disiplin PSSI resmi menjatuhkan hukuman denda finansial dengan rincian Persita Tangerang dikenai denda sebesar Rp40 juta karena dinilai lalai menjaga ketertiban, sedangkan Persija Jakarta harus membayar total denda Rp90 juta akibat kericuhan suporter serta aksi pelemparan flare dan petasan.
Insiden pada laga Persita melawan Persija menjadi sorotan karena pertandingan sempat terhenti pada babak kedua. Padahal, menurut penjelasan Ferry, pertandingan sebelumnya berlangsung relatif lancar.
Ferry menyebut, sebelum pertandingan tidak terdapat indikasi keributan berdasarkan informasi dari kepolisian. Panitia pelaksana kemudian memberikan ruang bagi suporter tandang untuk hadir karena situasi dinilai tidak bermasalah.
Namun, kericuhan yang terjadi menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pengamanan pertandingan, termasuk pengendalian jumlah penonton, koordinasi dengan aparat keamanan, serta kesiapan panitia pelaksana menghadapi gangguan.
Potensi konflik akibat rivalitas antarklub juga perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan kehadiran suporter tamu. Rekomendasi kepolisian menjadi salah satu dasar penilaian, terutama untuk pertandingan dengan risiko keamanan tinggi. (Bu/jo)







Komentar