POSKOTA CO- Masyarakat Kampung Melayu Nongsa Batam dikejutkan dengan oli terapung di sepanjang pantai. Minyak berwarna hitam terlihat mengapung di atas air, menghitami bibir pantai, persis didepan Restoran Han Kang Sefood Batu Besar, Kecamatan Nongsa Batam, Rabu (3/5).
Pihak Polda Kepri langsung melakukan pemeriksaan terkait asal limpahan oli hitam ini. Apakah sengaja dibuang atau hal lain, polisi masih mencari tahu.
“Anggota saya masih lidik, nanti setelah selesai, akan diinfokan, ” kata Kombes Pol Nasriadi Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri kepada POSKOTA CO- melalui pesan Whatsapp, Rabu (3/5).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam Herman Rozie menyebutkan pihaknya langsung turun kelokasi melakukan verifikasi limbah minyak hitam sekaligus membantu penanggulangan.
“Berdasarkan hasil citra satelit sentinel, dugaan asal minyak hitam dari Out Port Limit (OPL – area batas laut ) Timur, tertanggal 30 April 2023, luas tumpahan 13,70 KM2, sumber asal pencemaran belum diketahui, ” terang Herman Rozie melalui pesan Whatsapp (3/5).
Menanggapi peristiwa ini, Sekretaris LSM Alarm Indonesia Arifin Pakpahan (biasa dipanggil Ucok) merespon, sangat menyangkan peristiwa genangan limbah minyak hitam di perairan Pantai Melayu Nongsa.
“Pihak terkait, terkhusus Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam harus cepat mencari tahu asal limbah minyak itu, ” harap Arifin.
Arifin menegaskan, jangan sampai terjadi opini liar di masyarakat, atas lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam selama ini.
“Pantas menduga, oli tersebut bisa sengaja dibuang oleh kru kapal yang nakal, atau pihak- pihak perusahaan yang nakal. Makanya persoalan ini harus segera diungkap, agar tidak berulang,” harap Arifin.
Arifin juga berharap agar Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam lebih terbuka terkait ketersedian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik perusahaan -perusahaan di kawasan industri yang berdekatan dengan lokasi kejadian.
“Setiap perusahaan harusnya memisahkan limpasan air hujan dengan limpasan air industri. Jadi yang dapat dialirkan ke drenase adalah limpasan air hujan, air industrinya harus di daur ulang. Jika itu sudah dilaksanakan, maka Batam aman, jika tidak maka pantas diduga, ada perusahaan nakal mengalirkan limbahnya bersamaan dengan air hujan, ” pungkas Arifin. (ferry)







Komentar