POSKOTA.CO – Sebuah lukisan, sebut saja lukisan “Sepatu” (1886) karya pelukis asal Belanda bernama Vincent van Gogh (1853-1890), menyimpan sebuah kisah yang hendak diceritakan oleh sang pelukis.
Dan “kisah” tersebut dapat diceritakan ulang dengan makna yang berbeda oleh setiap mata yang menatapnya. Seolah-olah “Sepatu” yang ada dalam bingkai itu dapat berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda kepada setiap mata yang menatapnya.
Namun pertanyaannya: sepatu siapakah itu? Kali ini kita akan memandang keindahan lukisan dan mendengarkan kisahnya melalui pemikiran Jacques Derrida (1930-2004).
Uraian Derrida tentang lukisan dapat ditemukan pada karyanya berjudul The Truth in Painting (1978). Di sana ia mencoba untuk membuktikan bahwa paradigma mimikri (Yunani: mīmēsis) yang memandang lukisan sebagai representasi dari objek atau alam tidaklah memadai.
Paradigma mimikri atau representasi dibangun di atas struktur yang memisahkan antara objek primer (Yunani: ergon) dan objek sekunder atau sesuatu yang berada di luar objek (Yunani: parergon).
Padahal, bagi Derrida, objek tidak pernah dapat dipisahkan dari sesuatu yang ada di luarnya. Sebagai contoh, di saat kita memandang sebuah objek, sebut saja sepasang sepatu, maka sesungguhnya kita telah memandang objek tersebut melalui apa yang ada di luarnya, yaitu: kegunaannya sebagai pembungkus kaki.
Oleh karena itu, paradigma yang memandang lukisan sebagai objek sekunder atau sesuatu yang berada di luar objek primer tidaklah memadai.
Sebagaimana sepasang sepatu pada dirinya sendiri tidak dapat dipisahkan begitu saja dari fungsinya, dan fungsi pada dirinya sendiri tidak dapat dipisahkan dari objeknya.
Sebagai contoh: “Sepatu” van Gogh tidak dapat dipisahkan begitu saja dari sepatu yang menjadi objek lukisan, dan sebaliknya, sepasang sepatu memiliki keterkaitan dengan makna yang diungkapkan oleh “Sepatu” van Gogh.
Maka jelas dengan sendirinya bahwa lukisan bukanlah objek sekunder atau representasi dari objek primer, karena lukisan dan objeknya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja.
Selain itu, paradigma mimikri atau representasi tidak memadai karena mengandaikan bahwa objek dapat dihadirkan secara utuh di dalam lukisan.
Anggapan tersebut meniadakan intervensi sang pelukis berupa pandangan atau penilaiannya terhadap objek. Seolah-olah pelukis mampu menghadirkan objek secara utuh, apa adanya, tanpa intervensi, di dalam kanvasnya.
Sebagai konsekuensinya, maka paradigma mimikri atau representasi ini menyisakan sebuah pertanyaan mendasar, yaitu: sepatu siapakah yang ada di dalam lukisan van Gogh?.
Sedangkan di mata Derrida, lukisan bukanlah representasi dari objek, melainkan sebuah realitas yang sama sekali baru atau terpisah dari objeknya.
Sebagai contoh: “Sepatu” van Gogh merupakan realitas yang terpisah sama sekali dari objeknya, karena “Sepatu” itu tidak sedang merepresentasikan sepatu manapun juga. Secara konkret, “Sepatu” mengandung pemahaman dan penilaian van Gogh terhadap objek sepatu, sehingga “Sepatu” ini mengungkapkan makna tambahan dari fungsi sepasang sepatu sebagai pembungkus kaki.
Dengan perkataan lain, objek sepatu telah mengalami penambahan makna atau dislokasi ketika dihadirkan sebagai “Sepatu” di dalam kanvas van Gogh. Oleh karena itu akan menjadi percuma bagi kita untuk mencari pemilik dari sepasang sepatu tersebut, karena pada kenyataannya, “Sepatu” van Gogh bisa menjadi sepatu siapa saja—bisa menjadi sepatu van Gogh sendiri atau sepatu dari salah seorang petani yang ia temui; bisa juga menjadi sepatu saya atau bahkan sepatu Anda—sebagai hasil dari makna yang ditambahkan oleh van Gogh kepada objek sepatu.
Dengan demikian, lukisan telah menyingkapkan sebuah kenyataan bahwa objek atau alam tidak dapat direpresentasikan secara utuh di dalam kanvas, karena selalu memiliki penambahan makna atau mengalami dislokasi.
Dan disaat bersamaan lukisan juga menceritakan proses bagaimana karya seni memberikan inspirasi atas kemajuan peradaban manusia dengan menghadirkan realitas secara baru untuk memberikan cara pandang yang lain terhadap objek atau alam.
Pendek kata, setelah menatap “Sepatu” van Gogh kita akan mendapatkan cara pandang lain terhadap sepasang sepatu yang akan mempengaruhi cara kita memperlakukan sepasang sepatu. Tanpa peduli itu sepatu siapa. Salam dekonstruksi!







Komentar