oleh

Kunjungi Gunung Kidul, Menteri Wihaji Serahkan Bantuan untuk Keluarga Risiko Stunting

GUNUNG KIDUL-Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/Kepala BKKBN), Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, mengunjungi dua Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (02/01/2025). Menteri sekaligus juga menyerahkan bantuan.

Dalam kesempatan itu, menteri Wihaji mengungkapkan apa yang akan dikerjakan, termasuk di Gunung Kidul. “Nanti yang akan saya kerjakan adalah satu isu kependudukan tentang pengendalian penduduk di Indonesia,” ujar menteri Wihaji, dengan menyajikan data  Total Fertility Rate (TFR) sebesar 2,1 saat ini. Artinya, setiap wanita usia produktif melahirkan anak rerata 2,1.

“Mediannya (Penduduk Tumbuh Seimbang-PTS, red)  antara 2,0 – 2,1,” jelas menteri, yang juga mengingatkan adanya kemunculan fenomena _Child Free_ di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan mereka yang ingin menikah dan sudah menikah  tidak ingin memiliki anak.  Fenomena ini mulai merambah di beberapa kota.

Isu berikutnya yang akan menjadi konsentrasi kerja menteri Wihaji dan jajarannya  adalah pembangunan keluarga. “Pembangunan keluarga itu isunya yang terpenting adalah bagaimana mandiri, bahagia, dan tenteram,” ungkap menteri, seraya mengingatkan juga tentang pentingnya menghindari pernikahan dini.

Kunjungan menteri Wihaji ke Gunung Kidul sekaligus  untuk memastikan keberlanjutan program Gerakan Orang tua Asuh Cegah Stunting (Genting). “Saya mengumpulkan kira-kira orang yang mempunyai rejeki tanpa harus mengandalkan APBN. Secara bersama dan gotongroyong kita tolong masyarakat di sekitar kita,” tambahnya.

Menyelamatkan Satu Generasi

Terkait Genting,  Menteri Wihaji memiliki filosofi, bahwa “Menyelamatkan satu orang sesungguhnya akan menyelamatkan satu keluarga dan satu generasi.” Untuk itu, Menteri Wihaji begitu getol “memberantas” stunting, salah satunya  di Yogja yang masih bercokol di kisaran 18%, lebih rendah dari capaian nasional saat ini 21,5%. Artinya, setiap lima balita, satu di antaranya terkena stunting.

“Dalam program Genting, kita akan merencanakan persiapan orang tua asuhnya sampai anak tersebut berumur dua tahun. Selain itu, yang kita _treatment_ hari ini adalah mencari ibu hamil yang kira-kira bisa menjadi KRS. Jika intervensi dilakukan mulai dari ibu hamil sampai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), InsyaAllah  ke depan  akan baik-baik saja,” urai menteri Wihaji.

Kekhawatiran menteri Wihaji bukan hanya pada masalah stunting. Ia juga memberikan perhatian khusus pada  remaja  karena ada kecenderungan mereka lebih sering berinteraksi dengan handphone (HP). “Ini bukan masalah yang bisa dibiarkan terlalu lama. Jangan salahkan jika nanti orang tua kurang berinteraksi dengan anak,” ujar Menteri.

Sebagai kementerian yang mengampu program Pembangunan Keluarga, kondisi remaja saat ini semakin menjadi perhatian Kemendukbangga/BKKBN. “Keluarga  merupakan kunci utama negara. Harapan kita, jika ada yang memiliki anak maka sempatkanlah untuk berinteraksi dengan mereka,” terang Menteri.

Terkait interaksi, menteri sekaligus mengingatkan, jika sedang berbincang dengan remaja kisaran usia 12-18 tahun, jangan tanyakan soal masalah sekolah, carilah topik lain. “Ayo, tingkatkan gerakan ngobrol bareng keluarga,  untuk tercapainya Indonesia Emas 2045. Hidupkan kembali hal-hal yang sekiranya bermanfaat untuk keluarga kita,” ajak menteri Wihaji. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *